Home / STORIA / Humaniora / Sugini Ngidam Jembatan

Sugini Ngidam Jembatan

Warga memberanikan diri menyeberangi sungai karena terpaksa. Ancaman bahaya mereka abaikan.

 

DUA tangan Abdul Hamid, 48, gesit menggerakkan bambu panjang yang ia pegang. Di atas Sungai Wulan, getek miliknya maju perlahan. Kekuatan bahu pria itu mampu menarik maju sampan kecil, dengan bantuan bambu sebagai tuas pengungkitnya. Itu bukan perkara ringan, karena di atas getek, pagi itu, ada 30 penumpang. Mereka berdiri berimpitan.

“Dua kali sehari saya naik getek untuk menyeberang dan pulang. Sudah puluhan tahun kami menjalani cara ini,” kata Sugini, 45, salah satu perempuan yang menggunakan jasa getek.

Sugini dan Hamid ialah dua dari ribuan warga yang sangat akrab dengan Sungai Wulan. Aliran sungai itu memotong dua kabupaten di Jawa Tengah, Kudus dan Demak. Perbatasan itu meliputi Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, dan Desa Kedungwaru Lor, Kecamatan Karanganyar, yang berada di teritori Kabupaten Demak.

Oleh karena itu, jasa penyeberangan dengan getek terlihat sangat sibuk saban hari. Pada jam-jam tertentu, seperti pukul 05.00 WIB, pukul 11.30, dan setelah zuhur atau menjelang asar, warga harus mengantre. Getek pun bisa bolak-balik sampai 15 kali lebih. Sekali menyeberang, kendaraan kecil itu mampu mengangkut 30 orang—penumpang harus berdiri.

“Pada jam sibuk, setiap hari ada 14 mobil pikap yang mengantar sampai ke tepi sungai. Kebanyakan mereka buruh asal Demak,” kata Abdul Hamid, yang tinggal di Setrokalangan.

Jumlah itu, menurut perhitungan Kepala Desa Setrokalangan Mursidi, masih terhitung sedikit. “Sehari bisa ribuan orang yang menyeberang dari dan ke Kudus-Demak.”

Jalur alternatif tersebut sudah menjadi jalur utama yang murah dan cepat. Yang aktif menyeberang ialah warga Demak. Kebanyakan berasal dari Kecamatan Karanganyar, di antaranya dari Desa Kedungwaru Kidul, Kedungwaru Lor, Tugu Lor, Bandung Rejo, dan Desa Kotakan. “Mereka bekerja sebagai buruh atau pedagang di pasar-pasar yang berada di Kudus,” sambung Mursidi.

Camat Karanganyar Ridhodin, 40, tidak menampik hal itu. “Mereka sudah biasa menyeberangi Sungai Wulan. Saat hujan dan arus deras pun, tidak takut,” lanjutnya.

 

Dua jembatan

Sugini punya jawaban atas kenekatannya. Akar masalahnya ialah ongkos. Setiap kali menyeberang, ia cukup membayar Rp500. Warga Kedungwaru Lor itu mengaku tidak pernah waswas harus menyeberangi sungai selebar 75 meter, dengan kedalaman tidak kurang dari 10 meter itu.

Puluhan warga antri turun dari getek dan bergegas mencari angkuta umum menuju tempat mereka bekerja. Foto: Efulya

“Dengan getek, kurang dari 30 menit, kami bisa sampai ke seberang. Kalau lewat jembatan, kami harus menempuh jarak puluhan kilometer, dan ongkosnya lebih mahal,” sambung Sugini.

Jembatan terdekat berada di Tanggulangin. Jaraknya puluhan kilometer dan harus ditempuh lebih dari 2 jam dari desanya. “Penghasilan saya sehari Rp20 ribu. Ongkos ke Tanggulangin sudah lebih dari setengahnya,” lanjut Sugini.

Sungai Wulan merupakan sungai yang berhulu di pintu pembagi dan pengendali banjir Wilalung, Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Sungai ini bermuara di Laut Jawa, di Kedung, Demak.

Meski panjang sungai mencapai 50 kilometer lebih, hanya ada dua jembatan penghubung di atas sungai itu, yakni Jembatan Tanggulangin di jalur utama perbatasan Kudus-Demak dan Jembatan Mijen di perbatasan Demak-Jepara.

“Di desa kami, yang menjadi lalu-lalang ribuan warga, tidak ada jembatan di atasnya,” kata Mursidi.

Getek penyeberangan sudah bertahan puluhan tahun, sejak Mursidi masih kecil.

Upaya warga untuk mengajukan pembangunan jembatan penghubung di Desa Setrokalangan sudah sering dilakukan. Hasilnya nihil. “Dulu sudah pernah ada dari pemerintah provinsi yang mengecek, tapi sampai sekarang tidak ada apa-apa,” lanjut Abdul.

Camat Karanganyar Ridhodin mengungkapkan, karena berada di antara dua kabupaten, pembangunan jembatan menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pemerintah kabupaten di dua sisi melihat pembangunan jembatan bukanlah prioritas utama.

“Masih banyak prioritas utama yang harus kami laksanakan. Sesuai aturan, memang pemprov yang berwenang,” jelasnya.

Mursidi yakin keberadaan jembatan akan menjadi akses yang memudahkan warga melakukan kegiatan ekonomi. Selain itu, menghindarkan risiko dengan menyeberangi sungai yang dalam.

“Memang sampai saat ini belum ada kejadian yang tidak diharapkan di atas getek. Tapi, kalau ada jembatan, pasti akan lebih aman,” tegasnya.

Jika jembatan terbangun, Mursidi sudah bermimpi bakal ada pasar di desanya.Tidak hanya Mursidi yang mengidamkannya. Kawan-kawan Sugini juga punya keinginan serupa.

“Ingin sekali kami dibangunkan jembatan. Ibarat orang hamil, kami sudah ngidam,” ujar Masyitoh. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *