Home / STORIA / Bineka / Kisah Semangkuk Toleransi

Kisah Semangkuk Toleransi

Kala sebagian orang masih gagap memaknai toleransi beragama, masyarakat Kudus telah fasih menjalankannya sejak ratusan tahun lalu melalui tradisi kuliner kerbau.

 

JANGAN mengeluarkan banyak energi untuk mencari semangkuk soto sapi di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Susah. Mending cari soto kerbau, karena itulah ciri khas kuliner Kudus yang melegenda dan menyimpan sejarah panjang perjalanan dakwah Kanjeng Sunan Kudus Jafar Shadiq yang mengajarkan tepo seliro, toleransi dan kerukunan antar umat beragama.

Benar, kala sebagian orang Indonesia masih gagap memaknai toleransi beragama, masyarakat Kudus telah fasih menjalankannya sejak ratusan tahun lalu melalui tradisi kuliner kerbau.

Tradisi ini bermula dari zaman penyebaran Islam oleh Kanjeng Sunan Kudus, Raden Jafar Shadiq. Waktu itu penyebar Islam tersebut melihat betapa pemeluk agama Hindu sangat hormat terhadap sapi. Bahkan mereka mensakralkannya.

Sunan Kudus kemudian meminta umat muslim Kudus dan keturunannya tidak mengonsumsi daging sapi meski dihalalkan dalam syariat Islam.

Sejak itu masyarakat Kudus memiliki tradisi baru, yakni tidak menyembelih sapi. Untuk menu makanan daging, masyarakat menggantinya dengan kerbau.  Mulai dari soto kerbau, satai kerbau, pindang kerbau, empal kerbau, sampai lidah kerbau. Pokoknya serba kerbau.

Tradisi ini kemudian menjelma sebagai kuliner khas Kudus. Dan pada libur lebaran kemarin, sejumlah warung yang menjajakan kuliner khas ini ramai pengunjung. Seperti di warung Soto Karso-Karsi di Jalan R. Agil Kusumadya, Kudus.

Nanik Cahyani, pemilik warung itu mengaku sudah sejak lama berjualan soto kerbau. Ia adalah generasi ketiga di keluarganya yang meneruskan warung soto kerbau Karso-Karsi.

“Kami khusus soto kerbau,” katanya.

Bagi Nanik, soto kerbau adalah bentuk penghormatan masyarakat Kudus kepada pemeluk agama Hindu yang kala itu sangat menghormati Sapi. Saat itu masyarakat Kudus memilih tidak meneyembelih sapi, karna dilarang oleh Sunan Kudus. Dan untuk mengobati keinginan makan daging, digunakanlah daging kerbau untuk soto.

Dalam semangkuk soto kerbau, terdiri dari nasi putih, irisan daging kerbau, tauge, kubis, daun kucai, lalu disiram dengan kuah kaldu kerbau, dan diberi taburan bawang goreng di atasnya.

Semua bumbu menggunakan racikan bumbu alami dan resep warisan keluarga yang sudah turun-temurun. Hasilnya membuat aroma soto kerbau semerbak mengundang selera makan. Dan untuk melengkapi cita rasanya, bisa ditambahkan tahu bacem, kecap asin, perasan jeruk nipis, atau sambal sesuai selera.

Selain soto kerbau, ada satu lagi kuliner khas Kudus yang mengandung nilai keberagaman dan toleransi, satai kerbau. “Saya generasi kedua,” ujar Parimin.

Parimin lebih dikenal masyarakat Kudus dengan nama Min Djastro. Generasi kedua dari Djastro-Djasni yang berjualan satai kerbau sejak 1950. Dia mengaku meneruskan usaha orang tua sekaligus melestarikan tradisi kuliner khas kudus serba kerbau.

“Karena dulunya kan tidak boleh menyembelih sapi oleh Kanjeng Sunan Kudus. Jadi sebagai masyarakat Kudus kami melestarikan wejangan Njeng Sunan,” katanya.

 

Nilai Toleransi

Kalau dicermati, dalam semangkuk soto kerbau dan setusuk satai kerbau tak hanya sebuah hidangan kuliner belaka. Tapi ada sebuah filosofi yang ingin disampaikan. Yakni, tentang cara masyarakat Kudus menyiasati dan menikmati perbedaan.

Soto kerbau misalnya, kuah dalam soto kerbau merupakan representasi budaya Jawa yang mendominasi dalam semangkuk soto kerbau. Berwarna bening, sedikit berminyak, dan ada tarikan rasa asem kawak (asam jawa).

Bumbu-bumbu yang digunakan pun khas cita rasa Jawa, seperti penggunaan kemiri agar tahan lama. Dalam penyajiannya bisa dipilih, nasi langsung dicampur dengan kuah soto atau terpisah.

Soto Kerbau Karso-Karsi Kudus. Dalam semangkuk soto ini menyimpan makna toleransi dan keberagaman. Foto: Yaya Ulya

 

Mangkuknya kecil, artinya kalau makan jangan sampai berlebihan. Tapi kalau mau nambah, tinggal pesan lagi. “Daripada banyak nanti tidak habis, mubadzir,” kata Nanik.

Nur Said, peneliti Islam dan Budaya Lokal dari Kudus, mengatakan soto kudus dan satai kerbau bukanlah sembarang kuliner. Ada nilai historis, sosiologis, dan kultural yang tinggi dan melekat di dua kuliner khas Kudus ini.

Yang paling penting, lanjut peneliti yang karib disapa Kang Said ini, adalah nilai ajaran Sunan Kudus yang mengajarkan kearifan dan kebijksanaan sebagai seorang pemimpin. “Ketika meyebarkan agama Islam Sunan Kudus sangat bijak dan damai, bahkan menghormati pemeluk agama lain,” katanya.

Pemeluk agama Hindu yang kala itu mensakralkan Sapi, dihormati dengan cara melarang masyarakatnya untuk tidak menyembelih sapi. Sampai sekarang, masyarakat Kudus pun melestarikannya dan mewujud kuliner soto dan satai kerbau.

“Jadi ada pendidikan toleransi dan keberagaman dalam semangkuk soto atau sepiring sate kerbau,” ujar Kang Said.

Kanjeng Sunan Kudus waktu itu dikalangan Wali 9 dikenal sebagai Waliyyul Ilmi, atau orang yang berilmu tinggi. Strategi dakwah pun diterapkannya dalam menyebarkan agama Islam di Kudus, penuh kedamaian dan menghormati pemeluk agama lain atau masyarakat lokal Kudus.

“Dakwah Sunan Kudus pada waktu itu menyebarkan agama Islam secara damai,” ujar KH. Khoirozyad, TA. salah satu tokoh agama di Kudus.

Larangan menyembelih sapi bukan berarti Kanjeng Sunan Kudus mengharamkan menyembelih bahkan makan Sapi. Tapi bagaimana caranya dakwah Kanjeng Sunan Kudus tidak menyakiti umat Hindu yang kala itu mensakralkan sapi.

Maka Kanjeng Sunan Kudus melarang murid-murid dan santri-santrinya menyembelih sapi, karena bisa melukai masyarakat setempat yang masih mengangung-agungkan dan mengkeramatkannya.

“Ini salah satu dari teposeliro Kanjeng Sunan Kudus,” imbuh KH. Khoirozyad, TA.

Sampai sekarang, masyarakat Kudus masih melestarikan apa yang menjadi wejangan Kanjeng Sunan Kudus. Dan di Masjid Menara, setiap lebaran Idul Adha tidak pernah menyembelih sapi sebagai hewan kurban, melainkan kambing dan kerbau.

 

Resep Toleransi

Sembari mengipasi daging kerbau di panggangan, Min Djastro dengan senang hati berbagi resep satai kerbau miliknya. Ia berbagi bagaimana cara mendapatkan daging kerbau yang segar dan cara memasaknya.

Nah, menurutnya, agar mendapatkan daging kerbau yang segar, Parimin biasa membeli langsung dari jagal. Yang ia ambil hanyalah bagian punggung (lulur) dan paha belakang bagian atas. “Dan untuk jeroannya, hanya babat, usus, lidah, dan hati,” terangnya.

Sebelum dimasak, Parimin terlebih dahulu menyayat daging untuk diambil urat-uratnya. Setelah itu, bagian daging tadi diiris-iris tipis, lalu ditutuki (dicacah) dengan palu kayu sampai lunak.

“Urat-uratnya tadi dijadikan koyor, tapi harus direbus dulu hingga lunak,” imbuh Parimin, tak pelit berbagi ilmu.

Untuk bumbu, Min Dajstro menggunakan racikan bumbu warisan keluarga dan pada dasarnya mirip dengan bumbu rendang. Seperti ada ketumbar, jinten, bawang putih, asem jawa, gula jawa, garam, dan yang penting tanpa bumbu masak.

Satai Kerbau Min Djastro. Foto: Yaya Ulya

 

Nah, cara membuat membuat sambal ada tambahan khusus, serundeng. Parimin mengutamakan serundeng atau kelapa parut yang disangrai. Agar rasanya tambah menggigit, ditambahlah dengan kentang yang direbus lalu ditumbuk hingga halus Tambahkan cabai tentunya.

“Semua dijadikan satu, masukin wadah dan direbus sampai keluar minyaknya.”

 

Belajar dari Soto Kerbau

Setara Institute mencatat, sepanjang 2015, telah terjadi 197 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama atau berkeyakinan dan 236 bentuk tindakan yang tersebar di seluruh Indonesia. Jika dibandingkan dengan 2014, angka ini menunjukkan kenaikan yang cukup signifikan. Karena pada 2014, jumlah peristiwa pelanggaran yang terjadi tercatat 134 peristiwa, dan 177 tindakan.

Secara umum, korban pelanggaran kebebasan beragama, berkeyakinan di tahun 2015 menimpa beragam kelompok. Paling besar adalah jema’ah mazhab Syi’ah. Mereka menjadi korban dalam 31 peristiwa dengan berbagai bentuk tindakan pelanggaran yang menimpa mereka.

Berikutnya warga dan umat Kristiani, dengan masing-masing menjadi korban dalam 29 peristiwa pelanggaran. Umat Islam dan aliran keagamaan menjadi kelompok korban berikutnya. Umat Islam menjadi korban dalam 24 peristiwa pelanggaran dan aliran keagamaan menjadi korban dalam 14 peristiwa.

Sementara dari sisi aktor atau pelaku, mereka membaginya menjadi dua, yakni tindakan yang dilakukan oleh negara serta tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh aktor bukan negara.

Di tahun 2016, Setara Institue menemukan lebih banyak pelanggaran dibanding tahun 2015 (Lihat Grafik). Dalam catatan laporan itu menyebut ada 208 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama, berkeyakinan dengan 270 bentuk tindakan, yang tersebar di 24 provinsi. Sebagian besar pelanggaran terjadi di Jawa Barat, yaitu dengan 41 Pelanggaran dengan angka tinggi juga terjadi di DKI Jakarta (31 peristiwa) dan Jawa Timur (22 peristiwa).

Dari 270 tindakan pelanggaran kebebasan beragama, berkeyakinan, terdapat 140 tindakan pelanggaran yang melibatkan para penyelenggara negara sebagai aktor. Dari 140 tindakan negara, 123 di antaranya dalam bentuk tindakan aktif (by commission), sementara 17 tindakan merupakan tindakan pembiaran (by omission). Termasuk dalam tindakan aktif negara adalah pernyataan-pernyataan pejabat publik yang provokatif dan mengundang terjadinya kekerasan (condoning).

Temuan Setara Institute 2016 ini, jika dibandingkan dengan data tahun lalu (2015), angkanya menunjukkan kenaikan yang signifikan, yakni meningkat 11 peristiwa dan 34 tindakan. Pada tahun 2015, jumlah peristiwa pelanggaran yang terjadi sebanyak 196 peristiwa, sedangkan tindakan pelanggaraan di angka 236 tindakan.

Nah, melihat maraknya aksi intoleransi di sejumlah daerah, Kang Said, mencoba menawarkan kuliner khas Kudus sebagai media kampanye pendidikan toleransi. “Karena contohnya konkret,” katanya.

Menurut Kang Said, makna kuliner soto kerbau dan satai kerbau dengan konteks sekarang adalah bagaimana membangun perdamaian melalui kearifan lokal seperti yang diajarkan Kanjeng Sunan Kudus.

“Jadi kuliner ini tidak hanya mengisi perut, tapi ada nilai historis filosofis. Dan setiap orang yang makan soto kerbau, maka dia telah menyerap nilai toleransi,” terangnya.

Ya, kuliner khas Kudus ini, baik soto maupun satai kerbau adalah sebuah bukti konkret bahwa perbedaan bila berjalan beriringan dan selaras akan menghasilkan sebuah inovasi baru yang indah.

Keselarasan tak akan tumbuh tanpa adanya kesempatan bagi setiap budaya untuk hidup, berkembang, dan berakulturasi dengan budaya lainnya. Dan percayalah, setiap budaya bisa menyumbangkan nilai positif untuk masyarakat. Seperti soto dan satai kerbau dari Kudus. [FU]

2 comments

  1. wah mantep itu masakanya kak hehe

    WWW YUKGAS ID

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *