Home / LAPORAN KHUSUS / Indepth / Penghulu Keraton yang Jarang ke Yogya

Penghulu Keraton yang Jarang ke Yogya

 

PAKAIAN putih lengan panjang menutupi kulitnya yang sudah berkerut. Dua pria yang juga berpakaian putih menopang pria tua itu agar tetap bisa berdiri.

Pria berusia 73 tahun ini bernama Dipodiningrat. Dia adalah penghulu Keraton Yogyakarta yang memimpin prosesi ijab kabul putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dengan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara, Selasa (18/10) lalu.

Walau sudah 11 tahun tubuhnya melemah karena terserang stroke, pria bernama asli Suyoto Hadiprayitno ini tetap sabar menunggu mempelai pria di Masjid Panepen, Kompleks Keraton Kilen (barat).

Di sela-sela penantiannya itu, pria kelahiran Sleman, Yogyakarta, 15 September 1938, ini, sempat berbagi kisah. Dia mengatakan diangkat sebagai penghulu keraton oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X pada 1991 dan mendapat gelar Kanjeng Raden Pengulu.

Dipodiningrat. sosok penghulu Keraton Yogyakarta yang memimpin prosesi ijab kabul putri bungsu Sri Sultan Hamengku Buwono X. Foto: Efulya

Ia diangkat menjadi Pengageng I Kawedanan Pengulon untuk menggantikan ayahnya, KH.R. Wardan Diponingrat yang meninggal dunia pada tahun itu. Ketika itu, dia masih berkarier di Jakarta dan bekerja di Kementerian Agama sebagai Direktur Pembinaan Urusan Haji.

Kawedanan Pengulon adalah lembaga khusus Keraton Yogyakarta yang membidangi kepenghuluan. Nama pengulon sen diri diambil dari nama penghulu dalam pelafalan bahasa Jawa.

Secara struktural, kawedanan dipimpin dua pengageng, yakni Dipodiningrat sebagai pengageng I dan wakilnya atau pengageng II, yang kini dijabat oleh Kanjeng Raden Tumenggung Muhsin Kamaludiningrat yang terhitung masih adik ipar Dipodingrat.

Tugas utama pengageng ialah menikahkan anak-anak Sultan. Pernikahan Sultan Hamengku Buwono X dengan GKR Hemas, misalnya, dipimpin oleh Wardan, ayah Kamaludiningrat.

Kamaludiningrat sendiri telah menikahkan dua putri Sultan Hamengku Buwono X, yakni putri pertama, GKR Pembayun, dan adiknya nomor tiga, GKR Maduretno. Adapun Dipodiningrat menikahkan putri Sultan yang kedua, GKR Condrokirono. “Waktu itu (pernikahan putri pertama dan ketiga), saya sedang sakit,” kata Dipodiningrat.

Lelaki yang memiliki jabatan terakhir sebagai staf ahli Menteri Agama untuk urusan hubungan luar negeri pada 1991-1993 ini pernah sekolah di Pendidikan Guru Agama di Jakarta, pada usianya yang ke-15 tahun.

Setamat dari sekolah itu pada 1956, ia melanjutkan pendidikannya di Pendidikan Hakim Islam Negeri di Jakarta dan lulus pada 1957.

Sebagai seorang tokoh agama di lingkungannya, Dipodiningrat mengaku tak pernah mengenyam pendidikan pesantren dalam rentang waktu yang lama.

Namun, pada tahun 1957, dia pernah mengikuti pondok Ramadan selama sebulan di Pondok Pesantren Gontor Ponorogo.

Walau menjabat pengageng pengulu I, hanya sesekali saja ia datang ke Yogyakarta, yakni ketika ada upacara keraton atau kala dipanggil Sultan. Selama di Yogyakarta, bapak empat anak ini tinggal di Kawedanan Pengulon yang terletak tak jauh dari Masjid Kauman Keraton Yog yakarta. “Saya memang tinggal di Jakarta,” katanya.

Walau jabatan pengageng penghulu diperoleh turun-temurun, Dipodiningrat mengaku tidak mempersiapkan anak-anaknya untuk menggantikannya. “Anak pertama saya jadi dokter. Kedua di Indosiar, ketiga di (Kementerian) ESDM, dan yang bungsu di Singapore Airlines,” tutupnya. []

Royal Wedding I : Melestarikan Adat Feodal di Zaman Modern

Royal Wedding II : Pesta Rakyat di Kenduri Cinta Keraton

Royal Wedding III : Penghulu Keraton yang Jarang ke Yogya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *