Home / Gang Siput

Gang Siput

gangsiput.com | Slow Journalism

SEJAK era reformasi, kebebasan pers yang kita nikmati masih mengalami banyak hambatan dan tantangan. Mulai dari informasi yang dihasilkan tidak berkualitas, lemahnya pemahaman etik jurnalis, kesejahteraan yang minim, hingga isu kepemilikan media yang hanya terkonsentrasi pada sejumlah konglomerat, kondisi ini bisa kita lihat dalam Catatan Akhir Tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia

Dalam catatannya, secara khusus AJI Indonesia menyoroti kebebasan pers dan kebebasan berekspresi di Indonesia yang sudah sampai pada taraf mengkhawatirkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. AJI menukil data terbaru dari World Press Freedom Index 2016  yang dirilis Reporters Sans Frontiers (Prancis), yang menyebutkan Indonesia berada di posisi merah dalam kebebasan pers dan berekpresi. Hanya ranking 130 dari 180 negara dan posisi ini jauh di bawah Timor Leste, Taiwan dan India.

Di saat belum kuatnya pondasi kebebasan pers seperti saat ini, masyarakat dihadapkan dengan kemajuan teknologi informasi yang pesat. Pers berlomba-lomba menyajikan informasi yang dikemas dalam berbagai platform. Cetak, audio, video, hingga digital media dan mobile.

Kemajuan teknologi ini, membuat masyarakat mengubah cara memperoleh informasi. Hal ini bisa dilihat dari sebelum era digital, masyarakat mengandalkan media cetak, radio, televisi dan media konvesional lainnya untuk mendapatkan informasi. Kini, dengan munculnya internet, gadget, telepon pintar, masyarakat mulai beralih dalam mengakses informasi. Seakan-akan informasi datang jauh lebih cepat, tidak terbendung, dan semakin masif.

Pegguna internet terus mengalamai peningakatan. Di Indonesia, pada tahun 2000 pengguna internet baru 2 juta orang. Namun sekarang, hanya dalam waktu 16 tahun, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mendata pengguna internet sudah mencapai 132,7 juta dari total populasi penduduk Indonesia 256,2 juta.

Dari survei APJII menyebutkan, alasan utama pengguna internet paling banyak adalah untuk mencari atau mengupdate infromasi, yakni sebanyak 25,3 persen, 20,8 persen mencari pekerjaan, 13,5 mengisi waktu luang, 10,3 persen untuk sosialisai, 9,2 persen update info pendidikan, 8,8 persen untuk hiburan, dan 8,5 untuk bisnis atau jual beli online. Angka itu mampu menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat Indonesia akan informasi harian dengan mencari informasi dan berita melalui internet sangat tinggi, bahkan menempati tingkat pertama.

Pertumbuhan internet ini akhirnya memunculkan trend baru masyarakat untuk mendapatkan informasi. Namun ironisnya, keterbukaan platform ini justru membuat orang atau pengakses internet kesulitan membedakan fakta, opini, berita, isu, kampanye hitam, promosi serta berbagai informasi lain yang tersebar di dunia maya. Akibatnya, orang menjadi bingung, salah persepsi dalam memaknai informasi.

Banjir informasi, itulah yang terjadi. Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, dua orang jurnalis kawakan, mengatakan, teknologi internet mengubah cara penyampaian informasi dan format pemberitaan sehingga banyak informasi ngawur beredar di internet. Mereka menuliskan semuanya dalam buku berjudul Blur; How to Know What’s True in the Age of Information Overload (2011).

Kami sepakat, banjir informasi sebagai hal yang harus disikapi dengan bijak. Hal ini sebagai wujud kebebasan berekspresi yang harus didukung, diberikan tempat, agar masyarakat berani menyuarakan pendapatnya. Namun perlu langkah khusus agar kita tidak hanyut dan terseret arus banjir informasi.

 

Gang Siput

Dulu, orangtua kita selalu memberikan petuah: alon-alon waton kelakon, adalah sehuah pepatah Jawa yang mengandung arti untuk selalu berhati-hati dan melakukan suatu kegiatan. Jangan tergesa-gesa, karena hanya akan membuahkan hasil yang tidak maksimal. Dan dalam konteks jurnalisme, kabar atau cerita terbaik bukanlah yang tercepat dan pertama kali dimuat, tapi cerita terbaik adalah yang paling bagus dituturkan.

Memasuki Gang Siput, seperti halnya masuk ke dalam sebuah gang di perkampungan. Ngebut Benjut, itulah salah satu rambu-rambu tertulis yang dibuat warga perkampungan. Biasanya rambu-rambu itu tertulis di depan gang. Rambu-rambu lainnya adalah, Awas Banyak Anak Kecil! Rambu-rambu itu menyiratkan sebuah larangan kepada pengendara untuk ngebut, karena jika ngebut pengendara bisa mengalami kecelakaan, jatuh atau malah menabrak anak-anak.

Jadi ketika melewati gang, pengendara harus beretika, mematuhi rambu-rambu yang dibuat warga dan bertanggungjawab. Dan seperti itulah ketika masuk ke Gang Siput, pelan namun pasti.

Siput sendiri adalah jenis hewan kelas Moluska Gastropoda. Hewan bercangkang yang sangat pelan jalannya. Dalam fabel, Siput adalah binatang yang bisa mengalahkan Kancil. Padahal dalam fabel, Kancil selalu punya ide dan berhasil menjadi pemenang, namun melawan Siput, Kancil tak berkutik.

Dari dua pengandaian itulah Gang Siput hadir. Gang Siput adalah sebuah tempat untuk mendapatkan informasi produk jurnalistik secara santai, tidak memburu kecepatan tapi mengusahakan keakuratan peristiwa. Gang Siput hadir dan menjadi alternatif media online di tengah derasnya banjir informasi. Slow Journalism, jurnalisme pelan. Itulah yang ingin dibangun dalam Gang Siput.

Sejumlah peristiwa dikemas secara apik, santai mengurai dan santun mengalun. Beberapa ulasan yang ada di Gang Siput juga telah diterbitkan dalam koran Media Indonesia, baik cetak maupun online. Karena penulis di Gang Siput merupakan jurnalis aktif di Media Indonesia dan tercatat sebagai anggota AJI, bernama Furqon Ulya Himawan atau karib disapa Yaya.

Jelas, Gang Siput tidak bisa melawan sendiri derasnya arus informasi di internet dan membudayakan Slow Journalism. Ini harus menjadi kampanye bersama, mengurai stori dengan pelan dan komprehensif.

Ayo bersama dengan Gang Siput membangun portal media online yang beretika, mematuhi rambu-rambu Kode Etik Jurnalistik (KEJ), UU Pers No 40 Tahun 1999, Pedoman Media Siber, dan pastinya bertanggungjawab. Mari mengurai stori dengan santai, mengutarakannya dengan santun dan lengkap. Karena cerita terbaik bukanlah yang pertama kali dimuat, tapi yang paling bagus dituturkan. Ingat, Ngebut Benjut…!!! [FU]