Home / LAPORAN KHUSUS / Indepth / Pesta Rakyat di Kenduri Cinta Keraton

Pesta Rakyat di Kenduri Cinta Keraton

 

RIBUAN rakyat Yogyakarta terlihat tumpah ruah di Jalan Malioboro, Selasa (18/10) siang. Sekitar pukul 14.00 WIB, orang-orang mulai bergerak menuju jalan sekitar keraton dan kepatihan. Petugas kepolisian bahkan telah memberlakukan jalur buka tutup sejak pukul 13.00 meski kirab baru dijadwalkan berlangsung pada pukul 15.30.

Sejumlah orang sudah mengambil posisi yang paling strategis untuk menikmati kirab. Perjalanan rangkaian kereta yang mengangkut manten dan keluarga keraton itu memang paling ditunggu masyarakat.

“Saya baru tahu kalau ada pernikah an anak sultan setelah di sini. Kebetulan, saya ada seminar soal kebencanaan yang diadakan di hotel dekat sini. Saya putuskan ke sini karena ingin tahu. Enggak nyangka kalau sepadat ini,” sahut Dwi, seorang pegawai BPPT yang berdomisili di Jakarta, siang itu.

Keceriaan rakyat bukan hanya terlihat saat Gusti Kanjeng Ratu Bendara dengan Kanjeng Pangeran Haryo Yudanegara melintas dengan menggunakan kereta Kanjeng Kyai Rejopawoka, atau dikenal sebagai Kereta Kanjeng Kyai Jongwiyat. Kesibukan rakyat untuk pesta pernikahan itu pun terlihat pada hari-hari sebelumnya.

Pada Senin (17/10), sejumlah orang sibuk memasang janur di pinggir jalan. “Kalau yang punya gawe itu sultan, enggak usah diminta, udah datang sendiri. Seperti hasil bumi yang dipakai untuk perhelatan itu datang dari mana-mana,” ujar Haryo sembari mengawasi pekerjanya memasang janur di Jalan Trikora.

Sisi lain Kota Yogyakarta juga tak kalah hebohnya. Pelataran Monumen Serangan Umum 1 Maret menjadi tempat berkumpulnya kerumunan. Panggung sederhana diletakkan di bawah patung monumen. Acara malam itu adalah malam sastra Malioboro yang diselenggarakan oleh Paguyuban Sastrawan Mataram. Jika biasanya mereka menggelar acara pada minggu pertama, panitia sengaja menggeser agenda pada malam sebelum ijab kabul.

“Ini bagian dari pesta rakyat. Pesta rakyat itu yang penting menggalang partisipasi masyarakat,” jelas Ketua Paguyuban Sastrawan Mataram Sigit Susilo.

Keterlibatannya bahkan tanpa bayaran alias gratis. “Kalau diukur secara materi, ini sudah luar biasa. Tapi, ini gratis. Artinya, mereka yang tidak dibayar itu membuat acara ini menjadi tak ternilai. Bentuk kecintaan kami pada keraton,” sahut Sigit.

Bukan cuma acara. Warga Yogyakarta pun dijamu makanan angkringan yang disediakan. Pada Senin (17/10), disediakan 75 angkringan. Adapun pada Selasa (18/10), disediakan 182 gerobak angkringan di area Bangsal Kepatihan dan sepanjang Malioboro.

“Angkringan itu merupakan swadaya masyarakat untuk ikut berbahagia dan merayakan pernikahan putri Sultan,” kata Ketua Sekretariat Bersama Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra.

Angkringan yang menyajikan nasi kucing, tempe dan tahu goreng, tempe dan tahu bacem, pisang rebus dan goreng, serta minuman jahe, susu, kopi, teh, dan jeruk itu tampak dipadati warga dari berbagai usia.

Semua angkringan dipenuhi warga mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa yang ingin menikmati sajian tersebut. “Kami sungguh senang bisa menikmati berbagai makanan dan minuman secara gratis. Jika tidak ada pernikahan putri Sultan, kami tidak mungkin bisa menikmati sajian itu secara cuma-cuma,” kata Sunardi, 48, warga Sendangtirto, Berbah, Sleman, DIY. []

Royal Wedding I : Melestarikan Adat Feodal di Zaman Modern

Royal Wedding II : Pesta Rakyat di Kenduri Cinta Keraton

Royal Wedding III : Penghulu Keraton yang Jarang ke Yogya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *