Home / PERSONA / Inspirasi / Sang Mekanik Robot Juara Dunia

Sang Mekanik Robot Juara Dunia

 

Setelah sempat bercita-cita  menjadi dokter, ia akhirnya menggeluti dunia robot.  Ahli robot AS pun mengagumi buah  karyanya bersama tim ITB.

 

“PANGGIL saja saya Ashlih,” ucapnya merendah dan ramah saat ditemui di sela-sela perlombaan robot tingkat nasional di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Minggu (12/6). Penampilannya sederhana dan ia tak pelit senyuman.

Ashlih Dameitry salah satu anggota tim robot berkaki dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang pada April lalu menggondol juara satu dalam kompetisi internasional 2011 Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest and Robot Contest and RoboWaiter Competition (TCFFHCRC) di Trinity College Hartford, Connecticut, Amerika Serikat.

Mahasiswa Jurusan Tekni Elektro angkatan 2007 ini mengaku tanpa sengaja mencintai dunia robot. Mungkin, akunya, itu disebabkan sejak kecil ia menyukai mainan yang berbau elektronik, seperti mobil-mobilan Tamiya, dan semua jenis permainan yang dilengkapi remote control.

“Namun, cita-cita saya pada waktu itu ingin menjadi dokter,” kata Ashlih sambil membetulkan letak kacamatanya.

Saat duduk di bangku SMA dan mengambil jurusan IPA, Ashlih semakin matang untuk menjadi insiyur. Ketika masuk kuliah, ia tambah tertarik di bidang elektro. “Meskipun elektro itu luas, ada komunikasi, jaringan, keamanan, saya lebih tertarik pada robot,” imbuh anak ketiga pasangan Anwar Saidin dan Arnetti ini.

Sewaktu masuk kuliah, sejak semester enam Ashlih yang mengaku belum punya pacar sudah mulai mandiri dan tidak terlalu menggantungkan ke-butuhan hidupnya kepada keluarganya. Ia selalu mendapatkan uang hadiah setiap mengikuti perlombaan merakit robot. Selain itu, kini ia mengajar les privat untuk pelajaran kesayangannya, fisika.

 

Optimistis

Dengan berbekal ketertarikannya di dunia robot, Ashlih mengaku tidak hanya sekali ikut dalam perlombaan robot. Perbaikan dan pengembangan robot terus dilakukannya hanya untuk mendapatkan robot yang bisa bergerak halus dan sempurna.

Ashlih Dameitry bersama robot kaki karya timnya. Foto: Efulya

“Saya selalu ingin terus melakukan perbaikan dan pengembangan agar robot lebih halus dan benar-benar bisa diperintah sesuai dengan keinginan kita,” kata Ashlih, yang mengaku mengidolakan robot Asimo (Advanced Step in Innovative Mobility), dari Jepang.

“Dia (Asimo) mirip sekali dengan manusia, cerdas. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana cara membikinnya,” sanjungnya tentang Asimo.

Peran Ashlih dalam  konteks di AS itu terbilang besar. Ia didaulat timnya sebagai juru elektrik atau mekanik fire fighting robot. Dengan rendah hati pun ia mengakui sebenarnya robot dari tim ITB pada 2010 sudah pernah mengikuti lomba serupa di AS.

“Namun, saat itu kami kalah,” kisahnya.

Dengan belajar dari kekalahan tersebut, pada lomba yang diselenggarakan April lalu, Ashlih dan tim ITB yang beranggotakan lima orang berhasil meningkatkan robot mereka.

Sampai-sampai untuk perawatan, ia dan timnya harus mengeluarkan dana sebesar Rp40 juta. “Dana sebesar itu untuk memperbaiki yang lama dan sekalian membikin yang baru,” ceritanya.

Saat di arena lomba, perasaan optimistis akan kemampuan robotnya itu diuji. Meski  mengaku yakin dengan persiapan robotnya yang saat latihan bersama bisa menyesuaikan kondisi dan lingkungan arena, ia sempat waswas juga.

“Robot berkaki kami cukup bagus. Meskipun ada eror, kalau dibandingkan dengan tim lain, (robot) kita sudah yangpaling baik,” ucapnya seraya tersenyum.

Betul, selama perlombaan, robot berkaki dari ITB akhirnya bisa mengalahkan musuh-musuhnya. Dalam tiga kali pertandingan tidak ada kegagalan. Kendati demikian, Ashlih sempat terpukau oleh robot berkaki dari Portugal.

“Teknologinya lebih canggih. Mereka sudah memakai navigasi lewat telepon seluler. Cuma, robot mereka gagal  memadamkan api,” kenangnya.

 

Peran pemerintah

Pria berperawakan tinggi dengan kacamata minusnya ini mengaku bangga dengan prestasi timnya. “Jujur saja, mahasiswa-mahasiswa asal Indonesia sebenarnya banyak yang pintar. Namun, sayang pemerintah kurang mewadahinya dengan sistematis,” ujarnya.

Meskipun pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional sudah memberikan janji beasiswa bagi mahasiswa berprestasi untuk melanjutkan studinya di dalam dan luar negeri,

Ashlih menilai itu tidaklah cukup. Ia tetap berharap agar pemerintah bisa lebih proaktif dengan skema yang jelas untuk ‘mengaryakan’ mahasiswa-mahasiswa unggul asal Indonesia.

“Jangan sampai terulang kejadian para ahli Indonesia di bidang dirgantara dan perkapalan yang disekolahkan oleh negara, malah bekerja di luar negeri,” kata Ashlih. Hal itu, sambungnya disebabkan pemerintah kurang memfasilitasi keahlian mereka.

Pemikiran Ashlih itu sejalan dengan yang pernah dikeluhkan Presiden Ketiga RI BJ Habibi, sebuah kasus yang pernah menimpa bangsa Indonesia. Saat Orde Baru, pemerintah menyekolahkan orang-orang cerdas ke luar negeri untuk belajar dan menjadi insiyur.

Namun, sekarang sebagian besar dari mereka malah bekerja di luar negeri sebagai tenaga ahli bidang pesawat terbang, perkapalan, dan industri strategis lainnya. “Saya hanya berharap, pemerintah benar-benar lebih serius memfasilitasinya.”

Pada kesempatan itu, Ashlih pun menyampaikan cita-citanya untuk mengembangkan keilmuan robot ke arah yang positif karena ia percaya, suatu saat nanti, robot akan menjadi kebutuhan di berbagai aspek kehidupan bahkan setiap rumah seperti komputer dewasa ini.

“Saya selalu berpikir bagaimana robot nantinya bisa memberikan manfaat bagi manusia,” katanya.

Berkat kesungguhan dan keuletan orang seperti Ashlih dan timnya, bangsa Indonesia diakui dunia internasional. Amerika, kata Ashlih, sebagai negara terkuat pun mengakui kecanggihan robot buatan Indonesia.

“Artinya bangsa kita mampu untuk bersaing di kancah internasional,” ucapnya.

Nah, sekarang tinggal pemerintah dan pihak-pihak terkait memfasilitasi dan memacu minat pelajar dan masyarakat Indonesia untuk terus berkarya. “Mungkin dengan mengadakan lomba dan riset robot. Itu akan lebih memacu minat dan pengembangan robot ke arah yang lebih baik,” harap Ashlih kepada pemerintah. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *