Home / PERSONA / Inspirasi / Penyelamat Kapal Kandas

Penyelamat Kapal Kandas

 

Kudus ternyata tidak hanya dikenal dengan hasil kereteknya. Sebagai warisan adiluhung, batik bermotif kapal kandas khas Kudus terus diperkenalkan.

 

SERPIHAN demi serpihan sejarah ia kumpulkan. Ia merangkai dan mengembangkannya hanya untuk melayarkan kembali ‘kapal kandas’ asal Kudus.

Adalah Yuli Astuti, seorang remaja putri yang dengan serius menggeluti kerajinan batik lokal Kudus. Tak hanya membatik, ia juga rajin mengoleksi serta mencari sejarah dan filosofinya, seperti kala ia berburu batik kapal kandas.

“Ribuan tahun silam, Sam Po Kong berlayar melewati kawasan Muria. Namun mendadak kapalnya kandas dan awak kapal bercerai-berai. Ada yang selamat, dan ada juga yang meninggal. Beruntunglah bagi yang selamat, mereka dapat bermukim di lembah Gunung Muria,” cerita Yuli, menirukan cerita sesepuh desa kawasan lereng Gunung Muria, Kudus. Cerita tersebut ia dapatkan saat menelusuri batik kapal kandas.

Di rumahnya, di Desa Karang Malang RT 04/02 No 11, Gebog, Kudus, Jawa Tengah, di ruang tamu yang panjang itu, tampak tumpukan kain batik tertata rapi dalam lemari kaca di pojok ruangan. Di sampingnya ada meja bundar yang di atasnya juga terdapat tumpukan kain batik, tapi ada beberapa lembar yang tidak terlipat dan berserakan.

“Maaf, Mas, berserakan, tadi habis ada kunjungan rutin anak-anak TK yang berlatihmembatik,” kata Yuli, sambil membetulkan beberapa lembar kain batik yang berhamburan di lantai.

 

Optimistis

Syahdan, Yuli sama dengan  kebanyakan perempuan lainnya di Kudus, awam tentang batik. Alih-alih membatik, memegang canting saja dulunya ia tak bisa luwes. Lantas ia beranggapan membatik itu sulit dan tidaklah menarik.

Namun, setelah sedikit demi sedikit memahami batik yang tidak hanya unsur fi siknya, ia buang jauh-jauh perasaan itu. Apalagi saat ia sudah mendapatkan pelatihan tentang membatik.

 

Lalu dari sanalah ia mulai jatuh cinta kepada batik dan tergerak untuk nguri-nguri serpihan sejarah batik kudus. Tanpa buang waktu, pada 2005, Yuli mulai merintis sebuah usaha dan mengoleksi batik.

Tidak cukup di situ, ia bersama kawan-kawannya mencoba untuk menggali dan mencari tentang berbagai jenis batik yang ada di Kudus. “Namun sayang, teman-teman sayaberhenti di tengah jalan,” kenangnya.

Meskipun kini seorang diri menekuni batik kudus, Yuli tak patah arang. Ia mengaku justru termotivasi untuk mempertahankan dan mengembangkan pola-pola batik lokal.

Mulailah digali fi losofi s batik kudus. Hingga Yuli mengaku menemukan salah satu motif batik lokal yang ia favoritkan yakni motif kapal kandas, atau batik dengan gambar kapal yang terbalik.

“Ternyata sangat sulit untuk menggali informasi batik lokal Kudus, terutama kapal kandas,” ucap Yuli.

Kesulitan itu dirasakannya ketika ia mengetahui ternyata orang-orang tua pembatik di Kudus tidak mengerti sejarah dan filosofinya. “Hingga akhirnya saya coba mencarisejarah berikut filosofinya,” imbuh Yuli.

Selama melakukan penelusuran, Yuli tidak hanya mendatangi para tetua di kawasan Kudus, tapi juga mengunjungi pengelola persatuan batik tulis di Semarang dan Yogyakarta, kolektor batik, hingga beberapa pembatik senior di kawasan pesisir di Tuban dan Jakarta.

Tak tanggung-tanggung, ia juga harus mengeluarkan dana paling sedikit Rp60 juta, hanya untuk menebus batik kudus yang sudah kuno dari tangan para kolektor. “Untuk ke Semarang, Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta, saya biasa ditemani sepeda motor,” kenang Yuli.

Akhirnya, perburuan yang melelahkan itu menuai hasil. Serpihan demi serpihan cerita kapal kandas bisa ia kuak. Katanya, batik kudus yang mengambil motif kapal kandas bukanlah pertandakemalangan, melainkan sebuah era baru bagi kehidupan dan kebudayaan di Kudus.

 

Mulai berlayar

Agar tak punah, dalam melestarikan batik kapal kandas, Yuli mencoba mengekspresikan motif kapal kandas dengan paduan nuansa budaya lokal yang menggambarkan potensi alam Gunung Muria.

Mulai dari tetangga, anakanak, dan dewasa, dengan sabar ia ajari cara membatik. Dan untuk menarik hati agar warga mau belajar, Yuli rela merogoh saku. “Mereka saya ajari, dan kalau mau, mereka malah saya kasih duit,” ucap Yuli.

Siasat Yuli itu pun diterima banyak pihak. Sekarang tak hanya memiliki murid dan sekaligus karyawan, Yuli juga memiliki galeri batik yang diberi nama Muria Batik Kudus dan telah terdaftar di HAKI dengan nomor registrasi IDM000197060. Galeri itu memajang serta memasarkan kreasi batik klasik dan kontemporer karyanya.

“Dulu saya mengerjakannya sendirian, sekarang saya punya 14 karyawan pembatik,” kata Yuli sambil menunjukkan beberapa karyawannya yang sedang membatik.

Batik tulis karyanya, de ngan lebar 2-2,5 meter, dijual di kisaran harga Rp150 ribu sampai Rp2 juta. Namun, dari itu semua warga mengenal Yuli, yang dulu tidak bisa membatik, menjadi pembatik terkenal di Kudus. Jadi jangan heran jika Anda mencarinya, pasti dengan mudah warga akan menunjukkan tempat kediaman Yuli.

Sekarang Yuli bisa menikmati hasil kerja kerasnya, dan setiap bulan tidak kurang penghasilan Rp30 juta bisa ia dapatkan dari berjualan batik kreasinya. []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *