Home / SEMESTA / Ekologi / Hidup Dekat Aliran Sungai Penuh Limbah

Hidup Dekat Aliran Sungai Penuh Limbah

Air adalah sumber kehidupan. Namun, sudah puluhan tahun sebuah dusun mencium bau tak sedap dari aliran air sungai yang mengalir.

Aliran sungai berubah warna dan bau. Foto: Efulya

 

SIANG itu, di sebuah dusun, dua perempuan tengah duduk berbincang di depan rumah. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan, tapi terlihat jelas, sesekali tangan kanan salah satu perempuan tersebut menutup hidungnya.

“Baunya tidak enak, Mas,” kata salah satu perempuan yang menutup hidungnya, saat ditanya kenapa menutup hidung.

Giarti, 30, perempuan itu, kemudian menunjuk pada sungai yang berjarak sekitar 7 meter tepat di depan rumahnya. “Bau ini ya dari sungai itu, Mas,” sambut Toisah, 53, yang tidak lain ibu dari Giarti yang duduk di sampingnya.

Ketika mencoba melihat lebih dekat sungai tersebut, bau semakin menyengat dan air yang mengalir warnanya tidak jernih, tapi hitam pekat. Sungai Kencing, itulah namanya.

Menurut Subakrin, 72, Ketua RT Dusun Tanggulangin, Desa Jati Wetan, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, dulu pada sekitar 1940-an, aliran sungai yang melewati daerahnya jernih dan baunya tidak seperti sekarang.

Warga sekitar sungai juga bisa memanfaatkannya, baik untuk kebutuhan sehari-hari ataupun mengairi sawah. Tapi, lanjut Subakrin, semenjak PT Pura Group berdiri, air Sungai Kencing lambat laun berubah dan lama-lama warnanya menjadi hitam dengan bau tak sedap dan kadang menyengat.

Tidak jauh dari dusun Subakrin, berdiri sebuah perusahaan percetakan terbesar di Kabupaten Kudus, PT Pura Group. Hampir semua warga dusun di Tanggulangin yang ditanya menjawab bahwa penyebab aliran sungai mereka berubah ialah Pusaka Raya atau PT Pura Group.

Humas PT Pura Group, Hamidin, ketika ditemui mengaku wajar jika seluruh warga mengatakan penyebab bau tak sedap dan air sungai yang berwarna hitam itu ialah perusahaannya. Itu karena Pura perusahaan paling besar yang berada di sekitar daerah mereka.

Namun, Hamidin membantah bahwa penyebab bau tidak sedap dan aliran sungai yang berubah ialah limbah perusahaannya. Menurutnya, PT Pura Group memiliki sistem pengolahan limbah yang telah mendapatkan rekomendasi dari kementerian pusat. “Jadi itu bukan limbah kami,” sangkal Hamidin.

Limbah cair dari PT Pura Group, ujar Hamidin, semua muaranya di unit pengolahan limbah (UPL). Sebelum ke UPL, limbah-limbah tersebut juga telah masuk ke instalasi pengolahan limbah cair (IPLC).

 

Oknum nakal

Dari UPL, air limbah yang telah sesuai baku mutu dibuang ke Sungai Wulan. “Jadi limbah dari perusahaan kami sudah sesuai baku mutu dan dibuang langsung ke Sungai Wulan dengan pipa yang kami tanam di bawah tanah, dan letaknya di sebelah barat jembatan Tanggulagin, bukan di sebelah timur jembatan,” jelas Hamidin.

Dari penelusuran di lapangan, memang aliran limbah yang melintasi Sungai Kencing dan menyebarkan aroma tidak sedap ke warga Subakrin berada di sisi timur jembatan.

“Nah, kalau di timur jembatan itu tidak dari kami, dan kami yakin penyebab bau tidak sedap dan berubahnya warna air bukan dari perusahaan kami,” tegas Hamidin.

Ketika mencoba menelusuri aliran Sungai Kencing, mulai dari areal perkampungan warga hingga hilir. Dari penelusuran yang dilakukan, sepanjang sungai warnanya hitam dan mengeluarkan bau tak sedap. Selain itu, UPL PT Pura Group juga dilewati aliran sungai tersebut.

“Memang ada aliran sungai penduduk yang melewati UPL, tapi kami tidak membuangnya ke sungai tersebut karena itu sungai warga. Kami langsung membuangnya ke Sungai Wulan,” bantah Hamidin.

Aliran Sungai Kencing yang melewati permukiman warga dan mengeluarkan bau tak sedap serta warnanya hitam, bagi Hamidin lebih karena aliran air yang tidak lancar dan dari berbagai limbah industri rumah tangga. “Mungkin itu oknum yang nakal,” imbuhnya.

Namun, warga masih kukuh bahwa penyebab hitam dan bau tak sedap air sungai mereka ialah limbah PT Pura Group. “Memang sebagian dibuang langsung ke Sungai Wulan di sebelah barat jembatan Tanggulangin, tapi sebagian lagi dibuang melalui sungai ini,” terang Subakrin.

 

Sungaiku berwarna

Sungai Kencing yang airnya sudah berubah warna dan mengeluarkan bau tak sedap mengalir hampir ke seluruh warga Desa Jati Wetan, terutama di Dusun Tanggulangin. Menurut Subakrin, ada sekitar 17 dusun di Desa Jati Wetan dan semuanya hidup dalam aliran limbah.

Sementara itu, Didik Tri Prasetyo, Kepala Kantor Lingkungan Hidup (KLH) Kabupaten Kudus, Jateng, mengatakan selama ini pembuangan limbah cair semua perusahaan yang berada di Kabupaten Kudus sudah sesuai aturan baku mutu.

“Seperti Pura, perusahaan tersebut sudah mengantongi izin pembuangan limbah cair ke sungai dan sudah sesuai baku mutu,” katanya saat ditemui di kantornya.

Ketika sudah baku mutu, lanjut Didik, limbah cair yang dibuang ke sungai tidak berwarna dan tidak mengeluarkan bau. Namun, ketika ada limbah perusahaan yang dibuang ke sungai mengeluarkan bau dan berwarna, kata Didik, itu harus dicek dulu ke laboratorium.

“Karena belum tentu yang berwarna dan mengeluarkan bau itu tidak baku mutu, makanya harus diuji biar valid. Selama ini kami belum menemukan pelanggaran tentang limbah cair di Kudus. Sungai di Kudus juga masih aman dari limbah perusahaan,” imbuhnya.

Warga, kata Subakrin, sebenarnya sudah pernah melakukan protes, namun kenyataannya aliran limbah selalu menjadi menu harian warga. Sekarang, warga hanya bisa pasrah meskipun pihak PT Pura Group yang mereka tuduh mencemari air sungai telah memberikan bantuan air bersih untuk minum. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *