Home / SEMESTA / Mitigasi / Membaca Tanda Alam

Membaca Tanda Alam

Dulu, saat pepohonan masih rimbun dan hewan berkeliaran, warga di lereng gunung berapi bisa mengandalkan tanda alam untuk bersiap menghadapi erupsi.

Seorang warga lereng Gunung Merapi berjalan kaki di daerah Glagaharjo, Sleman, DIY. Foto: Efulya

 

SAAT Gunung Kelud di Jawa Timur meletus pada Kamis (13/2) malam, warga Dusun Kalitengah Kidul, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, sempat kaget. Dentumannya terdengar hingga ke sana. Beberapa warga keluar dari rumah mereka. “Ada yang menghubungi beberapa titik pemantauan. Ternyata bukan Merapi, melainkan Kelud,” kata Kepala Desa Glagaharjo, Suroto.

Kawasan itu memang tidak asing akan erupsi. Lokasinya terletak sekitar 6 kilometer saja dari puncak Gunung Merapi. Suroto mengaku tak cemas tinggal di kawasan rawan seperti itu. “Nenek moyang saya juga lahir di sini,” kata Suroto.

Dari erupsi Merapi yang pernah terjadi, Suroto mengaku warganya belajar banyak untuk bisa membaca tanda erupsi, dari gejala yang ditunjukkan alam hingga memadukannya dengan teknologi saat alam mulai terkikis.

Pada awal 1990-an, kata Suroto, warga memercayai tanda-tanda alam ketika Merapi akan erupsi karena masih banyak pepohonan dan binatang. “Seperti ada hewan-hewan yang turun,” kata dia. Namun, saat populasi pohon dan hewan berkurang, warga mengaku kesulitan membaca tanda alam sebagai gejala Merapi akan erupsi.

Kondisi itu dibenarkan Eko Teguh Paripurno, dosen peneliti di Pusat Studi Manajemen Bencana Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta. “Tentunya mereka akan kesulitan membaca tanda alam kalau masih berpedoman pada model lama,” tutur dia.

Pada era yang disebut Suroto, warga lereng Merapi sudah memiliki cara yang canggih sesuai dengan masanya, yakni berkomunikasi melalui kentungan, peluit, atau alat-alat yang bisa digunakan untuk mengumpulkan massa. Cara itu pun terjaga sebagai bentuk kearifan lokal.

Lalu pada 2000-an, warga mulai menggunakan handy talkie alias HT. Dengan alat komunikasi itu, warga mendapatkan informasi dan menyebarkannya secara luas kepada warga lainnya. “Warga tidak hanya mendengar tanda alam, tetapi juga mendengar informasi lewat HT,” tambah Suroto.

 

Kearifan lokal

Budaya masyarakat lereng gunung dengan kebiasaan hidup komunal dan bergotong royong merupakan modal kearifan lokal yang masih ampuh dijadikan sarana komunikasi dalam mitigasi bencana.

Di Desa Glagaharjo, misalnya, setiap dusun memiliki komunitas yang membuat kesepakatan sendiri ketika menghadapi bahaya erupsi Merapi. “Istilahnya cara evakuasi versi warga,” kata Suroto.

Tugas komunitas ialah menginformasikan soal bahaya. Setelah mendapatkan informasi dari petugas pemantau atau Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, komunitas meneruskan informasi tersebut kepada masyarakat. “Melihat tanda Merapi, menerima informasi dari komunitas, dan bersiap mengevakuasi diri,” kata Suroto.

Warga Desa Sidorejo, Kecamatan Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, juga tinggal di kawasan serupa, sekitar 6 kilometer dari puncak Merapi. Dita Ipomenia, 25, warga desa itu, mengaku tidak pernah takut akan bahaya erupsi Merapi. “Seumur hidup tinggal di sini, seingatku tidak pernah ada ketakutan yang luar biasa. Kami memang pasang telinga dan waspada, kami sadar hidup dengan alam, tidak boleh merusak, jadi alam mau bersahabat,” kisah perempuan yang biasa dipanggil Ipo itu.

Ipo juga ingat dia dibekali cara mitigasi sejak duduk di sekolah dasar. Desanya pun memiliki tim desa siaga yang memberi tahu warga bahwa Merapi tidak akan meletus dengan tiba-tiba sehingga masyarakat tidak perlu panik.

“Tanda-tanda seperti suara gemuruh, gempa, atau letupan kecil harus kami waspadai. Nah dari situ, status gunung biasanya ditingkatkan dan kami tahu kapan harus mengungsi,” tutur Ipo.

Perempuan yang ikut mengungsi saat erupsi Merapi pada 2006 dan 2010 itu juga ingat proses evakuasi selalu berjalan tertib. “Perempuan dan anak-anak didahulukan, sedangkan laki-laki biasanya berjaga di tempat tinggal sampai status gunung ditingkatkan misalnya, barulah mereka turun ke pengungsian juga,” kisah Ipo.

Kini, dengan belajar dari erupsi pada 2010, warga desa meningkatkan kewaspadaan. “Bukan berarti enggak takut terus nantang lo ya. Memang kalau lihat berita itu agak berlebih ya, padahal ya tidak seperti itu kenyataannya kok,” kata Ipo seraya tertawa. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *