Home / STORIA / Bineka / Ngaji Sunyi di Pesantren Waria

Ngaji Sunyi di Pesantren Waria

 

Ramadan adalah momen tepat bagi seluruh umat muslim untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik, tak terkecuali waria di Pesantren Waria Al-Fatah

 

 

AZAN Magrib sudah terdengar. Gelas plastik berisi kolak diedarkan kepada seluruh orang yang ada di serambi Pesantren Waria Al-Fatah, Bantul, DIY, pada pertengahan Juni (11/06), kemarin.

Lalu, doa buka puasa mengalun bareng di antara yang hadir, dipimpin Shinta Ratri, pemimpin pesantren.

“Silahkan diminum kolak dan dinikmati takjilnya,” hatur Shinta kepada semua yang hadir.

Itulah suasana buka puasa bareng di Pesantren Waria petang itu. Ada sekitar lima belas orang lebih yang ikut. Lumayan banyak, tapi suasananya tidak ramai, meski sesekali terdengar candaan di antara mereka.

“Eh kolaknya enak loh,” sahut salah satu waria bernama YS Al-Buchory.

Seperti biasa, di bulan Ramadan, pada Rabu dan Minggu para waria berkumpul di rumah Shinta Ratri untuk belajar mengaji Alquran. Mereka berkumpul sejak sore hari untuk melakukan tadarus Alquran, berzikir dan beribadah.

YS Al-Buchory sedang mengaji di serambi Pesantren Waria bersama seorang pendamping

 

Sore itu YS Al-Buchory sudah mengaji terlebih dahulu didampingi relawan dari PKBI DIY. YS Al-Buchory yang sore itu, Rabu (14/06) memakai sarung tenun berwarna merah, terus tersenyum bungah. Dia yang sedang ngaji Iqra jilid 4, sebentar lagi naik ke Iqra Jilid 5.

“Alhamdulillah, satu lembar lagi hatam dan naik Iqra’ 5,” ucapnya dengan gembira.

Sementara Shinta sudah duduk di serambi rumah, memakai baju kurung berwarna cokelat berpadu dengan jilbab cokelat motif kota-kotak. Dia membuka Alquran dan mulai membacanya.

Sampingnya ada Aprilia Ike Nur Wijayanti, seorang pendamping dari PKBI DIY yang khusus menjadi relawan saat Ramadan.

Pelan-pelan dan bersama-sama mereka membaca Alquran, Surat Hud. “Di sini kami modelnya belajar bareng,” ujar Aprilia yang mendampingi Shinta.

Shinta Ratri mengaji didampingi seorang relawan dari PKBI DIY. (FU)

Setelah beberapa lembar, Shinta berhenti. Tepat di depannya, duduk Rully Malay seorang waria yang sudah sejak lama bergabung di Pesantren Waria. Dia mulai membaca Alquran dengan mengucapkan Basmalah terlebih dahulu, dan mulailah Rully membaca Surat Albaqoroh sampai beberapa ayat.

Mereka yang hadir satu persatu membaca Alquran secara bergantian, dan Aprilia setia mendampingi mereka.

“Jadi kalau sore kita tadarus bareng sampai jelang buka puasa,” katanya.

Sementara yang lain mengaji, Nur Handoko, salah satu pengurus pesantren waria sibuk menyiapkan takjil. Dan ketika azan Magrib berkumandang, YS Al-Buchory dibantu teman-teman waria lainnya beserta para relawan menyuguhkan takjil kepada orang-orang yang hadir.

 

Laku Ibadah

Shinta Ratri adalah penerus pesantren waria Al-Fatah yang didirikan oleh Maryani pada 2008. Ide pendirian pesantren waria sebenarnya sudah ada sejak 2006, pasca gempa yang melanda Yogyakarta. Dan baru bisa terealisasi dua tahun setelahnya.

Meski banyak yang nyinyir dengan keberadaan pesantren waria, Shinta beserta pengurus lainnya tetap terus belajar agama dan mengaji dengan dampingan sejumlah Kiai. Di jalan sunyi ini, Shinta selalu berusaha melanjutkan aktifitas pesantren waria untuk mengaji dan memperdalam ilmu agama.

Ramadan ini sangat berarti bagi waria yang biasa nyantri di pesantren waria, karena aktifitas pesantren kembali aktif setelah sempat vakum selama 6 bulan. Saat itu pada Februari 2016 sekelompok ormas memaksa agar pesantren tutup.

“Puasa ini kami sudah mulai aktif mengaji,” kata Shinta.

Aktifitasnya seperti biasa, setelah tadarus bareng, buka puasa lalu dilanjutkan dengan salat Magrib berjamaah. Dan ketika azan Isya berkumandang, Shinta serta jamaah waria lainnya bergegas mengambil air wudu untuk menunaikan salat Isya berjamaah.

“Terus nanti dilanjutkan salat Tarawih dan mauidhoh hasanah Pak Kiai,” , lalu istirahat sebentar,” ujar Shinta Ratri tentang aktifitas pesantren waria di bulan Ramadan.

Di pesantren, Shinta dan waria lainnya melaksanakan ibadah salat senyaman mungkin. Mereka berbeda-beda ketika beribadah, ada yang mengenakan mukena dan ada yang memilih sarung ketika salat. Semua tergantung pada kenyamanan masing-masing.

Usai Tarawih, para santri waria dan relawan duduk di serambi pesantren. Arif Nuh Safri alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta duduk di antara mereka. Dialah Kiai yang dimaksud Shinta.

Malam itu, Arif menerangkan tentang ayat pertama yang diturukan kepada Nabi Muhammad, “Iqra’ bacalah,” kata Arif.

Melihat para santri waria, Arif bersyukur mereka mau membaca Alquran dan belajar. Baginya itu lebih baik daripada orang lain yang selalu menyalahkan dan tidak mau belajar.

“Kalau belum bisa baca Alquran, baca terjemahannya dulu tidak apa-apa. Yang penting mau belajar dan terus belajar sampai bisa,” kata Arif menanggapi seorang waria yang bertanya tentang cara membaca Alquran bagi yang belum bisa membaca arab.

Kiai Arif Nuh Safri menjadi imam dalam salat Isya di Pesantren Waria. (FU)

 

Dalam beribadah, Kiai Arif tidak begitu mempermasalahkan santri waria yang ingin memakai rukuh atau sarung ketika salat. Karena prinsip ibadah harus memberikan kenyamanan terebih dahulu, terlepas apakah mereka lebih nyaman memakai mukena atau sarung.

“Beribadahlah dengan nyaman dan harus konsisten. Berikanlah mereka (waria) kenyamanan untuk beribadah,” ujar Kiai Arif.

 

Waria berhak ibadah

Hak manusia paling mendasar adalah hak ketuhanan. Ada fitrah ketuhanan yang melekat pada manusia, jadi melarang orang untuk mencoba berhubungan atau beribadah dengan Tuhan yang diyakini adalah menafikan fitrah mereka.

“Karena ada janji ketuhana di dalam rahim,” kata Kiai Arif meneguhkan niat para waria yang ingin belajar ngaji.

Kiai Arif melihat, sejak awal kehadiran waria selalu menjadi kontroversi, sehingga memahami waria pun tidak mudah. Jadi ketika ada waria yang ingin beribadah mendekatkan diri kepada Tuhan, Kiai Arif berharap jangan ada yang mencemooh.

“Rasulullah saja tidak pernah mencemooh dan mengecam,” katanya.

Waria punya hak untuk beribadah, tapi tak banyak orang yang mau mendampingi mereka. Untuk itulah Kiai Arif rela mendampingi mereka meski tak sedikit orang-orang yang mencemoohnya.

“Mereka mau salat saja saya sudah bersyukur. Mau puasa dan ngaji, itu Alhamdulillah. Keinginan mereka untuk berbuat baik sedikit itu sudah luar biasa,” imbuhnya.

Kehadiran pesantren waria dan dampingan yang diberikan Kiai Arif serta relawan lainnya, membuat Shinta Ratri dan waria lainnya sangat bersyukur, masih ada orang dan tempat yang menuntun ke jalan Tuhan.

Seperti YS Al-Buchory yang tidak tahu mau ke mana jika tidak ada pesanteren waria. Mau mengaji di pesantren lain takut kalau dia tidak diterima. Demikian juga dengan Rully Malay, baginya pesantren waria adalah tempat mendekatkan diri kepada Allah, beribadah, ngaji dan salat berjamaah.

Bagi Rully, aktifnya pesantren waria tidak terlepas dari rahmat Tuhan untuk orang-orang yang tidak terfasilitasi negara untuk menjalankan ibadah. Kehadiarannya berperan penting dalam memenuhi hak-hak asasi bagi Rully dan teman-temannya yang selalu terpinggirkan dan mendapatkan sitgma negatif dari masyarakat.

“Dan Alhamdulillah, meskipun saya transgender, saya bisa selalu beribadah mendekatkan diri kepada Tuhan dan berbuat baik kepada manusia, hablum minallah dan hablum minannas,” ucap Rully.

Harapan para waria cuma satu, pesantren waria tetap ada sebagai tempat beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Dan itulah yang mereka rasakan, mendekat kepada Allah meski harus melalui jalan sunyi dan sering mendapat stigma negatif. [FU]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *