Home / SEMESTA / Ekologi / Cakar Pengusir Hama Pengerat

Cakar Pengusir Hama Pengerat

Petani Tlogoweru nyaris putus asa akibat ulah tikus. Mereka selamat berkat kepak binatang malam.

Tyto Alba menjadi sahabat petani untuk mengusir tikus. Foto: Efulya

 

BAGI sebagian orang, burung hantu merupakan binatang yang menakutkan. Namun, tidak untuk para petani di Desa Tlogoweru, Kecamatan Guntur, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.

Berkat burung hantu, petani di desa itu hidup baik karena lahan pertanian mereka terhindar dari hama tikus. Hasil panen padi dan palawija selalu berlimpah.

Itu berbeda dengan kisah beberapa tahun silam, sebelum mereka berkawan dengan burung hantu. Dulu, Tlogoweru merupakan desa tertinggal. “Memang lahan pertanian kami luas terhampar. Jumlah petani dan buruh tani mencapai 90% dari total penduduk,” kata Sumanto, 45, warga Tlogoweru.

Sayangnya, lahan luas tidak termanfaatkan secara maksimal. Banjir dan tikus membuat sawah sering gagal panen. Tikus sudah menjadi masalah di desa ini sejak 1963.

Alhasil, banyak warga yang akhirnya memilih hijrah ke daerah lain untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Sawah tidak memberikan apa-apa, bahkan membuat petani terundung utang.

Sumanto mengaku kala itu hama tikus sulit sekali dikendalikan. Banyak cara dilakukan warga, bahkan sejak orangtua Sumanto masih berusia muda.

Dalam satu tahun, beberapa kali mereka melakukan gerak an geropyok dengan cara membongkar sarang tikus dan memasang jaring serta jebakan. Mereka juga memburu tikus dengan cara menembak, menggunakan umpan beracun, dan pengomposan dengan belerang. Ada juga rekayasa genetika dengan memberi umpan ketela yang digodok dengan air kelapa agar tikus yang memakannya akan mandul.

Kepala Desa Tlogoweru pun mengeluarkan peraturan desa yang mewajibkan setiap kepala keluarga menyetor tikus secara rutin. Setiap tahun, warga diwajibkan dua kali setor 50-300 ekor.

Berhasil? Semuanya sia-sia. Tikus tetap enggan angkat kaki dari Tlogoweru. Kerusakan sawah yang ditimbulkan tikus masih terjadi. Tingkat keparah annya beragam, mulai 20% hingga 90%.

 

Belajar di Ngawi

Kendala bertahun-tahun itu tidak membuat warga Tlogoweru putus asa. Harapan datang awal 2011, ketika mereka mendengar kabar petani di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, berhasil menanggulangi hama tikus.

Sejumlah petani Tlogoweru dikirim ke Ngawi. Mereka akan menimba ilmu membasmi tikus dengan predatornya, yakni burung hantu atau serak jawa dari spesies Tyto alba. “Sepulang dari Ngawi, kami mengembangkan pembiakan burung hantu sesuai dengan kondisi daerah,” cerita Sumanto.

April 2011, warga Tlogoweru menangkarkan dan mengembangkan burung hantu. Di lahan penangkaran seluas 6 x 12 meter persegi, mereka bersama-sama merawat burung hantu hingga beranak pinak.

Rumah Burung Hantu (Rubuha), berada di tengah-tengah area persawahan. Burung Hantu bebas menempati dan dibiarkan oleh warga. Foto: Efulya

Ketika sudah siap, burung hantu dilepas. Sejak saat itu, pertanian warga berangsur pulih. Penggerusan lahan yang dulunya hingga 90% kini berkurang drastis. Paling hanya 2% yang digerogoti binatang pengerat itu.

“Sekarang hasil pertanian kami meningkat drastis. Kami juga bisa menanam apa saja,” ujar Sumanto, lagi.

Untuk melindungi burung hantu dari pemburu liar, aparat Desa Tlogoweru pada tahun yang sama telah menerbitkan peraturan desa yang melarang pembunuhan burung hantu. “Jika ada warga dari desa lain membawa senapan angin untuk memburu burung hantu, kami langsung mengusir mereka,” tutur Pujo Arto, salah satu pembiak Tyto alba.

Penangkaran Tyto alba di Desa Tlogoweru telah membiakkan ratusan burung hantu. Yang dilepas saja sudah mencapai angka 400 ekor.

Burung, kata Pujo, telah terbang ke luar Desa Tlogoweru, bahkan sudah mencakup ke seluruh Kabupaten Demak.

Bagi petani yang ingin lahannya tidak diganggu tikus, mereka bisa membangun rumah burung hantu di sekitar areal persawahan mereka. “Burung jenis ini tidak bisa membuat sarang sendiri. Mereka akan menempati ruang-ruang kosong di sekitar areal persawahan,” ujar Pujo.

Itu tidak sulit karena rumah burung hantu tidak lebih sulit dari membuat rumah untuk burung merpati. Di sawah, ia cukup didirikan di atas pohon atau dibuat di atas tiang.

 

Desa wisata

Kegigihan warga Desa Tlogoweru mengatasi hama tikus ternyata sampai juga ke telinga Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo. Awal bulan ini, Gubernur datang ke sana.

Bibit mengaku senang dengan kerja keras warganya, hingga menjadi percontohan bagi warga daerah lain. Bibit bahkan tergerak untuk mencanangkan Desa Tlogoweru menjadi desa wisata burung hantu.“Karena bermanfaat dan satu-satunya yang berhasil,” tuturnya.

Setelah setahun berkreasi dengan binatang malam itu, kini warga utusan dari daerah lain mulai datang berguru ke Tlogoweru. Di antaranya dari DI Yogyakarta, Jawa Timur, dan beberapa kabupaten di Jawa Tengah.

Pujo Arto pun menyambut keinginan sang gubernur. “Sebagai petani, yang pernah merasakan duka digerogoti hama, kami sangat ingin berbagi untuk petani lain cara membasi tikus tanpa obat kimia.” []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *