Home / STORIA / Bineka / Upacara Bendera dan Doa Keberagaman

Upacara Bendera dan Doa Keberagaman

Lagu-lagu perjuangan mereka kumandangkan, doa dan harapan mereka uraikan

 

GANGSIPUT.COM – JARUM jam sudah menunjuk angka sembilan, sementara penanda menit masih berada di bawahnya, angka enam. Puluhan orang yang hadir telah disiapkan sebelumnya. Seketika suasana hening, hanya suara sirine menderu lantang sebagai penanda dimulainya detik-detik proklamasi. Sampai akhirnya seorang perempuan maju ke depan membacakan teks proklamasi.

Itu adalah suasana awal dimulainya upacara bendera peringatan hari kemerdekaan RI ke-72 di sebuah halaman gedung yang terletak di Jalan Taman Siswa, Yogyakarta, 17 Agustus kemarin.

Upacara itu diadakan oleh sejumlah aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) dan diikuti beberapa komunitas, seperti Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo), People Like Us Satu Hati (Plush), Youth Forum PKBI DIY, dan Pesantren Waria Al-Fatah.

Shinta Ratri Pengasuh Pesantren Waria Al-Fatah didaulat sebagai Inspektur Upacara, sementara Mario Pratama dari Plush sebagai Komandan Upacara, dan Inesh dari Iwayo menjadi salah satu pengibar Sang Merah Putih.

Bagi peserta yang mendapat tugas paduan suara, mereka memakai kebaya: jarik bermotif Kawung dipadukan baju panjang berwarna merah. Ada yang bersanggul dan tidak sedikit yang sengaja membiarkan rambutnya terurai. Dan dari seluruh peserta yang hadir, warna merah-putih mendominasi pakaian mereka.

Sayup-sayup lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman terdengar usai pembacaan teks proklamasi. Semakin lama lagu itu semakin jelas mengalun mengiringi penaikan bendera Sang Saka Merah Putih di batang bambu yang tingginya sekitar 5 meter.

Seluruh peserta yang mengikuti upacara bendera memberikan hormat kepada Sang Saka Merah Putih sesuai Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan.

Di pasal 15 ayat 1 disebutkan, bahwa pada waktu penaikan atau penurunan bendera negara, semua orang yang hadir memberi hormat dengan berdiri tegak dan khidmat sambil menghadapkan muka kepada bendera negara sampai penaikan atau penurunan bendera negara selesai.

Usai lagu, Komandan Upacara memberikan aba-aba selesainya penghormatan bendera Merah Putih. “Tegak….. Grak!,” teriaknya lalu diikuti sikap tegak seluruh peserta upacara.

Susunan acara mereka lalui semua dengan penuh khidmat, mulai dari pembacaan teks Pancasila oleh Inspektur Upacara, pembacaan Pembukaan UUD 1945, dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan secara bersamaan: seperti Hari Merdeka karya H. Mutahar, Maju Tak Gentar karya Cornel Simanjuntak, dan Nyiur Hijau karya Maladi.

Upacara Bendera memeringati kemerdekaan RI ke-72 oleh aktivis HAM dan kelompok LGBT DIY. Foto: Yayaka

 

Nasionalisme tak terbatas, kalimat itu pantas terucap untuk mereka yang mengikuti upacara bendera perayaan kemerdekaan RI ke-72. Seperti tersurat dalam pidato Shinta Ratri.

Yah, terik mentari semakin terasa mengiring berjalannya waktu. Shinta masih di depan sebagai inspektur upacara. Memakai jarik warna merah bermotif bunga dipadukan baju lengan panjang warna putih dan kerudung yang warnanya sama dengan jarik, mulai mengambil ancang-ancang untuk berpidato.

Shinta bangga dengan semua peserta yang hadir khsusunya kepada sejumlah kelompok LGBT yang ikut merayakan upacara kemerdekaan RI ke-72. Baginya, kehadiran kelompok LGBT adalah bukti nasionalisme dan wujud nyata sebagai Warga Negara Indonesia

“Kita semua di sini sebagai warga negara yang punya rasa cinta kepada tanah air, kita mampu berbangsa dan bernegara dengan baik. Saya sangat bangga dengan kehadiran kawan-kawan semua,” ujar Shinta Ratri dalam pidatonya.

Meski tak lama, namun semua yang hadir khidmat mendengarkan pidato Shinta dan mengikuti semua rangakaian upacara sampai selesai. Takjub, tidak ada peserta yang berteduh atau duduk-duduk meski terik mentari semakin menyengat kulit.

Penghargaan kepada peserta diberikan Shinta Ratri lantaran dia tahu bagaiamana persiapan yang dilakukan sejumlah peserta. YS Albuchori, misalnya, dia harus mempersiapkan diri untuk tampil anggun saat upacara. YS, begitu panggilan karibnya, mengaku tidak pernah memakai bulu mata saban harinya. Dan itu tak berlaku saat ikut upacara, dia sengaja memakainya.

“Ini khsusus untuk upacara kemerdekaan,” katanya sambil menunjuk bulu matanya lalu mencoba merapikannya.

Tak cuma itu, YS mengaku secara khusus menyewa kebaya. Karena sebelumnya telah disepakti, untuk peserta paduan suara memakai kebaya: atas warna merah, bawah putih dengan motif batik. “Kami punya tempat rias khusus yang sudah jadi langganan perlengkapan rias.”

Dan pada hari pelaksanaan upacara, YS beserta kawan-kawannya sudah bersiap dandan sejak pagi hari, jam enam. “Sejak pagi kami sudah bersiap, ini khusus untuk kemerdekaan RI,” ucapnya sambil tersenyum dan mengepalkan tangannya, mirip para pejuang kemerdekaan ketika bertemu teman seperjuangan dan memekikkan kata Merdeka.

Persiapan jauh-jauh hari juga dilakukan Purwanti yang didaulat menjadi pemandu suara saat menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Meski sudah persiapan, awalnya Purwanti sempat grogi karena berada di depan puluhan orang. Rasa percaya diri mendadak muncul begitu saja ketika tangannya sudah mulai digerakkan. Hasilnya, ia terlihat riang memainkan tangannya layaknya seorang dirigen yang sudah penuh jam terbangnya.

Di akhir pidatonya, Sinta kembali mengapresiasi kerja bersama semua peserta upacara. Harapannya, kebersamaan dan persatuan bisa terus berlangsung sehingga tahun depan bisa kembali melaksanakan upacara bendera untuk merayakan kemerdekaan RI ke-73.

“Tahun depan semoga lebih ramai dan terkoordinasi,” harapnya.

 

Hapus Diskriminasi

Sebenarnya upacara bendera memeringati kemerdekaan RI secara bersamaan dengan diikuti puluhan kelompok LGBT dan para aktifis kebergaman, sudah pernah digelar. Namun itu sudah lama, lima tahun silam. Setelah itu, upacara dilakukan tak terkoordinasi dan sendiri-sendiri.

Upacara Bendera memeringati kemerdekaan RI ke-72 oleh aktivis HAM dan kelompok LGBT DIY. Foto: Yayaka

 

Kondisi itu karena mulai bermunculan stigma di tengah masyarakat tentang keberadaan kelompok LGBT. Itulah yang diungapkan Mario Pratama usai mengikuti upacara.

“Ruang gerak kami selalu dibatasi,” ujarnya.

BACA : Nagaji Sunyi di Pesantren Waria

Mario meneruskan, barangkali kelompok LGBT yang mengikuti upacara bendera memeringati kemerdekaan atau acara lain di kampungnya, tidak bisa mengekspresikan diri. Padahal salah satu bentuk kemerdekaan adalah bisa melakukan upacara sebagai dirinya sendiri. Namun ketika mencoba mengekspresikan sebagai diri sendiri, kelompok LGTB sering mendapat tekanan.

“Makanya kami butuh tempat aman untuk upacara dan bisa mengekspresikan diri,” terangnya.

Komandan upacara itu pun senang, peserta yang hadir cukup banyak. Dan itu adalah tanda bahwa kelompok LGBT bisa rukun dan memiliki rasa nasioanlisme tinggi. Baginya, perayaan kemerdekaan adalah sebuah pengingat bahwa kemerdekaan butuh perjuangan. “Kalau kita ingin merdeka, maka harus diperjuangkan,” katanya.

Untuk meraih kemerdekaan memang perlu perjuangan, hal inilah yang dipraktikkan para pendahulu menuju Indonesia Merdeka. Seperti ulasan Max Lane di historia.id tentang perjuangan, bahwa peringatan kemerdekaan pada 17 Agustus adalah simbol dari proses yang sudah berlangsung lama.

17 Agustus bukan hanya milik Sukarno yang memproklamasikan kemerdekaan. Bukan hanya milik Hatta, Syahrir, Sudirman, Bung Tomo, Tan Malaka, Natsir, Musso, Amir Syarifuddin, Ngurah Rai, saja. Kemerdekaan Indonesia adalah milik semua rakyat Indonesia: puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan orang yang ada di Indonesia. Kemerdekaan atau revolusi nasional adalah milik kita semua, termasuk semua rakyat miskin yang ikut angkat bambu runcing untuk berjuang dan merebut kemerdekaan.

Dalam konteks saat ini, Max Lane menyebut, merebut kembali 17 Agustus adalah merebut kembali demokrasi dan itu hanya berarti membuka pintu tentang kemungkinan dan kesempatan yang lebih luas untuk mencari solusi-solusi atas masalah yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Ini jelas bukan soal gampang, tetapi semakin orang Indonesia memiliki kemerdekaan untuk mempertarungkan gagasannya, semakin mungkin pula menemukan solusinya.

Merdeka artinya tidak ada lagi diskriminasi, tak ada lagi pelanggaran hak asasi manusia. Dan harapan itulah yang terus dilontarkan kelompok LGBT. Mario Pratama pun berharap, bertolak dari upacara serentak itu, Negara mengetahui bahwa LGBT itu warga negara yang cinta Indonesia, punya hak sebagai warga negara dan harus mendapatkan jaminan serta perlindungan dari negara.

“Kami warga negara harusnya diperlakukan sama, dijamin hak-haknya dan dilindungi,” katanya.

 

Doa keberagaman

Sebelum acara usai, seluruh peserta mengamini apa yang diucapkan Arif Nur Syafri, Kiai yang selama ini mendampingi Pondok Alfatah. Apa yang diucapkan Arif adalah doa, dia berdiri di tengah teriknya mentari, jas hijau yang dikenakannya seolah menjadi mantel antipanas di siang itu.

Upacara Bendera memeringati kemerdekaan RI ke-72 oleh aktivis HAM dan kelompok LGBT DIY. Foto: Yayaka

 

“Marilah kita bersama-sama berdoa menurut kepercayaan kita masing-masing,” ajaknya untuk memulai doa bersama.

Di hari kemerdekaan itu, mereka berdoa agar diberikann kekuatan untuk dapat melanjutkan, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan yang positif dan baik untuk Indonesia tercinta.

Keberagaman menjadi doa yang selalu mereka pinta. Berdoa agar Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan adat istiadat, dapat terus bersatu dalam keberagaman, dan berdoa agar perbedaan menjadi rahmat bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Berikan kepada kami kesadara bahwa kami akan indah dalam persatuan dan kebegaraman.”

Mereka terlihat khusuk dan khidmat berdoa. Mereka berdoa agar selalu mendapatkan kekuatan dalam mencintai perbedaan, mampu menyebarkan perdamaian, memperkuat diri, keluarga, masyarakat dan bangsa Indonesia. Doa kepada pemimpin pun mereka pinta, agar mendapatkan pemimpin yang bisa mendengarkan aspirasi rakyat dan sebaliknya, mereka semua menjadi rakyat yang bisa merasakan apa yang dirasakan pemimpinnya.

“Jadikanlah dan berikanlah kepada kami pemimpin yang mampu merasakan apa yang dirasakan rakyatnya dan jadikalanlah kami rakyat yang mampu merasakan apa yang dirasakan pemimpin kami.”

Usai berdoa, mereka semua bersalaman dan ada yang berpelukan. Saling mengekpresikan kegembiraan masing-masing. YS Albuchori selaku pemandu acara langsung mengomando. Dia meminta semua berkumpul untuk foto sebelum pulang.

“Ayo kita foto-foto dulu,” ajaknya.

Nur Handoko, salah satu peserta langsung ikut berkumpul. Sambil berjalan dia menjawil salah satu temannya seraya berteriak, “Merdeka!”

Tak terasa matahari sudah berada tepat di atas kepala. Jarum jam sudah bertemu tepat di angka 12, mereka mulai berpisah dan kembali ke tempat masing-masing. Ada banyak harapan yang terus mereka semai: tegaknya demokrasi, jaminan rasa aman, dan hadirnya Negara dalam memberikan perlindungan. Kehadiran Negara adalah sebuah keniscayaan di negeri yang berdasarkan Pancasila dan berlandaskan konstitusi. []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *