Home / STORIA / Ekonomi / Sepotong Asa di Kampung Tempa

Sepotong Asa di Kampung Tempa

 

Bantuan modal tidak pernah datang. Di bengkel, mereka tidak hanya menempa tembaga, tapi juga membentuk diri menjadi sekuat baja.

 

TANG… teng… tong…. Bunyi bertalu-talu itu membelah pagi. Ramai sekali. Itu bukan tabuhan musik. Suara tersebut berasal dari tumbukan martil baja yang menghantam lempeng tembaga.

Sumbernya dari sejumlah bengkel kerja di Desa Tumang Krajan, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Dengan ditutup dinding seadanya, bengkel dibangun di samping, belakang, atau depan rumah.

Cepogo ialah kecamatan yang diapit dua gunung, Merapi dan Merbabu. Kecamatan ini sudah lama dikenal sebagai pusat kerajinan tempa tembaga. Tumang Krajan tercatat sebagai sentra unggulannya.

Berpuluh tahun silam, para penempa di Cepogo sudah membuat karya berbahan tembaga, aluminium, dan kuningan. Bentuknya mulai perabot rumah tangga sampai hiasan interior rumah.

Kapan kerajinan tempa mulai dibuat di Cepogo? Semua perajin hanya bisa menggelengkan kepala.

“Saya tidak tahu pasti kapan mulainya. Yang saya ingat, ayah, kakek, dan buyut saya sudah menggeluti usaha ini sejak dulu,” tutur Binar, 43, pemilik bengkel tempa tembaga di Tumang Krajan, pekan lalu.

Warga lain juga sepakat kegiatan menempa logam menjadi perabotan sudah ada sejak nenek moyang mereka. Kerajinan itu bertahan menjadi kerajinan turun-temurun hingga kini.

Menempa bahkan sudah di anggap sebagai kegiatan utama. Orangtua mereka selalu mengatakan, “Ora nutuk, ora muluk.” Itu berarti ‘tidak menempa, maka tidak akan makan’. Dengan istilah tersebut, nenek moyang warga Cepogo memecut anak cucu untuk meneruskan tradisi menempa tembaga dan logam lain.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Boyolali mencatat ada sekitar 300 perajin tempa di Cepogo, dengan keahlian tembaga, aluminium, dan kuningan. “Mereka mampu bersaing sehingga jumlahnya tidak banyak berkurang dari tahun ke tahun,” kata Pejabat Fungsional Penyuluh Perindustrian Disperindag Boyolali Agus Haryatmo.

Di Tumang Krajan, tutur Binar, para penempa di masa lalu memulai usaha dengan memproduksi peralatan rumah tangga dari aluminium dan tembaga. Mereka membuat dandang, cerek, kuali, panci, dan wajan.

Peralatan dapur itu dijual ke beberapa pasar. Ada yang dipasarkan secara keliling dari rumah ke rumah. Tidak sedikit pula yang dijual di pinggir jalan raya.

 

Berinovasi

Peralatan dapur dari desa ini sudah sampai ke banyak daerah di Indonesia. Sampai sekarang, sering ada pembeli dari luar Jawa yang rutin datang setiap bulan untuk membeli dalam partai besar.

Agus Haryatmo mengungkapkan kerajinan tempa terus berkembang di Tumang Krajan. Nyaris setiap rumah membuka miliki bengkel tempa. Usaha ini sudah menjadi kegiatan industri rumahan.

Tempa Cepogo terus bertahan, bahkan berkembang, karena pelakunya selalu melakukan inovasi. Pada 1970-an, misalnya, mereka tidak hanya membuat peralatan dapur. Sentuhan baru dilakukan dengan membuat perlengkapan dan aksesori interior dan eksterior rumah. Ada pot bunga, guci, lampu duduk, lampu gantung, kaligrafi , dan hiasan dinding.

“Inovasi pada 1970-an itu yang membuat bisnis tempa di Tumang Krajan bergairah,” kata Sriyanto, 45, Ketua Paguyuban Kluster Tembaga Tumang.

 

Pasar baru terbuka. Pesanan mengalir dan produk tempa mereka meluncur ke mancanegara, mulai Amerika Serikat, Australia, Jepang, Filipina, Inggris, hingga Spanyol.

Para perajin sudah memiliki pelanggan sendiri. Binar, misalnya. Produk bengkelnya yang banyak dipesan ialah perangkat interior rumah. Pesanan datang dari gerai di Yogyakarta dan Solo, yang memiliki pelanggan para turis.

“Dari Solo, dikirim ke Bali dan dibeli wisatawan mancanegara. Begitu juga gerai di Yogyakarta, sering kali menjualnya ke kalangan turis,” ungkap Binar.

Setiap tahun, pesanan terbanyak datang pada April-Mei. Di masa itulah kesulitan modal menjadi penghalang untuk ber produksi.

Baik pemerintah, perbankan, maupun kalangan swasta jarang melirik kondisi para penempa. Tidak ada suntikan modal, pinjaman, apalagi hibah.

“Jarang ada yang meminjamkan modal untuk perajin, apalagi yang omzet usahanya masih kecil. Padahal, tambahan modal sangat mereka perlukan,” kata Binar.

Sriyanto juga mengakui para perajin jarang mendapatkan bantuan modal tambahan, termasuk dari pemerintah. Alhasil, modal selalu menghambat proses produksi.

Kendala lain ialah sumber daya manusia. Kala mendapatkan pesanan dalam jumlah besar, sulit untuk memenuhi sesuai dengan waktu yang diinginkan pemesan. “Sering kali pesanan besar tidak bisa kami layani,” kata Sriyanto.

Perajin tempa tembaga di Tumang Krajan masih bekerja secara tradisional dan mengandalkan tenaga kerja manusia. Tidak ada mesin besar yang membantu mereka menyelesaikan pekerjaan. Saat ini ada sekitar 1.700 tenaga kerja yang terserap di sana. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *