Home / SEMESTA / Air Tiga Rasa dari Lereng Muria

Air Tiga Rasa dari Lereng Muria

Saat mampir ke lidah, air yang sama jernihnya itu berbeda rasa. Ada rasa tuak dan soda, tapi ada juga yang biasa, tawar.

 

MATA air itu berada di lereng Gunung Muria, Kudus. Tepatnya di Dukuh Rejenu, Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Sumber air mengalir di bawah makam seorang ulama asal Baghdad, Irak, Syaikh Hasan Sadzali.

Untuk sampai ke lokasi ini, perjalanan dilakukan dengan terus mendaki. Pengunjung akan melalui jalan beraspal yang berkelok dengan lebar hanya 1 meter. Dari Japan, desa terakhir, jarak menuju sumber air sekitar 2 kilometer. Bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau bersepeda motor.

Di sisi jalan terdapat perkebunan kopi, tanaman pakis Muria yang lebat, dan palem pegunungan. Keindahan panorama daerah ini makin memesona dengan guyuran air terjun montel yang mengalir deras.

“Kalau mau naik ke sana, motor harus fit karena jalannya naik dan berkelok,’’ kata Fathur Rahman, warga Dawe, yang sering naik ke makam Syaikh Sadzali.

Sesampai di lokasi sumber air tiga rasa, pengunjung akan menemukan sejumlah warung. Di warung itu biasanya tempat mereka membeli botol plastik untuk menampung air dari sumber air tiga rasa bila ingin membawanya pulang.

Para pemilik warung juga menyediakan minuman hangat dan penganan, teman kala beris tirahat karena lelah berjalan. Biasanya, lokasi ini ramai pe ngunjung pada Jumat dan Minggu, serta hari besar Islam.

Mata air tiga rasa dan Syaikh Hasan adalah sebuah sejarah yang tidak bisa dipisahkan. “Syekh Hasan Sadzali datang ke Gunung Muria untuk menuntut ilmu. Ia datang menemui Kanjeng Sunan Muria,” kata penjaga makam Syaikh Hasan Sadzali, Kunardi, akhir pekan lalu.

Diceritakan, Syaikh Hasan Sadzali menghadap Kanjeng Sunan Muria atau Raden Umar Said untuk berguru. Ia kemudian dianjurkan untuk pergi ke sebelah utara lereng Muria, tepatnya di daerah Rejenu.

Kehadiran Syaikh Hasan Sadzali yang merupakan seorang ulama menarik minat banyak santri untuk berguru. Jumlah santri pun terus bertambah. Karena itu, sang ulama dan penduduk sekitar berinisiatif membangun musala. Tepat di bawah musala itu terdapat sumber air tiga rasa yang dijadikan tempat wudu.

Istilah air tiga rasa berasal dari pernyataan para musafir yang meminum air dari tempat wudu ini. “Para pendatang mengaku tiga sumber air itu mengeluarkan tiga rasa yang berbeda. Yang pertama seperti tuak karena keasamannya tinggi, yang kedua seperti air bersoda, dan yang terakhir berasa air biasa, tawar,” lanjut Kunardi.

Sejak saat itulah masyarakat sekitar Gunung Muria dan para musafir yang singgah menamakannya sumber air tiga rasa.

Tiga rasa ini pun dimitoskan memiliki khasiat yang berbeda. Air dari sumur timur de ngan rasa arak dipercaya bisa membawa kesuksesan untuk usaha. Di tengah, air bersoda berkhasiat menyembuhkan penyakit, dan air tawar dari barat berfaedah meningkatkan kemampuan berpikir, pertahanan diri, dan kedigdayaan.

“Orang banyak yang percaya. Tapi, itu semua adalah usaha. Yang menentukan adalah Allah,” imbuh Kunardi, yang sudah sembilan tahun menjadi penjaga makam. Makam keramat dan mata air tiga rasa biasanya ramai dikunjungi pada Jumat atau Minggu.

Pengunjung makin berlimpah pada 10 Muharam dan pada hari-hari besar Islam.

  

Kurang terurus

Tidak seperti wisata ziarah di wilayah lain, saat berkunjung ke sumber air tiga rasa, kita bisa mereguk beberapa kenikmatan berwisata sekaligus. Ada pemandangan yang asri di sepanjang perjalanan.

Kesejukan udara pegunungan terus menyapa, membuat lelah cepat hilang. Belum lagi hiburan dendang dari burung gunung dan teriakan berbagai satwa hutan yang terus menemani langkah demi langkah.

Seorang peziarah sedang meminum air tiga rasa di lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah. Foto: Efulya

Namun, keriaan perjalanan harus tetap diiringi dengan kehati-hatian. Jalan mendaki yang sempit dan berkelok juga menyimpan bahaya. Saat hujan, jalanan menjadi licin. Beberapa ruas jalan batu itu cepat ditumbuhi lumut.

Pengunjung bermotor harus membawa kendaraan yang kondisinya prima. Atau, lebih baik menggunakan jasa para tukang ojek yang sudah biasa membawa tamu naik ke atas gunung.

Warga Japan, seperti Fathur Rahman, berharap lokasi ini bisa menjadi tujuan wisata unggulan di Kudus. Hanya saja, fasilitas yang ada masih sangat minim. Begitu juga akses yang tergolong masih sulit.

“Perhatian pemerintah kabupaten untuk mengembangkan lokasi ini sebagai objek wisata masih sangat kurang,” tandas Fathur.

Kalau mau, pemerintah bisa membangun objek wisata arung jeram, tracking, atau sarana outbound. Yang lain, kawasan mata air tiga rasa juga bisa dikembangkan sebagai kebun biologi alam. Di lokasi ini banyak ekosistem yang bisa dimanfaatkan untuk penelitian. Selain manfaat edukasi, warga sekitar juga bisa kecipratan rezeki.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Hadi Sucipto tidak menampik keindahan dan potensi objek mata air tiga rasa. Hanya saja, peran yang bisa dilakukan pemkab sebatas mempromosikan.

“Objek di lereng Muria itu pengelolaannya dilakukan oleh Yayasan Makam Syaikh Sadzali. Mereka yang lebih berhak melakukan pengembangan,” pungkas Hadi. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *