Home / STORIA / Ekonomi / Wangi Eropa dari Lereng Muria

Wangi Eropa dari Lereng Muria

Tangan warga desa mengubah kesederhanaan menjadi barang mewah. Asiri dibuat dengan keringat dan ketekunan petani.

 

ASAP putih tipis kehitaman mengepul ke angkasa. Di lereng Gunung Muria, Kudus, Jawa Tengah, dia bersanding bersama kabut dingin yang menyeruak setiap pagi.

Tidak ada kebakaran hutan atau lahan di Muria. Asap berasal dari cerobong ketel besar peranti penyulingan minyak asiri.

Kepulan seperti itu hanya dapat ditemui di Dusun Kambangan, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus. Itu dusun terakhir di ketinggian gunung. Jaraknya juga paling jauh dari pusat kota.

Kambangan dikenal sebagai penghasil minyak asiri (aetheric oil) atau disebut juga essential oil. Sebuah cairan pekat yang dipakai untuk bahan campuran minyak. Asiri tidak larut air dan mengandung senyawasenyawa beraroma. Ia bisa berasal dari berbagai tanaman dan salah satunya ialah nilam.

Lembapnya udara di lereng Gunung Muria, plus iklim tropis khas pegunungan, membuat pohon nilam (Pogostemon cablin) tumbuh subur. Para petani menanamnya sebagai penghasilan utama.

Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Kudus mencatat di Kambangan sekitar 97 hektare lahan ditanami nilam. Seluruh warga sudah bertahun-tahun menekuninya. “Hampir 90% warga di sini menanam nilam,” ujar Ma’ruf, warga Kambangan.

Pria itulah pemilik pabrik penyulingan. Ma’ruf juga yang memelopori produksi minyak asiri di Kambangan. Ia memulainya pada 2009. Saat ini, selain yang dimilikinya, masih ada satu lagi lokasi penyulingan di dusun tersebut.

Banyaknya warga yang menanam nilam bisa terlihat dari halaman rumah mereka. Di hampir semua pekarangan rumah terlihat hamparan potongan nilam, mulai bunga, daun, hingga batangnya.

Ma’ruf mengatakan petugas dinas pertanian yang sering datang ke kampungnya memberikan informasi nilam tergolong penghasil minyak asiri yang paling baik. Aromanya sangat kuat.

Kabarnya, sepertiga produk parfum di dunia memakai minyak itu. Bagi orang Eropa, aroma minyak nilam dinilai sangat mewah dan khas. Aroma khas itulah yang tercium saat orang memasuki Dusun Kambangan.

Di mana pabrik penyulingan asiri? Pertanyaan itu dengan enteng dijawab seorang pria di ujung jalan desa, “Ikuti saja bau ini. Pasti sampeyan nanti sampai ke tempat penyulingan.”

Pabrik penyulingan milik Ma’ruf jauh dari gambaran sebuah industri yang modern. Sang pemilik membangun pabrik dengan atap genting tanah di pinggir jalan setapak. Bangunan berbentuk kotak dengan ukuran 10 x 7 meter.

Tidak ada tembok kukuh yang tinggi sebagai pembatas. Bahan bangunan didominasi kayu dan gedek.

Di dalam ruangan, hanya ada satu ketel besar. Puluhan karung berisi daun nilam memenuhi pabrik berlantai tanah itu.

Ma’ruf mempekerjakan dua pria untuk menyuling nilam. Huda, seorang pria muda, terlihat sigap menaiki tangga untuk mencapai bibir ketel. Tangannya sangat terampil menata daun nilam. Pria lain yang lebih tua, Nasran, kebagian memasukkan bahan bakar kayu ke tungku untuk memulai pembakaran.

Tidak lama kemudian, Nasran menyusul naik ke dekat ketel. Keduanya bersama-sama memasang penutup ketel. “Harus dilakukan berbarengan. Kalau tidak, nanti ada udara yang bisa masuk atau keluar,” kata Nasran.

Ketel di pabrik Ma’ruf bisa memuat 100 kilogram daun nilam sekali proses. Satu kali memasak membutuhkan waktu maksimal 7 jam.

Sehari-hari, Ma’ruf hanya mempekerjakan Huda dan Nasran. Mereka sudah dua tahun bekerja di sana.

Namun, saat panen raya nilam, Ma’ruf harus menambah pekerja. “Bisa sampai 10 orang yang be kerja dengan sistem borongan. Tugas mereka memotong-motong daun nilam,” kata Ma’ruf.

Minyak asiri dari Kambangan dihargai cukup mahal. Saat situasi di Eropa tidak terguncang oleh krisis ekonomi, Ma’ruf bisa menjualnya sebesar Rp600 ribu-Rp800 ribu per kilogram.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir, guncangan di Eropa membuat harga asiri merosot. Ma’ruf hanya bisa melegonya dengan harga Rp280 ribu per kilogram.

Volume produksi asiri pun tidak tetap. Saat petani banyak memanen nilam, dalam satu bulan, pabrik penyulingan itu bisa menghasilkan 50 kilogram minyak. Namun, saat panen berkurang, produksi paling banyak berkisar 30 kilogram.

Asiri bisa jadi merupakan barang mewah. Ia berharga mahal dan dipakai kaum berkantong tebal di Eropa sana. Namun, siapa sangka kemewahan itu dihasilkan dari pabrik sederhana, dari tangan petani yang hidup sangat bersahaja. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *