Home / PERSONA / Inspirasi / Penjaga Baru Gunung Merapi

Penjaga Baru Gunung Merapi

Putra ketiga Mbah Maridjan ini akan lebih memanfaatkan teknologi demi memahami aktivitas Merapi.

 

SEORANG laki-laki berperawakan kecil, tinggi, dan berkacamata, mempersilakan masuk beberapa wartawan yang datang ke rumahnya di Karangpakis, Wukirsari, Cangkringan, Sleman.

“Saya kadang tinggal di rumah ini, tapi seringnya tinggal ke selter Plosokerep,” katanya sore itu.

Nama lelaki itu Asih. Dia lugu, apa adanya, dan menjawab pertanyaan secukupnya. Asih ialah juru kunci Gunung Merapi yang baru, berpangkat Mas Lurah Suraksosihono,  sebuah pangkat yang diberikan oleh Keraton Ndalem Ngayogyokarto.

Asih, putra ketiga Mbah Maridjan, mendapatkan gelar Mas Lurah Suraksosihono dan menjadi Juru Kunci Merapi. Foto: Efulya

Anak ketiga Mbah Maridjan itu memang resmi menjadi juru kunci Gunung Merapi, setelah diwisuda oleh Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GBPH) Joyokusumo, adik kandung Sultan HB X, pada Senin (4/4) di Bangsal Kesatryan Keraton Ngayogyokarto.

Mendapatkan kepercayaan dari Keraton Ngayogyokarto, sebagai juru kunci Gunung Merapi, bagi Asih, adalah sebuah tugas berat. Karena mengemban amanat dari keraton, tidak bisa dilaksanakan secara sembarangan.

“Saya harus benar-benar melaksanakan amanah itu dengan baik,” kata Asih, yang merupakan generasi ketiga setelah bapaknya, Mbah Maridjan, yang menjadi juru kunci Gunung Merapi.

Karena itu, seusai diwisuda, pertama yang dilakukan bapak dua anak ini adalah mempersiapkan mental. Karena baginya, menjadi juru kunci Gunung Merapi pasti banyak kendala dan cobaan. “Jadi harus tabah dalam menghadapi cobaan,” ucapnya, dengan tatap an datar.

Sejak tahun 1994, Asih sudah mengabdikan dirinya sebagai abdi dalem Keraton Ngayogyokarto. Mulai dari magang, jajar, bekel anom, dan sampai sekarang. Asih memang langsung naik pangkat dua tingkat sekaligus, dari Mas Bekel Anom Suraksosihono menjadi Mas Lurah Suraksosihono.

“Memang sudah dari dulu saya kepengin banget menjadi abdi dalem,” kata Asih yang tidak memperhitungkan berapa ia mendapatkan gaji. Yang penting bagi Asih ialah ikhlas dan berkahnya. “Yang penting barokah dan ikhlas,” imbuh lelaki yang mempunyai istri bernama Mursani ini.

 

Mempersiapkan labuhan

Dalam ruang tamu rumahnya yang berukuran 4×4 meter persegi itu, Asih mengatakan bahwa sebagai seorang juru kunci Gunung Merapi, ia punya tugas utama melaksanakan acara adat Labuhan dari

Keraton Ngayogyokarto, dan menjaga lingkungan serta kelestariannya. Dengan demikian, tugas pertama juru kunci Gunung Merapi yang baru berusia 45 tahun itu adalah melakukan Labuhan Gunung Merapi.

Labuhan Gunung Merapi merupakan rangkaian upacara yang dilaksanakan Keraton Ngayogyokarto Hadiningrat dalam rangka peringatan jumenengan ndalem (naik takhta) Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Upacara Labuhan Gunung Merapi, kata Asih, akan dilakukan pada bulan Juli tahun ini. Berbagai persiapan akan segera ia lakukan, dan yang paling penting baginya, adalah mempersiapkan tempat. “Karena sekarang tempatnya sudah hancur dan rusak,” kata Asih.

Sebagai juru kunci Gunung Merapi, yang menjaga kelestarian gunung, Asih yang juga karyawan administrasi Fakultas MIPA UII Yogyakarta sejak tahun 1996 ini mengaku masih bisa membagi waktunya.

“Kalau aktifnya di UII, tapi UII sepenuhnya mendukung saya sebagai juru kunci Merapi yang baru,” kata Asih, yang mengaku kalau ada acara dari keraton, ia bisa minta izin tidak masuk.

Selain itu, untuk menjaga kelestarian Gunung Merapi, Asih juga menginginkan tempat tinggal yang dekat dengan Merapi. Namun ia tidak tahu pasti, di mana ia akan tinggal.

“Saya kurang tahu pasti mau tinggal di mana, karena status Gunung Merapi juga belum stabil,” kata Asih yang menginginkan rumah tinggal di dekat Merapi.

 

Koordinasi

Asih mengaku akan memadukan cara-cara kearifan lokal dan teknologi dalam melihat situasi Gunung Merapi.

Memang, berbeda dengan bapaknya, Mbah Maridjan, yang lebih condong kepada kearifan lokal. “Kalau saya secara umum saja, yang sudah disediakan oleh pemerintah,” jelas Asih.

Namun, Asih secara umum juga tetap akan menggunakan cara-cara kearifan lokal dalam melihat situasi Merapi. “Secara umumnya ya, dari status suhu yang naik, ada suara gemuruh, Merapi mengeluarkan asap yang mengepul dengan warna kurang jernih atau kecokelatcokelatan,” katanya.

Keraton Ndalem Ngayogyokarto juga meminta Asih untuk mengedepankan keselamatan. “Jadi saya disuruh untuk melihat situasi dan kondisi, kalau Merapi sudah membahayakan, lebih baik turun,” jelas Asih.

Meskipun Asih diminta untuk turun, ia mengaku tidak akan tinggal glanggang colong playu, alias tidak akan meninggalkan tanggung jawab dari kewajibannya sebagai juru kunci Gunung Merapi. Dirinya harus mengajak masyarakat untuk turun. “Paling tidak turun bersama-sama, atau lebih baik turun belakangan,” ujar Asih.

Katanya, juru kunci Gunung Merapi turun bukan karena takut, tapi karena kondisi sudah berbahaya. Itu lebih baik daripada bunuh diri.

Asih, sebagai anak Mbah Maridjan, mengaku tidak menggunakan komunikasi dengan dunia gaib, dalam menjaga Gunung Merapi. “Karena saya tidak tahu, dan tidak pernah diajari oleh Bapak,” katanya.

Karena itu, dirinya akan berkoordinasi dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Karena, menurut Asih, BPPTK mempunyai alat-alat canggih yang sudah disediakan untuk mengawasi Gunung Merapi.

Sebagai penerus Mbah Maridjan, pelajaran paling penting yang didapatkannya adalah berhati-hati dan waspada. “Itulah pelajaran yang saya peroleh dari Bapak,” kenang Asih, tentang Mbah Maridjan.

Gunung Merapi adalah sebuah gunung yang hidup, dan itulah yang dipercayai Mbah Maridjan, sehingga ia bisa berkomunikasi dengannya. Namun Asih, sebagai anak dan penerus Mbah Maridjan, mengaku sampai sekarang, belum ada yang berkomunikasi dengan dirinya. “Sampai sekarang belum ada,” ucap Asih, lalu tersenyum. []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *