Home / LAPORAN KHUSUS / Bus Listrik Menjawab Perubahan Iklim

Bus Listrik Menjawab Perubahan Iklim

SALAH satu penyebab utama pemanasan global ialah polusi yang dikeluarkan moda transportasi baik di darat, laut, maupun udara. Terlebih dengan semakin bertambahnya pertumbuhan penduduk, bertambah pula moda transportasi khususnya kendaraan pribadi.

Karbon dioksida atau CO2 yang dihasilkan dari moda transportasi di kota-kota besar memiliki andil sangat besar sampai 40%, seperti di Kota Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Hal itu menyebabkan pemerintah, melalui Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek), selalu melakukan langkah pengembangan untuk menekan angka tersebut.

Bekerja sama dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kemenristek meluncurkan bus listrik yang pertama di Indonesia, Mikrobus Listrik Hevina, di Taman Pintar, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, Senin (20/5) lalu.

Menurut Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta, pengembangan mobil listrik merupakan visi yang telah dibangun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden, lanjut Gusti, juga telah menegaskan perlunya percepatan pengembangan mobil ramah lingkungan untuk mengurangi beban subsidi bahan bakar minyak (BBM).

“Dan, Presiden meminta Kemenristek untuk membuat kendaraan yang ramah lingkungan berbasis angkutan massal sebagai moda transportasi,” kata Gusti Muhammad Hatta saat meluncurkan prototipe bus listrik di Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Bus listrik yang diluncurkan di Yogyakarta merupakan moda transportasi low cost green car. Artinya, sebuah kendaraan yang memang dirancang untuk mengatasi dampak pemanasan global dan menjawab perubahan iklim.

I Wayan Budiastra, Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi Komunikasi dan Transportasi Kemenristek, meyakini bahwa bus listrik buatan Kemenristek bekerja sama dengan LIPI bisa menjawab permasalahan lingkungan dan pemanasan global. Karena bus listrik tidak memakai BBM yang dampaknya sangat besar terhadap polusi udara.

“Jadi, bus listrik yang kami luncurkan sebagai prototipe moda transportasi yang tanpa emisi dan polusi sehingga efisiensi energi lebih tinggi jika dibandingkan dengan BBM dan bisa mengurangi pemanas an global,” katanya.

 

Ramah lingkungan

Peluncuran prototipe bus listrik di Yogyakarta dan merupakan bus listrik pertama di Indonesia yang difungsikan sebagai moda transportasi massal yang ramah lingkungan dan efisiensinya tinggi tidaklah muncul dengan tiba-tiba.

LIPI mengaku telah melakukan riset sejak 1997. Abdul Hapid, peneliti dari LIPI, mengatakan berbagai inovasi dilakukan LIPI untuk mewujudkan kendaraan bermotor ramah lingkungan yang efisien. Setelah memulai sejak 16 tahun silam, akhirnya pada 2009 LIPI mengonversi mobil Kijang menjadi mobil listrik dan hasilnya sangat efisien. “Hasilnya beda jauh kalau dibandingkan dengan mobil yang memakai BBM atau lainnya. Mobil listrtik lebih efisien dan menguntungkan,” katanya.

Dengan Kemenristek, pada 2011, LIPI bekerja sama membuat moda transportasi umum jenis bus mikro listrik. Karena LIPI melihat moda transportasilah yang harus dibenahi untuk mengatasi perubahan iklim. Dengan anggaran Rp1,8 miliar, dibuatlah Hevina yang telah diluncurkan di Yogyakarta pada Senin lalu.

Bus Listirk sedag mengisi listrik di stasiun pengisian listrik umum (SPLU) di Taman Pintar Yogyakarta. Foto: Efulya

Hevina, kata Hapid, memakai baterai Lithium 320 VDC 160 Ah, dengan kecepatan maksimum 100 km/jam dan jarak tempuh 150 km/cas. Daya maksimumnya 147 HP sehingga mampu menampung hingga 15 penumpang.

Untuk negara berkembang seperti Indonesia, bus listrik sangatlah pas diterapkan sebagai moda transportasi massal. Karena melihat kondisi jalan yang tidak terlalu luas, banyak tempat parkir di pinggir jalan, dan banyaknya traffic lights di setiap jalan, sehingga tidak memungkinkan memakai trolley listrik. “Jadi, untuk moda transportasi massal di Indonesia, bus listrik sangat tepat dan pas, bukan trolley,” ujar Hapid.

Dari segi manfaat, bus listrik memiliki banyak manfaat jika digunakan sebagai moda transportasi massal. Selain keuntungan utama yakni terbebas permasalahan yang diakibatkan dari transportasi berbasis motor bakar hilang karena tertutup oleh mobil listrik sehingga bebas polusi, moda ini juga sangat efi sien.

Tingkat efisiensi penggunaan energi bila dibandingkan dengan kendaraan berbasis motor bakar bisa dua kali lipat. Juga mampu menurunkan biaya operasional lebih dari 50%. Keefisienan mobil listrik, Hapid mencontohkan, mobil Kijang milik LIPI yang telah dikonversi menjadi mobil listrik. Per liter, kata Hapid, bisa sampai 6-7 km dengan harga subsidi Rp4.500. Sementara itu, mobil listrik, dengan jarak yang sama, hanya sekitar Rp2.000.

“Biaya perawatan turun lebih dari 70%. Karena tidak banyak yang di-maintenance, paling juga itu kalau kita menggunakan baterai basah sehingga setiap 2.000 km harus mengisi air, itu saja,” kata Hapid.

LIPI, kata Hapid, telah mengubah energi kinetik untuk mobil listrik ketika melalui jalan yang menurun. Dengan begitu, mobil bisa menyuplai energi sendiri secara otomatis dengan energi kinetik.

 

Partisipasi warga

Dengan penerapan mobil listrik sebagai moda transportasi, LIPI melihat peran masyarakat bisa sangat besar, yakni dengan menjual jasa pengisian listrik. Masyarakat, kata Hapid, bisa menjual jasa pengisian listrik di mana saja. Karena sepanjang jalan ada arus listrik, di situlah mobil listrik bisa diisi. “Sangat fl eksibel, tak perlu mendirikan pom bensin seperti pengisian BBM,” katanya.

Charging station bus listrik atau stasiun pengisian listrik umum (SPLU). Foto: Efulya

Jika mobil listrik ini benar-benar diterapkan pemerintah, Hapid yakin selain perubahan iklim teratasi, perekonomian warga secara merata juga akan terangkat. Karena selain pengembangan serta pengoptimalan energi di setiap daerah, warga juga bisa berpartisipasi dalam usaha pengisian energi listrik di pinggir jalan.

“Di mana ada aliran listrik, di situ warga bisa membuat tempat pengisian listrik. Mudah,” ujar Hapid.

Itu sebabnya, LIPI memiliki angan-angan mengembangkan mobil listrik dan menyinergikannya dengan potensi daerah masing-masing. Dengan begitu, strategi yang dipakai ialah pembangunan energi berbasis lokal. []

Loporan 1: Membangun Moda Transportasi Bebas Polusi

Laporan 2 : Bus Listrik Menjawab Perubahan Iklim

Laporan 3 : Naik Hevina Nyaris tanpa Suara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *