Home / LAPORAN KHUSUS / Membangun Moda Transportasi Bebas Polusi

Membangun Moda Transportasi Bebas Polusi

 

Semakin mahal dan menipisnya pasokan minyak bumi membuat kehadiran mobil listrik menjadi salah satu solusi pembangunan moda transportasi. Apalagi kendaraan itu bebas polusi dan emisi.

 

INDONESIA hanya memproduksi bahan bakar minyak (BBM) sekitar 900 ribu barel per hari (bph), sedangkan kebutuhan konsumsi nasional mencapai 1,4 juta bph. Yang paling menyedot konsumsi BBM itu tak lain sektor transportasi, yakni 700 ribu bph.

Jadi bisa dibayangkan berapa barel kekurangan bahan bakar per hari Indonesia. Celakanya, sejak 2003 Indonesia menjadi negara pengimpor BBM karena kian tidak imbangnya antara jumlah konsumsi dan produksi.

“Hal itu memerlukan sebuah terobosan baru, terutama dalam masalah transportasi. Karena penggunaan bahan bakar paling banyak ialah transportasi,” kata Abdul Hapid, peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), belum lama ini.

Menurut Hapid, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah berkomitmen dengan menandatangani Protokol Kyoto, yakni sanggup menurunkan emisi gas rumah kaca sampai 26% dengan usaha sendiri atau mencapai 41% dengan bantuan internasional pada 2020 nanti.

Namun, Hapid berani memastikan bahwa hal itu mustahil dicapai kalau tidak mengubah konsep transportasi di Indonesia.

Mengapa transportasi? Hapid menjelaskan karena transportasi merupakan penyumbang terbesar emisi gas karbon dioksida terutama di kota-kota besar seperti Jakarta dan kota besar lainnya.

Dengan begitu, diperlukan satu terobosan untuk menjawab dua hal sekaligus, yakni permasalahan semakin menipisnya minyak bumi dan perubahan iklim atau pemanasan global karena gas rumah kaca.

Abdul Hapid menyebut bahwa mobil listrik merupakan salah satu solusi yang mampu membantu Indonesia keluar dari permasalahan tersebut. Selain cocok untuk Indonesia, mobil listrik mampu mengatasi permasalahan yang sedang dibicarakan seluruh negara, yakni pemanasan global.

 

Solusi mobil listrik

Berbicara mobil listrik, Hapid, peneliti dari LIPI yang ahli dalam bidang transportasi, berani menjamin bahwa itu merupakan solusi yang bisa menjawab semua pertanyaan. Sebagai gambaran, jika Indonesia menggunakan mobil listrik, BBM yang dihemat sampai 50% lebih.

Alat untuk pengisian bus atau mobil listrik. Foto: Efulya

“Jika semua kendaraan dikonversi, kebutuhan minyak bumi untuk transportasi hanya sekitar 350 ribu bph. Karena efi siensi yang bisa didapatkan sampai 50%, bahkan lebih,” katanya.

Jika hitungan itu benar, Indonesia tidak perlu lagi mengimpor BBM karena produksi yang ada sudah bisa mencukupi kebutuhan.

Apalagi, menurut penelitian LIPI, sejak 2005, tren internasional untuk harga baterai sebagai komponen penting motor penggerak mobil listrik cenderung selalu turun, tapi dari segi kualitas dan kapasitasnya semakin membaik.

“Pasti turun. Berbeda jika dibandingkan dengan harga BBM. Saat permintaan meningkat, harga cenderung naik dan tidak bisa dikendalikan. Itu keyakinan yang kami lihat dari tren pasar dunia,” jelasnya.

I Wayan Budiastra, Staf Ahli Bidang Teknologi Informasi Komunikasi dan Transportasi Kementerian Riset dan Teknologi, mengatakan mobil listrik merupakan solusi bagi permasalahan yang sedang dihadapi Indonesia saat ini.

Menurutnya, mobil listrik merupakan moda transportasi dengan nol emisi dan tanpa polusi (zero emission and pollution). Transportasi tersebut tidak menggunakan BBM sehingga mampu mengurangi efek rumah kaca dan pemanasan global.

Selain itu, moda transportasi listrik sangat efisien. “Karena itu, mobil listrik perlu segera diterapkan terlebih dahulu sebagai transportasi umum di kota-kota besar yang memiliki andil besar dalam menyumbang gas rumah kaca,” kata Wayan saat peluncuran bus listrik di Yogyakarta, pekan lalu.

Di kota besar seperti Yogyakarta, kemacetan telah menjadi masalah tersendiri yang serius. Setiap bulannya terjadi penambahan 200-300 mobil dan 6.000 sepeda motor yang tidak seimbang dengan pertumbuhan infrastruktur jalan.

Maka dari itu, Sri Sultan HB X berharap pengoperasian bus listrik sebagai moda transportasi menjadi solusi transportasi massal di Yogyakarta.

“Karena selain ramah lingkungan juga tidak bising,” ujar Sri Sultan.

Namun, bagi Hapid, keunggulan mobil listrik tampaknya akan sia-sia belaka kalau pemerintah tidak mendorong mobil listrik bisa segera diterapkan, sekaligus mengatasi permasalahan krisis BBM dan pemanasan global.

 

Dorongan pemerintah

Wayan mengaku akan memberikan rekomendasi kepada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadikan mobil listrik terutama bus listrik sebagai moda transportasi massal.

Selain itu, Kemenristek juga akan mendorong kementerian terkait untuk menyiapkan infrastruktur dan regulasi untuk bus listrik sebagai moda transportasi.

Untuk lebih merealisasikan pemakaian bus listrik sebagai moda transportasi massal di Indonesia, Kemenristek juga akan menjajaki beberapa daerah untuk melakukan uji coba bus listrik seperti di Solo, Jakarta, dan Palembang.

“Yang penting daerah tersebut menyatakan siap dari sisi kebijakan daerah, infrastruktur, sumber daya, dan budaya,” jelasnya.

Namun, bagi Hapid, keseriusan pemerintah untuk mewujudkan mobil listrik sebagai moda transportasi massal tidak hanya itu. Pemerintah sudah seharusnya mulai masuk pada tahap produksi terbatas dan selanjutnya bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk pemakaian bus listrik di daerah masing-masing.

Selain itu, pemerintah sebelum meminta kepada masyarakat menggunakan mobil listrik, mereka harus terlebih dahulu memakainya.

“Mulai dari pemerintah pusat di semua departemen sampai daerah harus memakai mobil listrik, mulailah dari situ,” kata Hapid.

Regulasi tentang mobil listrik sebagai moda transportasi juga harus dibuat pemerintah seperti insentif pajak dan lainnya. Hapid mencontohkan di China, negara memberikan insentif US$73 ribu untuk bus listrik, sedangkan untuk city car negara bisa memberikan insentif sampai US$8.800. Lalu, di Prancis dan Amerika, parkir dan pengisian energi listrik digratiskan.

“Jadi, kalau negara tidak ikut berpartisipasi memang sulit untuk mewujudkan mobil listrik sebagai moda transportasi massal, apalagi transportasi pribadi,” ujar Hapid.

Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta mencoba bus listrik saat
peluncuran mobil tersebut, di Taman Pintar, Kota Yogyakarta. Foto: Efulya

Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Gusti Muhammad Hatta mengaku telah menyiapkan regulasi mobil listrik, salah satunya ialah agar pajak mobil listrik lebih murah.

“Selain itu, pada 2014, ketika mobil listrik sudah masuk produksi massal, harga akan lebih murah, tidak sampai Rp1 miliar sehingga masyarakat bisa membeli dan ikut menyelamatkan Bumi dari bahaya pemanasan global,” kata Menristek.

Hapid berharap, jika memang serius ingin memproduksi mobil listrik sebagai moda transportasi, pemerintah harus benar-benar serius dalam memberikan dukungan.

“Karena dukungan pemerintah itu nomor satu. Kalau tidak didorong, mobil tidak akan jalan,” kata Hapid.

Sekretaris Kementerian Riset dan Teknologi, Hari Purwanto menambahkan pemasaran mobil listrik nantinya ada di tangan industri. “Jika mobil listrik dilihat memiliki pasar, investor akan menanamkan modal untuk memproduksi mobil listrik,” ungkapnya, pekan lalu.

Menurutnya, selain LIPI, universitas-universitas di Indonesia pun saat ini banyak yang meneliti tentang mobil listrik. Untuk mengintegrasikan penelitian-penelitian tersebut, pemerintah sekarang tengah membuat draf peraturan pemerintah tentang pusat pengembangan teknologi industri otomotif.

“Dengan demikian, hasil-hasil penelitian dari universitas nanti dialirkan ke lembaga penelitianpenelitian yang ada, misalnya Batan dan LIPI,” ungkapnya. Dari lembaga-lembaga penelitian tersebut, penelitian-penelitian yang dihasilkan bisa diteruskan ke industri. []

Laporan 1 : Membangun Moda Transportasi Bebas Polusi

Laporan 2 : Bus Listrik Menjawab Perubahan Iklim

Laporan 3 : Naik Hevina Nyaris tanpa Suara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *