Home / STORIA / Humaniora / Nikmati Keretek tanpa Asap

Nikmati Keretek tanpa Asap

Museum Kretek bercerita bahwa kejayaan pernah datang ke kota kecil ini. Dari Kudus, kabar kehebatan tokoh rokok tersiar hingga daratan Asia.

 

HADI Sucipto belum lupa bagaimana rasa bangga sangat bergelora di dadanya, September tahun  lalu. Hajatan Pameran Keanekaragaman Koleksi Museum dan Arsip yang digelar di Museum Kretek Kudus kala itu berlangsung sukses dan lancar.

Kesuksesan itu bukan hanya karena banyak warga yang mau hadir. Yang juga membuat dia bangga  ialah mengalirnya dukungan dari museum lain di Jawa Tengah dan Yogyakarta, seperti Museum Ronggowarsito; PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko; Arsip dan Perpustakaan Jawa Tengah; serta Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Kepada para koleganya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, Jawa Tengah, itu bercerita panjang lebar tentang Museum Kretek Kudus. “Museum ini tidak hanya menyimpan benda bersejarah. Kami terus berbenah dan memadukannya dengan fasilitas hiburan lain seperti minimovie, water boom, dan fasilitas bermain lain,” kata dia.

Hadi bukan satu-satunya warga Kudus yang bangga dengan Museum Kretek. Wajar saja, karena di Indonesia, itu satu-satunya museum yang mampu bercerita secara lengkap soal perjalanan rokok.

Museum Kretek Kudus diresmikan pada 3 Oktober 1986 oleh Soepardjo Rustam, Gubernur Jawa Tengah saat itu. Di Jalan Getas Pejaten, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, gedung penyimpan benda bersejarah itu didirikan di atas tanah seluas 4,5 hektare.

Di sana tersimpan sejarah peradaban keretek, mulai proses produksi dengan alat sederhana dan masih sangat manual hingga penggunaan perangkat canggih dan serba modern.

“Museum ini dibangun atas keinginan masyarakat, sebagai tanda bahwa Kudus adalah kota keretek di Indonesia,” kata Suyanto, Kepala Museum Kretek Kudus, pekan lalu.

Pembangunan museum, oleh sang gubernur, dipandang sangat perlu. “Untuk mengumpulkan se-jarah keretek di Indonesia,” kata Soepardjo saat meresmikan museum, seperti yang diingat Suyanto.

Waktu untuk membangun museum tidak pendek. Museum itu dirintis mulai 1980, enam tahun kemudian pembangunannya baru rampung.

“Gubernur minta agar Kudus membuat museum karena daerah ini sudah memulai pembuatan rokok keretek sejak 1906. Itu sejarah yang patut diingat anak cucu,” sambung Suyanto.

 

Nitisemito

Peletak sejarah keretek di Kudus adalah Nitisemito. Ia tercatat sebagai tokoh rokok berpengaruh di kota itu dan telah dikenal di dunia internasional. “Ia adalah pionir produsen rokok keretek,” kata Suyanto.

Karena sejarah juga, Museum Kretek Kudus meletakkan posisi peninggalan sang maestro di tempat yang layak. Sosok tuanya yang terekam dalam gambar dibalut pigura indah dan diletakkan di sisi kiri depan museum.

Dalam gambar, Nitisemito berpakaian ala bangsawan. Ia tidak terlalu angker, bahkan terkesansangat sederhana. Keretek memang bukan temuan  Nitisemito. Namun, suami Nasilah itu tercatat sebagai tokoh yang mampu membuat gebrakan dengan membangun sebuah pabrik rokok besar, bernama Bal Tiga.

Pada 1918, ia tercatat sudah memiliki karyawan sebanyak 10 ribu orang. Saat itulah nama Nitisemito dan pabriknya dikenal di Asia.

Karena torehan besarnya, sayap kiri Museum Kretek Kudus seperti dipersembahkan untuk Nitisemito. Di sana, banyak catatan sejarah tentang Bal Tiga terpampang. Ada foto pabrik, kendaraan untuk mendistribusikan rokok, dan foto para buruh yang tengah bekerja di Bal Tiga.

Yang lain, masih ada beberapa barang peninggalan Nitisemito. Di antaranya, jam dinding klasik, pulpen, dan beberapa alat kerja sang juragan rokok.

Di Kudus, sejarah rokok tidak hanya diisi Nitisemito seorang. Setidaknya ada 10 tokoh lain yang punya peran besar. Foto merekajuga terpampang di tembok tengah museum. Mereka adalah M Atmowo djojo, pendiri rokok Goenoeng Kedoe (1910); Tjoa Khang Hay, pendiri rokok NV Trio (1912); H Ali Asikin, pendiri rokok Djangkar (1918); H Ashadi, pendiri rokok Delima (1918); HM Moeslich, pendiri rokok Teboe dan Tjengkeh (1919); M Sirin Atmo, pendiri rokok Garbis dan Manggis (1922). Empat tokoh lain yang mulai memodernisasi pabrik dan bertahan hingga kini adalah Koo Djee Siang, pendiri rokok Nojorono (1932); HA Ma’ruf, pendiri rokok Djambu Bol (1937); MC Wartono, pendiri rokok Sukun (1948); dan Oei Wie Gwan, pendiri pabrik rokok Djarum (1951).

Untuk melengkapi pengetahuan pengunjung, museum juga memajang diorama proses pembuatan rokok secara manual dan tradisional. Dalam kaca yang berukuran sekitar 7×5 meter itu, terdapat miniatur para petani yang sedang bekerja membuat rokok lintingan.

Diorama proses pembuatan rokok secara dan tradisional, terpajang di Museum Keretek Kudus. Foto: Efulya

Gambar lain memperlihatkan petani memanen jagung dengan latar belakang pegunungan dan persawahan. Kulit jagung itulah yang kemudian dipakai sebagai kelobot, pembungkus tembakau.

Pekerja lain terlihat merajang tembakau serta cengkih dan menjemurnya. Semua kegiatan itu dilakukan dengan alat sederhana, dari kayu atau bambu.

Mereka mengerjakannya dengan tekun dan penuh kebersamaan. Kesederhanaan dan kebersamaan itu sudah langka di era serbamodern ini.

 

Promosi Modern di Era Kelobot

Tembakau dengan mudah dapat ditemukan di banyak tempat di negeri ini. Namun tembakau berumur ratusan tahun sepertinya hanya ada di Museum Kretek Kudus.

Namun, keberadaan tembakau langka tersebut mungkin tidak akan bertahan lama. Rajangan daun berwarna cokelat itu mulai lapuk dimakan usia.

“Kesulitan kami untuk merawat koleksi sejarah ialah kurang memadainya alat pengatur suhu ruangan. Koleksi di sini sebagian besar terbuat dari kertas, yang rontok kalau kepanasan,” tutur kepala museum, Suyanto.

Seperti museum lain, persoalan klise yang dihadapi Museum Kretek ialah dana. “Sarana dan prasarana cukup. Tenaga kerja yang ada juga sudah cukup mumpuni,” sambungnya.

Di tengah keterbatasan itu, para pegawai museum terus bekerja dengan rasa bangga yang besar. Di tangan mereka sejumlah barang bersejarah diharapkan bisa terus menceritakan teladan kehidupan di masa lampau.

Museum Kretek Sekitar 400 bungkus rokok terpajang di Museum Keretek Kudus. Bungkus ini sudah langka, karena sebagian besar pabriknya sudah tidak beroperasi. Foto: Efulya

Salah satunya ialah alat-alat promosi yang sudah digunakan para pemilik pabrik rokok di masa lampau. Bentuknya berupa jam dinding kuno yang sudah menggunakan logo merek rokok. Yang lain ialah guci cantik asal China dan mobil yang juga bercap pabrik rokok.

Cara beriklan yang sampai sekarang juga tetap dilakukan banyak produsen sering kali dilakukan pabrik rokok Bal Tiga. Perusahaan itu dinakhodai Nitisemito, tokoh besar rokok keretek dari Kudus.

Kejayaan rokok di Kudus juga dicatat dalam bentuk koleksi bungkus rokok. Museum Kretek menyimpan tidak kurang dari 400 bungkus rokok. Bungkus itu terbilang langka karena sebagian besar pabriknya sudah tidak ada.

“Museum Kretek Kudus akan memberikan pelajaran berharga bagi pengunjung, karena menyuguhkan evolusi peradaban rokok keretek di Indonesia, khususnya di Kudus. Di sini juga terekam etos kerja yang luar biasa dari Nitisemito, maestro rokok keretek,” kata Suyanto, berpromosi. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *