Home / STORIA / Ekonomi / Terbang Melanglang hingga Suriah

Terbang Melanglang hingga Suriah

Proses panjang harus dilalui untuk menghasilkan suara yang terbaik. Tanpa sentuhan mesin dan manajemen modern, terbang Troso sudah mendunia.

 

PUNG… pung…. Suara empuk itu terasa sejuk di telinga. Sumbernya berasal  dari salah satu rumah di Desa Troso, Kecamatan Pacangaan, Kabupaten Jepara.

Di dalam rumah, Nuruddin, 45, tengah memegangi sebuah terbang (rebana). Sesekali ia menjentikkan jari-jari tangannya ke permukaan kulit terbang. Nuruddin berusaha mengikuti irama sebuah lagu kasidah. Tanpa pendamping, suara terbang solo itu ternyata tetap enak terdengar. Jernih.

Desa Troso merupakan salah satu sentra kerajinan terbang di Jawa Tengah. Terbang adalah alat musik tradisional yang biasa dimainkan para santri untuk mengiringi solawat.

Alatnya terbuat dari kayu dan kulit hewan. Kulit kambing dipilih karena teksturnya mampu menghasilkan suara khas.

Desa Troso sebagai sentra terbang sudah cukup dikenal. Produksinya sudah banyak dikirim ke seantero Nusantara. Rebana Troso bahkan juga melanglang ke sejumlah negara di Timur Tengah.

“Terbang kamibanyak yang dikirim ke Papua dan Kalimantan. Ke Timur Tengah, kami beberapa kali mengirim ke Syria (Suriah),” tutur Mufaidah, 40, istri Nuruddin.

Mufaidah dan Nuruddin ialah satu dari puluhan perajin terbang di Troso. Mereka keturunan ketiga penerus usaha kerajinan terbang bermerek Muhsin.

Terbang Muhsin juga sudah sangat dikenal para seniman penabuh rebana. Siang itu, misalnya, Shoim Musthofa, pria asal Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, tengah menunggu pesanannya di rumah Mufaidah.

“Saya sudah lima tahun lebih menjadi pelanggan terbang Muhsin. Suaranya khas, enak di telinga dan stabil,” kata pelatih terbang itu.

Bentuk alat musik itu bisa jadi memang sederhana. Bulat dan ada bentangan kulit di atasnya. Namun, cara membuatnya ternyata tidak sesederhana bentuknya. Ada proses yang harus dilalui, yang membutuhkan ketelatenan dan ketelitian, untuk mendapatkan suara terbang yang jernih, khas, tapi empuk.

Proses awal dimulai dari pemilihan kulit, berlanjut ke penyamakan, pengeringan, hingga proses yang disebut pemangkisan.

Selain kulit, bahan lain berupa kayu harus disiapkan untuk pembuatan bentuk terbang. Pekerjaan itu dilakukan dengan tangan, tanpa ada campur tangan mesin. Biasanya, pemilik tangan terampil itu ialah kaum perempuan atau ibu-ibu.

Kayu-kayu yang sudah terbentuk diampelas hingga halus. Setelah itu, kayu dibubuhi cat sebagai pewarna.

 

Kulit terbaik

Nuruddin yang ahli pemroses kulit sudah biasa mengimbangi kerja para perempuan. Dengan memakai seragam lengkap, sarung tangan, dan sepatu antiair setinggi lutut, ia harus mengaduk air yang berwarna putih susu bercampur kulit kambing.

Seorang pembeli sedang menjajal suara terbang yang akan dibelinya. Foto: Efulya

Proses penyamakan selalu diwarnai terciumnya bau anyir menyengat. Aroma makin tidak sedap karena bercampur bau kotoran kambing. “Kalau sudah biasa, ya, nggak terasa,” kata Nuruddin, sambil menyeka keringat di dahinya.

Selesai disamak, kulit harus dibentangkan dan dijemur di bawah terik matahari sampai kering. Hanya matahari yang digunakan Nuruddin untuk mengeringkan kulit karena ia percaya hasilnya akan lebih baik.

Nuruddin dan Mufaidah memilih kulit kambing bagian punggung untuk terbang produk mereka. Mereka juga menggunakan kulit yang tebal. Terbang Muhsin juga khas karena satu lembar kulit hanya digunakan untuk dua terbang.

“Meskipun lebar, kita hanya memakainya dua kali. Ini sudah menjadi ciri khas terbang buatan kami, yang dirintis kakek sejak pertama berdiri,” kata Nuruddin.

Kulit yang sudah kering itu dipotong sesuai dengan ukuran terbang. Lembaran tipis itu dipasang di kayu terbang dengan cara dipres dengan alat penjepit. Itu proses dipangkisi.

Proses itu butuh waktu cukup lama. Perajin harus menyesuaikan lingkar kayu dengan kulit yang ada sehingga terbang mendapatkan bentuk terbaik.

Di Troso, kebanyakan perajin membuat terbang berdasar pesanan. Mereka tidak pernah membuat stok. “Melayani pesanan saja kita sudah kewalahan,” tandas Mufaidah. Biasanya, untuk pemesanan satu perangkat terbang lengkap dibutuhkan waktu paling cepat tiga minggu.

Perangkat terbang memiliki beberapa ukuran. Yang paling kecil berdiameter 26 sentimeter dan yang paling besar 35 sentimeter.

Harganya bervariasi, sesuai dengan ukuran. Harga terbang dengan diameter 30 cm per set atau empat terbang mencapai Rp960 ribu. Harga terbang dengan ukuran lebih kecil lebih murah dan yang lebih besar tentu saja lebih mahal.

“Setiap bulan, satu rumah perajin bisa menghasilkan 100 set lebih,” tutur Mufaidah.

Soal manajemen, tidak satu pun perajin yang menerapkan metode modern. Tidak ada pembukuan karena hitung-hitungan arus kas hanya ada di kepala pemilik usaha kerajinan.

“Bagi kami, yang penting tetap menjaga kualitas terbang. Kami ingin menghasilkan terbang yang baik, kuat, meski waktu pembuatannya lebih lama. Buat apa proses cepat, tapi suaranya tidak bagus?” tandasnya. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *