Home / LAPORAN KHUSUS / Indepth / Melestarikan Adat Feodal di Zaman Modern

Melestarikan Adat Feodal di Zaman Modern

Warisan kultur Kerajaan Mataram membuat Yogyakarta menjadi hati bagi dunia.

 

PESTA pernikahan the royal wedding di Yogyakarta sudah selesai. Namun, pernikahan yang penuh dengan upacara adat tradisional Jawa yang feodal itu ternyata mampu berasimilasi dengan zaman yang modern ini. Nilai-nilai feodal yang kolot seakan bisa membaur dengan hal-hal yang demokratis.

Pemilihan calon mempelainya sendiri, contohnya. Putri bungsu Raja Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu (GRK) Bendara, dipersunting oleh rakyat jelata. Pemilihan Achmad Ubaidillah, yang merupakan rakyat jelata dari Lampung, menunjukkan bahwa pihak keraton semakin terbuka dan menerima pilihan putrinya untuk menikah dengan orang yang tidak berdarah biru.

Ubaidillah pun mendapat gelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara dua bulan sebelum acara pernikahan berlangsung. Ia pun wajib mengikuti ritual keraton menjelang pernikahan. Ia diharuskan untuk mondok terlebih dahulu di Kompleks Keraton Yogyakarta atau yang disebut nyantri. Nyantri bertujuan agar calon pengantin memahami seluk beluk keraton dan adat istiadatnya.

Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Yudanegara dan Gusti Kanjeng Ratu (GRK) Bendara. Foto: Efulya

Seharusnya proses nyantri dilalui selama 40 hari. “Dulu, nyantri dijalani sekitar 40 hari,” ujar Gusti Bendoro Pangeran Haryo (GPBH) Prabukusumo, adik Sultan HB X. Namun, karena kesibukan Ubaidillah yang bekerja sebagai staf Wakil Presiden RI, waktunya dipersingkat hanya menjadi satu hari.

“Yang penting pakemnya masih tetap ada, dan inti dari nyantri tetap tersampaikan,” jelasnya kemudian.

Masih ada prosesi lain yang menjadi adat istiadat Keraton Yogyakarta. Itu merupakan prosesi pakem yang masih dipegang teguh oleh Keraton Yogyakarta, seperti siraman, tantingan, midodareni, panggih, pondhongan, tompo koyo, dan dhahar klimah.

Siraman atau memandikan pengantin, baik pihak laki-laki maupun perempuan, memiliki tujuan membersihkan diri secara lahir dan batin. Karena keduanya masih merupakan calon suami istri, prosesi siraman dilakukan di dua tempat yang terpisah dan dilakukan oleh istri Sultan HB X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas.

Prosesi itu sendiri memiliki makna falsafah malioboro, dari kata molimo oboro. Artinya, untuk meninggalkan 5 M, yakni madat (candu), main (berjudi), madun (selingkuh), mabok (mabukmabukan), dan maling (mencuri). “Jadi tujuannya supaya kedua pengantin dihindarkan dari hal-hal yang jelek,” ujar Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Yudahadiningrat, salah seorang kerabat keraton.

 

Perubahan

Perubahan-perubahan yang terjadi pada prosesi pernikahan di lingkungan Keraton Yogyakarta diakui oleh guru besar dan sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Djoko Suryo.

“Tradisi Keraton Yogyakarta menyesuaikan zaman, terlebih dalam masa modern. Contohnya prosesi nyantri yang dipersingkat dan disederhanakan,” ujarnya.

Sajian ala Eropa dalam Royal Wedding. Foto: Efulya

Bukan cuma itu, menurut dia, semua prosesi yang ada mengalami variasi. Seperti cara kirabnya, pementasan atau atraksi-atraksi lainnya. “Gaya pernikahan saat ini juga sudah modern, tradisinya dimodernisasi.”

Sajian ala Eropa dalam Royal Wedding. Foto: Efulya

Beberapa menu makanan yang disuguhkan untuk para tamu pun sudah modern. Pihak keraton mendatangkan koki dari Malaysia. Katering disajikan ala Eropa, terutama untuk Presiden Susilo Bambang Yudoyono.

Walau unsur modern masuk, kesakralan tetap tampak sebagai peristiwa budaya yang khas. “Kesakralannya terletak pada pertemuan antara dua manusia yang membangun ikatan keluarga yang diridai Tuhan dan menjadi suami istri yang sah sesuai syariat agama,” ujar Djoko Suryo.

Sementara itu, sejarawan Damarjati Supajar menerangkan bahwa cikal bakal tradisi keraton sekarang ini mengacu pada Panembahan Senopati yang tak lain merupakan raja pertama kerajaan Mataram.

Ia merupakan sosok yang dihormati oleh rakyat karena dianggap menguasai kromo inggil. Kromo inggil yang dimaksud bukan hanya tata bahasa yang sangat halus, melainkan memiliki arti lebih dari itu. “Bahasa kromo itu ada tiga tingkatan, kromo andap, kromo madya, dan kromo inggil. Kromo andap itu hanya bersetubuh tanpa kasih, sementara kromo madya itu bersetubuh dengan penuh kasih sayang. Lalu, kromo inggil, dia menyetubuhi alam.”

Menyetubuhi alam itu dilambangkan dengan memperistri Nyi Roro Kidul, yang dianggap hanya mitos. Hal ini karena Panembahan Senopati dianggap memiliki tingkat ketauhidan yang tinggi sekali. Ia bahkan bisa meninggalkan dunia sebelum meninggal dunia.

“Mataram itu harus muncul revolusi spiritual tapi tanpa huru-hara dan berdarah-darah, termasuk lewat pernikahan ini. Saya sekarang sedang menyimak, apa setelah ini ke tata cara? Kalau berhenti di upacara saja, itu artinya mendukung tradisionalisme, yang artinya iman yang mati. Jadikan hati itu berada di Yogya, kepala di Jakarta. Kalau berhasil, akan tercipta pembentukan karakter. Lama-kelamaan Yogya bisa menjadi hati bagi dunia,” sahutnya. []

Royal Wedding I : Melestarikan Adat Feodal di Zaman Modern

Royal Wedding II : Pesta Rakyat di Kenduri Cinta Keraton

Royal Wedding III : Penghulu Keraton yang Jarang ke Yogya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *