Home / FEATURE / Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Beragama

Masjid Menara Kudus, Simbol Toleransi Beragama

Tak hanya menyimpan kecanggihan arsitektur bangunan, toleransi umat beragama pun ada padanya. 

 

SEORANG biksu dari Australia masih saja mendongakkan kepala memandangi sebuah menara yang tinggi menjulang ke langit. Sesekali tangannya memegang mena ra yang bahannya terbuat dari batu bata merah tanpa perekat itu.

Sambil berjalan dengan tangan masih menyentuh batu bata merah, ia memuji kehebatan bangunan dan wujud toleransi beragama yang tinggi. Ia baru melihat ada menara yang fisik bangunannya mirip candi dan terletak di dekat masjid.

“Kudus luar biasa,” kata Ven Quang Batinch, biksu dari Australia, saat berkunjung ke Masjid Menara Kudus.

Ya, Ven Quang Batinch ialah salah satu pemuka agama dari berbagai perwakilan negara peserta pertemuan 6th Regional Interfaith Dialogue (RID-6) atau Dialog Kerukunan Beragama yang berkunjung ke Masjid Menara Kudus.

Masjid Menara Kudus terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Masjid yang didirikan salah satu Wali Songo, Ja’far Shodiq atau lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus, itu kini menjadi salah satu tempat bersejarah yang penting tidak hanya bagi umat Islam, tapi bagi seluruh pemeluk agama di Indonesia bahkan di dunia.

Dalam sejarahnya, Masjid Menara berdiri pada abad ke-15 atau tahun 956 Hijriah bertepatan dengan tahun 1549 Miladiyyah. Masjid itu diberi nama yang sama dengan salah satu masjid di Palestina yang kini tetap menjadi perhatian internasional, Masjid Al-Aqsho.

Namun, masjid tersebut lebih dikenal sebutan Masjid Menara Kudus karena merujuk ke sebuah menara yang terdapat di sisi timur (kini di samping sisi kanan), dengan gaya arsitektur mirip Hindu.

Ven Quang Batinch, biksu dari Australia, saat berkunjung ke Masjid Menara Kudus. Ia mengagumi toleransi Sunan Kudus dalam menyebarkan agama Islam. Foto: Efulya

Kala menyebarkan agama Islam, Sunan Kudus sangat menghormati toleransi antarumat beragama. Untuk menghormati umat Hindu, Sunan Kudus bahkan melarang anak cucunya menyembelih sapi karena binatang tersebut sangat dihormati umat Hindu.

Strategi penyebaran agama Islam yang tidak konfrontatif dan sangat toleran tersebut juga bisa dilihat dari bangunan Menara Kudus.

Menurut pakar arkeolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Inayati Adrisiyanti M Romli, Menara Kudus merupakan strategi dakwah Sunan Kudus kala itu. “Sangat menghormati dan toleran dengan agama lain dan tidak konfrontatif,” ujar Inayati kepada Media Indonesia.

 

Kearifan lokal

Bentuk arsitekturnya khas dan memesona. Dengan bangunan yang memiliki ketinggian 18 meter, berukuran sekitar 10 meter persegi pada bagian dasar, seluruhnya menggambarkan budaya khas Jawa-Hindu.

Bangunan dasarnya mirip dengan selasar candi umat Hindu. Bahannya juga dari ba tu bata merah yang besar dan lebar dengan teknik pema sangan kosod, yakni sebuah teknik pemasangan batu bata dengan pemberian air, digosok-gosokkan, kemudian di tempelkan tanpa perekat lainnya.

Bagian puncaknya terdiri dari dua tumpuk atap tajuk dan ditopang dengan empat soko guru.

Di bagian atas itulah terdapat sebuah beduk yang ditabuh saat waktu salat tiba atau ke tika hari-hari besar Islam. “Fung sinya untuk azan dan pengumuman penting seperti pengumuman awal masuk bulan Ramadan,” kata Em Nadjib Hassan, Ketua Yayasan Masjid Menara dan Makam Sunan Kudus (YM3SK). Sampai saat ini, bangunan itu masih difungsikan, tetapi hanya untuk menabuh beduk.

Meskipun mirip candi, Menara Kudus benar-benar menara yang dibangun Sunan Kudus sebagai syiar agama Islam kala itu. “Itu bisa dilihat dari prasasti yang ada di mihrab Masjid Al-Aqsho,” ujar Inayati peneliti Menara Kudus.

Dalam kesimpulannya, Inayati tidak menemukan relief-relief yang menceritakan itu sebuah candi, seperti pada umum nya bangunan-bangunan candi. Namun, sikap toleransi antarumat beragama dan cara santun Sunan Kudus dalam berdakwah, sekaligus kearifan lokal bangunan kala itu, telah memengaruhi arsitektur bangunan Menara Kudus. “Jadi ini sekaligus menolak anggapan bahwa Menara Kudus dulunya adalah candi,” ujarnya.

Ada rekam jejak berdirinya Masjid Al-Aqsho dan Menara Kudus. Masjid Al-Aqsho dahulu masih sangat kecil karena kapasitas orang yang berjemaah juga masih sedikit. Namun dalam perkembangannya, masjid mengalami perluasan karena umat Islam yang berjemaah menjadi tambah banyak.

Baca juga: Langgar Bubrah, Sebuah Akulturasi Hindu-Islam

“Itulah strategi dakwah Sunan Kudus. Dengan pendekatan budaya, ia mampu menarik simpati masyarakat untuk memeluk agama Islam sehingga bangunan masjid yang dulunya berada di barat menara bisa meluas sampai berada di samping menara,” kata Inayati.

Menurut Nadjib, Masjid Menara Kudus sudah mengalami beberapa kali perombakan. Perombakan besar terutama dilakukan untuk bagian menara pada 1970-an, yakni dengan memasang pelat baja dan mengganti kayu-kayu jati yang ada di atas menara.

Untuk masjidnya, pada 1919 di lakukan pelebaran. Pada 1926 dilebarkan lagi sampai pada gapura pintu kembar paling depan dan penambahan kubah masjid pada 1933.

Pada 1970, masjid juga mengalami renovasi dengan melebarkan sayap kiri dan kanan. Pada 2012, renovasi dilakukan di tempat salat putri atau pawestren.

 

Arsitek andal

Keunikan bentuk menara itu memang sulit dilupakan. Pasalnya, tak ada yang menyamai bentuk tersebut di seluruh dunia. Hal itu seperti kata Ven Quang Batinch. Selama berkeliling ke beberapa tempat ibadah di dunia, ia baru menjumpai bentuk menara seperti Menara Kudus. Ia mengakui Menara Kudus sebagai bentuk konkret kultur toleransi antarumat beragama.

Masjid Menara Kudus. Foto: Efulya

Bagi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, Menara Kudus merupakan bukti sejarah yang unik di seluruh Indonesia bahkan sampai seluruh dunia. “Ya cuma ada satu ini, menara masjid yang bentuknya menyerupai candi,” kata Sudarno, dari BP3 Jawa Tengah.

Keunikan dan kecanggihan Menara Kudus juga diungkapkan Inayati. Profesor arkeologi dari UGM itu sudah beberapa kali meneliti Menara Kudus dan masih saja mengagumi bangunan yang baginya memiliki nilai filosofi tinggi itu.

Kecanggihan tersebut terlihat yakni pada masa teknologi di Nusantara belum maju (abad ke-15) tapi sudah berdiri sebuah bangunan berbahan material batu bata merah dengan tinggi 18 meter. Itu sebuah teknik membangun yang luar biasa.

Meskipun sudah berusia ratusan tahun, Menara Kudus menunjukkan kebesaran toleransi antarumat agama di Kudus dan masih tegak berdiri sampai kini. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *