Home / STORIA / Humaniora / Warisan Yang Terbengkalai

Warisan Yang Terbengkalai

Belum banyak mata tertuju kepada Situs Patiayam. Fosil dibiarkan telantar.

 

GAYA bicara Siswanto terkesan sangat tenang. Namun, ketika mengomentari keberadaan Situs Patiayam, wajah Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta itu langsung merona, bersemangat.

Ia pun terus meyakinkan lawan bicaranya bahwa Patiayam merupakan situs penting bagi Indonesia. “Patiayam penting karena menyimpan bukti sejarah kehidupan fauna. Ini situs yang langka di Indonesia,” kata Siswanto.

Situs Patiayam berada di Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Di sana tersimpan ribuan fosil bukti sejarah kehidupan purbakala. Sebagian besar fosil  fauna, tapi beberapa potongan kerangka Homo erectus juga  pernah ditemukan.

Patiayam merupakan bagian perbukitan dari Gunung Muria. Luasnya sekitar 2.902,2 hektare. Sebarannya melingkupi dua kabupaten, yakni wilayah Kecamatan Jekulo, Kudus, dan sejumlah kecamatan di Kabupaten Pati.

Yahdi Zaim, geolog dari Institut Teknologi Bandung, pernah meneliti situs tersebut pada 1970. Hasilnya, ia menyimpulkan batuan di Bukit Patiayam berumur antara 700 ribu tahun dan 1 juta tahun. Rentang itu disebut masa pleistosen. Umur yang sama juga berlaku untuk temuan fosil vertebrata (hewan bertulang belakang) dan manusia purba (Homo erectus).

Balai Arkeologi Yogyakarta pun berhasil menemukan ribuan fosil bukti kehidupan purbakala di Situs Patiayam. Tak kurang dari 2.383 keping fosil sudah dikumpulkan.

Dari jumlah tersebut, baru 1.234 buah yang sudah diidentifikasi, jenis fauna dan bebatuannya. “Ribuan lainnya belum bisa diidentifi kasi,” kata Sunardi, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Yang sudah teridentifikasi, imbuh Siswanto, terdiri dari Bovidae (banteng, kerbau), Corvidae (rusa, kijang), Chelonidae (kura-kura), Crocodilis (buaya), Elephantidae (gajah), Felidae (macan, harimau), Rhinocerotidae (badak), Stegodon (gajah purba), Suidae (babi hutan), Tersunidae tridacna (kerang laut), dan Hipopotamidae (kuda nil).

“Masih banyak bukti kehidupan purbakala di Situs Patiayam yang belum digali,” katanya.

Namun, kekayaan Patiayam ternyata belum mendapat perhatian pemerintah. Itu sangat berbeda dengan Situs Sangiran di Sragen, Jawa Tengah, yang sudah memiliki museum indah plus terus diguyur miliaran rupiah untuk melestarikannya.

Bukti sejarah kepurbakalaan Situs Patiayam masih berserakan. Alih-alih ditata apik dalam sebuah museum, ditata menjadi kerangka fosil yang utuh juga tidak dilakukan.

Suprapto, Ketua Forum Pelestari Situs Patiayam, mengakui hal itu. “Temuan fosil disimpan di tiga tempat dengan kondisi yang memprihatinkan.”

 

Tidak dibayar

Ketiga lokasi itu ialah Balai Desa Terban, bekas Kantor Kawedanan Tenggeles atau yang sekarang museum daerah, serta Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus.

Di Terban, fosil disimpan di depan balai desa. Ruangannya hanya 7×5 meter. “Ruangan ini dulunya tempat berkegiatan posyandu warga,” kata Sudarjo, juru pelihara Situs Patiayam.

Ada satu kotak kaca yang memajang gading Stegodon. Tiga kotak kaca lain menyimpan tulang kaki gajah dan serpihan gigi ikan hiu. Masih di ruangan yang sama, ada rak tiga tingkat. Di sana terpajang gading yang terlihat sudah lapuk karena berada dekat jendela dan selalu terkena terik matahari.

Serpihan fosil lain berserakan di lantai. Ada juga yang berada di atas meja, terhampar begitu saja. “Tidak ada katalog untuk memberi informasi kepada pengunjung. Saya juga tidak bisa memberikan banyak penjelasan,” aku Sudarjo.

Saat anak-anak sekolah datang, ruangan sempit itu tidak mampu menampung mereka. Pengunjung harus berdesak-desakan.

Pun di Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus, fosil tergeletak di lantai. Ada juga yang dimasukkan ke karung. “Ini fosil yang belum teridentifikasi,” kata Sunardi, sang kepala bidang kebudayaan.

Yang paling memprihatinkan ialah ruang penyimpanan di museum daerah. Selain sepi, tempat ini kotor layaknya rumah tidak bertuan. Untuk menemui penjaga museum pun, harus terlebih dahulu bertanya kepada beberapa warga.

Kondisi fosil Situs Patiayam yang terletak di museum daerah luput dari perhatian. Foto: Efulya

Lokasi museum berada di pinggir Jalan Raya Kudus-Pati Km 8. Di dalam ruangan terlihat genangan air bekas hujan. Meja dan kursi yang ada sudah berdebu. Sejumlah kotak kaca pamer yang menyimpan gading gajah purba sudah tidak terlihat karena tertutup debu.

Di ruangan lain, ada beberapa kaca etalase yang sudah pecah. “Ya seperti ini kondisi museumnya,” kata Siswanto, penjaga museum, pasrah.

Tidak hanya museum yang dibiarkan telantar. Siswanto pun mengaku sudah lebih dari satu tahun tidak menerima upah. Alasan itu yang membuat dia enggan merawat museum.

“Mending saya bekerja sebagai buruh sawah daripada di sini tapi tidak pernah dibayar,” tegas Siswanto.

 

 

Bangun Rumah Fosil

Masalah klise membuat fosil yang ditemukan di Situs Patiayam belum terlestarikan. Tidak ada dana sehingga perawatan dan pelayanan untuk masyarakat yang datang ke situs itu belum bisa dilakukan.

Pengakuan itu dilontarkan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Hadi Sucipto, pekan lalu. “Kami belum bisa membuat museum atau rumah fosil. Karena itu, kami belum bisa melayani masyarakat dengan baik.”

Kendala untuk merawat Situs Patiayam, kata dia, ialah belum ada tempat yang representatif. Akibatnya, banyak fosil masih berserakan di banyak tempat.

Suprapto, Ketua Forum Pelestari Situs Patiayam, mengkritisi pemerintah kabupaten, yang ia nilai tidak memperhatikan pentingnya keberadaan situs. “Mereka setengah-setengah dalam memikirkan Situs Patiayam.”

Seharusnya, lanjut dia, pemerintah kabupaten dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kudus menganggarkan perawatan fosil yang sudah ditemukan. Bahkan, untuk sekadar berdialog menyoal perkembangan situs pun tidak pernah dilakukan.

Hadi Sucipto tidak mau berpolemik panjang. “Masalah dana menjadi faktor utama,” katanya dengan singkat.

Suprapto mengakui fosil memang tidak dibiarkan kehujanan dan kepanasan di ruang terbuka. Akan tetapi sekalipun disimpan di balai desa, museum, dan kantor dinas, perlakuan terhadap benda purbakala itu nyaris semena-mena.

Tidak ada perawatan, bahkan untuk menyimpan pun hanya ditempatkan pada ruang ala kadarnya saja. “Semua terbengkalai. Apalagi yang di kantor dinas, hanya dimasukkan ke karung,” kata Suprapto.

Keprihatinan senada juga dilontarkan Marwan, dari Komunitas Gerombolan Pemburu Batu (Bol Brutu). “Harus ada tindakan secepatnya untuk membangun ruang yang layak bagi temuan dari Situs Patiayam.”

Harapan itu sepertinya akan terwujud tahun ini. Hadi Sucipto membawa kabar bahwa DPRD sudah setuju menggelontorkan dana sebesar Rp856 juta dari APBD. Rp500 juta di antaranya untuk pembangunan rumah fosil dan Rp356 untuk kesejahteraan juru pelihara. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *