Home / STORIA / Ekonomi / Gantungkan Harapan pada Limbah Kayu

Gantungkan Harapan pada Limbah Kayu

Kekurangan modal menjadi hambatan klasik para perajin di daerah. Perhatian pemerintah kurang, kepercayaan bank pun belum terbentuk.

TANGAN Sholikah, 38, cekatan bergerak. Dengan terampil, ia memasukkan bambu kecil panjang sebesar jeruji ke lubang papan tipis dari kayu jati.

Satu demi satu jeruji terpasang. Sejurus kemudian, gunting baja di tangan perempuan itu bergerak cepat, memangkas bambu dan meratakannya.

Setelah merapikan sedikit serabut bambu, benda di depannya sudah menjadi sangkar burung. Setelah dijemur dan dicat, sangkar itu bisa dilempar ke pasar.

Bagi Sholikah, membuat sang kar burung bukanlah hal yang sulit. Maklum saja, ia sudah 10 tahun lebih menjalani profesi tersebut. Setiap hari, Sholikah mampu merampungkan lebih dari 10 sangkar.

“Ini namanya ngrujeni,” kata dia, singkat.

Puluhan sangkar bertumpuk di depan rumahnya, di Dusun Wungu, Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Saban hari Sholikah membuat sangkar karena itu satu-satu profesi yang ia geluti.

Ia tidak sendiri. Dusun Wungu dikenal sebagai sentra industri sangkar burung di Kudus. Hampir 90% warga di wilayah itu berprofesi sebagai perajin sangkar burung.

Semua dikerjakan sebagai industri rumahan. Ada perajin yang hanya memotong kayu, menjadi buruh borongan di rumah seperti Sholikah, atau buruh harian di rumah pemilik usaha.

Tidak ada yang tahu persis kapan warga Dusun Wungu mulai menggeluti pembuatan sangkar burung. Semuanya di kerjakan secara turun-temurun.

“Ada yang mengaku sebagai generasi kedua, ada juga yang ketiga. Di keluarga saya, bapak dan mbah sudah melakukannya,” ujar Nor Faiz, 24, salah satu pemilik usaha di Wungu.

Faiz mempunyai tujuh pekerja. Bengkel kerjanya yang selalu sibuk berada di belakang rumah. Di sana, bambu dan limbah kayu jati potongan kecil bertumpuk.

Tetelan kayu jati didapat dari sisa potongan limbah mebel dari Jepara.

“Kualitas sangkar burung da ri Wungu memang bisa diadu. Kami memakai bahan kayu jati, sekalipun didapat dari limbah bekas pembuatan mebel,” tandas Faiz.

 

Limbah kayu

Setiap bulan, seorang pemilik usaha membutuhkan limbah kayu jati sebanyak 2-5 ton, termasuk Nor Faiz yang harus membeli sebanyak 2 ton.

Kayu jati digunakan sebagai kerangka dasar sangkar. Bambu sebagai jeruji didatangkan dari Magelang dan sekitarnya.

Dengan 2 ton kayu jati, Nor Faiz mengaku bisa menghasilkan 100 set sangkar burung. Satu set berisi tiga sangkar, ber ukuran kecil, sedang, dan besar. Ukuran lingkarnya 35 sentimeter, 40 sentimeter, dan 45 sentimeter.

Harga setiap sangkar bervariasi, sesuai dengan ukuran dan motif. Paling murah dihargai Rp25 ribu dan yang terbesar ratusan ribu rupiah.

“Bahkan, kalau ada pesanan dengan motif ukir, harganya bisa sampai jutaan rupiah,” lanjut Faiz.

Pria itu mengaku omzet usahanya per bulan bisa mencapai Rp30 juta-Rp40 juta. Keuntungan bersihnya Rp4 juta-Rp5 juta.

Perajin lain, Saiful Wahab, 31, mengaku rata-rata bisa menghasilkan 90 set sangkar burung. Jumlahnya memang naik turun, tergantung bahan baku limbah kayu jati yang bisa ia dapat dari Jepara.

“Kami bekerja berdasarkan pesanan. Oleh pemesan, produksi kami biasanya dibawa ke luar Jawa, ke Sumatra, Kalimantan, dan Bali,” imbuhnya.

Kendati aktivitas produksi di Dusun Wungu terlihat terus berdenyut, para perajin bukan tidak menghadapi masalah. Bahan baku dan pekerja bukanlah sandungan karena berlimpah.

Saiful dan Faiz sepakat kendala mereka untuk mengembangkan usaha adalah modal.

“Kami bisa bekerja karena modal dari pemesan. Biasanya mereka memberi uang muka dan dari sana kami bisa belanja bahan dan menggaji pekerja,” tutur Saiful.

Mengenai bantuan modal? Ia menggelengkan kepala. Tidak satu pun perajin di dusun tersebut pernah mendapat bantuan modal, baik dari peme rintah maupun swasta. Perbankan pun tidak melirik.

“Sulit mendapatkan modal, mengajukan kredit susah, dan bantuan dari pemerintah daerah juga tidak ada,” ujar Saiful.

Ia mengaku usahanya sudah beberapa kali nyaris gulung tikar. “Saya bisa bekerja karena pemesan memberi uang muka.”

Faiz yang punya usaha lebih besar juga menemui kendala serupa. Bedanya, untuk menutupi modal, ia harus memasukkan lagi keuntungan guna membeli bahan baku.

“Kami sulit membesarkan usaha karena tidak ada modal tambahan. Pesanan dalam jumlah besar pun sering kami tolak,” tuturnya.

Faiz mengaku pernah mengajukan kredit ke bank. Sampai kini, belum ada tanggapan.

Yang mengherankan, pemerintah kabupaten sudah menetapkan dusun itu sebagai sentra industri sangkar burung. Akan tetapi, bantuan, kredit usaha, bahkan pelatihan tidak pernah mereka terima.

Kepala Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UMKM Kabupaten Kudus Abdul Hamid mengakui Dusun Wungu sudah di tetapkan sebagai sentra industri sangkar burung. Ia membantah belum pernah memberikan bantuan pelatihan dan pemasaran ke dusun tersebut.

“Kalau bantuan atau kredit memang tidak semua sentra industri mendapatkannya. Perajin Wungu bisa saja mengajukan proposal ke kami untuk diproses,” jelasnya.

Nor Faiz hanya bisa tersenyum tipis. “Biarlah. Yang penting bagi kami adalah bisa tetap bekerja, bisa menghidupi keluarga.” []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *