Home / STORIA / Bineka / Malam Ramadan Di Tiongkok Kecil

Malam Ramadan Di Tiongkok Kecil

Oleh: Efulya Himawan

 

 

GANGSIPUT.COM – PADA suatu malam, puluhan jamaah meriung di halaman Pondok Pesantren Kauman, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, Minggu (20/05). Sehabis salat tarawih, satu persatu berdatangan. Ada yang jalan kaki, ada juga yang naik kendaraan. Mereka rela menempuh jarak yang tidak begitu dekat hanya untuk mengikuti ngaji kitab pasananyang dilaksanakan pondok. Sperti Sujudi (68), dan keluarganya.

“Saya ke sini bersama rombongan keluarga, naik itu,” kata Sujudi sambil menunjuk kendaraan bermotor roda 3 yang bagian belakangnya terdapat bak terbuka dan bisa memuat sampai 8 orang dewasa.

Setelah memarkir kendaraannya, Sujudi langsung bergegas ke pondok untuk mengikuti ngaji yang sudah mulai sejak tadi. Dia langsung meriung bersama jamaah lelaki di depan pondok, sementara isteri dan keluarganya yang perempuan masuk ke dalam pondok meriung bersama jamaah perempuan lainnya.

MENGAJI – Puluhan jamaah meriung di halaman Pondok Pesantren Kauman, Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Mereka mengaji kitab-kitab klasik secara bandongan setiap malam sehabis salat Tarawih. FOTO: Yaya Marjan.

Setiap bulan Ramadan, Pondok Pesantren Kauman selalu penuh dengan agenda ngaji kitab. Masyarakat sekitar bisa mengikutinya karena terbuka untuk umum. Mulainya sehabis tarawih sampai sekitar pukul 21.30 WIB.

“Itu ngaji kitab Riyadhus Shalihin. Setiap malam habis tarawih,” kata Murtadlo, ketua Pondok Pesantren Kauman, saat kutemui padaMinggu (20/05).

Pondok Pesantren Kauman adalah pondok yang berada di lingkungan kampung pecinan. Tepatnya di Desa Karangturi, Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Sebuah perkampungan Tionghoa yang terletak di Lasem.

Menilik sejarahnya, Lasem merupakan wilayah pendaratan orang-orang Tionghoa di tanah Jawa dan tempat mendaratnya armada besar Laksamana Cheng Ho ke Jawa. Dari sejarah itulah, pemerintah Kabupaten Rembang ingin Lasem selalu dikenang sebagai Tiongkok kecil. Mereka pun mencanangkan Lasem sebagai Kota Pusaka. Yakni sebuah kota yang dulunya ramai sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang mempertemukan kaum santri, Tionghoa dan Arab.

Abah, begitu panggilan karib KH. Zaim Ahmad Ma’shoem sang pengasuh Pondok Pesantren Kauman, cerita Murtadho, selalu mengajarkan kerukunan dan sikap saling tolong menolong sesama manusia. Meski berbeda agama, manusia harus saling tolong menolong dan tidak boleh melakukan kekerasan karena Islam itu merahmati seluruh alam semesta.

“Abah (KH. Zaim Ahmad Ma’shoem) sedang ibadah umrah,” ujar Murtadlo.

>> Baca juga: Ngaji Sunyi Di Pesantren Waria

Sayang, aku taku bisa bertemua Kiai yang mengajarkan toleransi kepada santrinya. Menurut Murtadlo, Abad sedang pergi ke Mekkah menunaikan ibadah umrah bersama isterinya.

Tak ada waktu tanpa mendaras, begitu ungkapan sebagai gambaran kegiatan Ramadan di Pondok Pesantren yang mengajarkan toleransi dan keberagaman ini. Usai sahur, santri salat subuh berjamaah, lalu mendaras bareng. Di pagi hari usai salat duha juga ada ngaji. Mereka yang sekolah, pergi sekolah. Namun mereka yang tidak sekolah ikut mengaji di pondok.

“Yang tidak sekolah ngaji lagi sampai waktu menjelang duhur,” ujar Murtadlo.

Habis salat duhur para santri mendaras lagi, baik kitab kuning atau mendaras Alfurqan. Ngaji di siang hari digelar sampai menjelang waktu asar. Habis asar para santri mendaras lagi sampai menjelang waktu berbuka puasa. Setelah berbuka puasa, para santri ada yang mengaji atau bersiap-siap salat isya dan tarawih. Begitu seterusnya.

Biasanya, warga sekitar ikut mendaras kitab kuning usai tarawih. Mereka datang dari berbagai daerah, tidak hanya warga sekitar saja. Seperti yang dilakukan Sujudi. Mereka biasa ikut ngaji kitab fiqih atau khadist.

“Nagjinya beda-beda. Ada kajian fiqih, khadist, dan Al-Quran. Pondok kami ciri khasnya itu ilmu fiqih dan Al-Quran.” Ujar Murtadlo.

 

Mendaras Alfurqan

Malam masih panjang. Jarum jam baru menunjuk pukul 22.00 WIB. Puluhan santri putra Pondok Pesantren Kauman, masih meriung di halaman pondok. Pakaiannya khas pondok pesantren; bersarung dan berpeci hitam. Mereka baru saja menyelesaikan ngaji kitab.

MENDARAS – Beberapa santri Pondok Pesantren Kauman, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, sedang mendaras Alfurqan di musalla. Setiap malam ramadan mereka selalu mendaras Alfurqan: bareng-bareng di musalla atau sendiri-sendiri di bilik masing-masing santri. FOTO: Yaya Marjan.

 

Di depan halaman Pondok Pesantren Kauman terdapat sebuah bangunan kecil yang sangat mencolok. Ukurannya sekitar 5×5 meter. Semua bangunannya terbuat dari kayu mirip rumah joglo. Dua buah lampu bergaya lampion: bundar dan berwarna merah, tergantung di kanan dan kiri bangunan. Di lantainya, terdapat karpet hijau bercorak kubah masjid. Sebuah perpaduan antara Jawa, Tiongkok, dan Islam.

Murtadlo menyebut, bangunan itu adalah musalla. Tempat untuk salat dan mengaji santri Pondok Pesantren Kauman. “Itu musallanya,” kata dia.

Terlihat seorang lelaki masuk lewat pintu samping. Mengenakan sarung dan berpeci hitam. Pengeras suara musalla menyala, lamban dan tidak terlalu keras, suara lantunan ayat-ayat suci Alfurqan mulai mengalun di malam yang mulai gerimis.

Qomarudin, nama lelaki itu. Dia salah satu santri Pondok Kauman. Mendaras dengan khidmat, pelan dan tidak terlalu keras. Pengeras suara yang muncul tidak sampai jauh, hanya sekitar pondok. Atau hanya memakai pengeras dalam saja.

Sudah menjadi adat, setiap malam di bulan Ramadan, santri Pondok Pesantren Kauman mendaras di musalla. Waktunya sehabis ngaji kitab, mulai jam sepuluh sampai jam sebelas atau sampai tengah malam. Biasanya yang ikut mendaras adalah pengurus pondok.

“Kalau hari biasa (tidak di bulan Ramadan), waktunya sehabis salat subuh,” kata Muhammad Dhiyauddin, pengurus pondok yang malam itu ikut mendaras bersama Qomarudin.

Dhiyauddin bergegas masuk musalla. Mengambil meja kecil yang terbut dari kayu. Dia duduk di samping Qomarudin. Membuka Alfurqan lalu ikut mendaras bersama Qomarudin. Mereka berdua sangat khidmat. Saling menyimak. Dan malam itu mereka mendaras juz 30.

MENDARAS – Santri Pondok Pesantren Kauman, Lasem, Rembang, Jawa Tengah, sedang mendaras Alfurqan di depan bilik pondok. Setiap malam ramadan mereka selalu mendaras Alfurqan: bareng-bareng di musalla atau sendiri-sendiri di bilik masing-masing santri. FOTO: Yaya Marjan.

Tak banyak yang ikut mendaras, seperti kata Dhiyaudin, yang rutin mengikuti hanya pengurus. Jumlahnya sekitar 3-5 orang saja. Tidak semua pengurus, tapi bergantian. Santri lainnya, mendaras sendiri bersama santri lain di kamar pondok atau di teras musalla. Saling menyimak.

Benar. Di sebuah bilik yang menjadi kamar santri dan letaknya di samping musalla. Seorang santri sedang mendaras. Dan di luar musalla, juga terdapat seorang santri yang sedang mendaras. Khidmat.

Suara darasan ayat-ayat Alfurqan terus mengalun, baik yang dengan pengeras suara seperti di dalam musalla atau tanpa pengeras suara seperti yang dilakukan para santri di biliknya masing-masing. Gerimis yang turun malam itu seolah semakin menambah kekhidmatan santri dalam mendaras.

Di Bulan Ramadan, santri bisa beberapa kali khataman Alfurqan. Seperti malam itu saja, Qomarudin dan Dhiyauddin mendaras juz 30. “Setiap hari kita mendaras, dan malamnya kami meneruskan di musalla,” ujar Dhiyauddin.

 

Toleransi dan Keberagaman

Ajaran toleransi kepada umat beragama lain dan saling tolong menolong kepada semuanya selalu menjadi penekanan Abah kepada santri-santrinya. Hal itulah yang menjadi keindahan tersendiri di pondok ini. Apalagi para santri selalu mempraktikkan ajaran itu.

KEBERAGAMAN – Sujudi dan keluarganya berfoto di depan bangunan bercorak Tionghoa yang difungsikan sebagai pos kampling. Pos kampling itu terletak di dekat Pondok Kauman yang masih terawat keberadaannya sampai sekarang. FOTO: Yaya Marjan.

 

Royhan (17), salah satu santri pondok mengaku mendapat banyak pencerahan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup di dunia. Sebagai pemeluk agama mayoritas di Indonesia, Islam. Menurut Royhan, seharusnya bisa melindungi dan mengayomi minoritas.

“Islam itu kan agama yang rahatan lil alamin, merahmati semua alam, bukan hanya golongan tertentu saja,” ujar Royhan tentang ajaran yang selalu ditekankan kiainya, Abah Zaim.

Sikap toleransi itu santri praktikkan dengan ikut berbela sungkawa ketika ada warga Tionghoa yang meninggal. Mereka ikut hadir untuk menghibur keluarga agar tidak bersedih. “Kalau ada kegiatan apapun, kita semua saling membantu,” katanya.

Santi lainnya pun demikian, Muhammad Dhiyauddin mengaku sangat damai dan tentram dengan ajaran Abah Zaim yang selalu menekankan kerukunan antar umat beragama, apalagi pondoknya berada di lingkungan pecinan.

“Abah itu selalu mengajarkan toleransi dan menghargai keberagaman kepada semua mahluk,” ujar Dhiyauddin.

Dhiyauddin pun mengaku heran masih ada orang-orang yang mengatasnamakan Islam untuk melakukan kejahatan dan aksi bom terorisme seperti yang terjadi di Surabaya kemarin. Menurutnya, orang yang mengaku Islam dan melalukan aksi pengeboman bukanlah memperjuangkan Islam, dia justru mencoreng agama Islam yang cinta damai.

“Mereka itu ngajinya belum khatam. Mereka masih gampag disuruh dan didoktirn untuk kasus terorisme dan melakukan bom bunuh diri.”

>> Baca Juga : Kisah Semangkuk Toleransi 

Sikap toleransi dan menghargai keberagaman umat beragama yang diajarkan Abah Zaim tercermin dalam ngaji kitab yang digelar sehabis salat tarawih. Sikap toleransi inilah yang membuat jamaahnya sampai luar kota. Mereka rela berduyun-duyun datang untuk ikut mengaji, seperti Sujudi dan keluarganya.

Banyak yang hadir di malam itu, parkiran sampai penuh dan jamaah yang tidak kebagian tempat duduk, duduk di sebuah bangunan bercorak bangunan Tionghoa yang letaknya tak jauh dari pondok.

“Abah itu enak ngajarnya, beliau selalu mengajakan masalah srawung(hidup bersama) dan toleransi,” kata Sujudi.

Sujudi berharap, Indonesia bisa damai. Masyarakat mau hidup rukun dan saling menghormati. “Saling menghargai itu penting dalam kehidupan manusia, dan Islam adalah agama yang rahmatan lil alamain,” ujarnya.

Ramadan di Tiongkok Kecil sangatlah damai. Jamaah bersarung dan berpakaian ala kadarnya mempelajari agama Islam yang damai. Mereka duduk di halaman dan serambi musalla.

Lampu-lampu berhias dengan model lampion dan bertuliskan huruf kanji tergantung di musalla dan teras rumah sang kiai. Menandakan sebuah hubungan yang apik antar umat manusia. Bahawa manusia harus saling menghargai dan tolong –menolong.

Malam semakin larut, gerimis masih turun. Dan para santri terus mendaras. Suasana malam Ramadan di Pondok Kauman yang terletak di Tiongkok Kecil memang khidmat, damai. Semoga kedamaian dan toleransi yang diajarkan Pondok Kauman terus lestari dan memberikan kedamaian kepada seluruh semesta. []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *