Dari Melipat Hingga Trauma Healing

Origami bukan sekadar melipat-lipat kertas, tapi juga meningkatkan kreativitas, melatih kesabaran, sampai menghilangkan stres.

 

DI sebuah meja panjang di tengah ruang yang dikelilingi kursi-kursi, berserakan kertas warna-warni. Bukan sampah, bukan pula tugas paper atau undangan pernikahan. Kertas-kertas berwarna-warni itu berbentuk burung-burung kecil, pesawat, bola, ada pula bunga-bungaan.

“Maaf Mas, berantakan,” sambut Ema Amiyatul Marhamah, ketua Origami Jogja, ketika dikunjungi Media lndonesia beberapa waktu lalu. Di ruang inilah para anggota komunitas berlatih origami, seni melipat kertas menjadi beragam bentuk yang identik dengan kreasi ala Jepang.

Komunitas Origami Jogja didirikan awal Oktober 2010. Tepatnya tanggal 1, begitu menurut Ema. Awalnya mereka berkumpul karena sama-sama suka dan ingin belajar origami. Setelah berkonsultasi dengan beberapa teman serta didorong Maya Hirai, yang dikenal sebagai Ibu Origami Indonesia, terbentuklah komunitas bernama Origami Jogja ini.

Anggotanya, menurut Ema, berkisar 100 orang. “Di sini kita saling berbagi pengalaman dan ilmu,” kata dia. Emna menjelaskan, kemampuan origami bisa bertambah dan terus berkembang jika sering diolah, terutama dengan latihan bersama. “Makanya kita sering latihan bareng di sini, seminggu sekali,” tuturnya.

Latihan yang biasa dilakukan dimulai dari teknik origami paling sederhana, seperti membuat bentuk burung bangau, pesawat, dan kapal laut. Setelahnya, mulailah teknik-teknik untuk membuat bentuk yang lebih sulit dengan menggabungkan dua lembar kertas menjadi satu. Seperti membuat manusia hingga bola air.

“Yang sulit itu gabung-gabungin, Mas,” jelas Arien, seorang anggota komunitas yang siang itu tengah berlatih origami, sambil menunjukkan bunga-bunga kecil dari lipatan kertas.

 

Keanggotaan

Komunitas Origami Jogja juga rutin menyelenggarakan acara dengan konsep origami on the street, setiap Minggu pagi di sekitar Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Begitulah, diutarakan Ema, cara memperkenalkan komunitasnya ke masyarakat luas. “Dari sana, biasanya kita mendapatkan anggota yang mendaftar,” tutur dia.

Ema Amiyatul Marhamah, ketua Origami Jogja. Foto: Efulya

Target mereka sebenarnya generasi muda, dengan tujuan berbagi kegiatan berguna. Namun diterangkan Arien, “Keanggotaan kami umum kok, bisa diikuti siapa saja.” Ia menambahkan, tidak ada syarat khusus untuk menjadi anggota. Ibu-ibu rumah tangga dan anak-anak pun masuk. Gratis pula.

“Ada pula dari teman-teman difabel,” timpal Isna, anggota lain yang juga tengah berlatih. Belajar bersama anggota difabel, dirasakan Isna menambah pengalaman dan inspirasi.

Komunitas Origami Jogja juga terdiri dari beberapa klub origami, seperti Garda, yang merupakan ketua Klub Kamigami Orijin (Kaorin). “Ya, klub kami juga tergabung dalam Komunitas Origami Jogja. Klub tentunya berada di bawah komunitas,” jelas dia.

 

Aksi sosial

Tak sekadar menyalurkan hobi dan berbagi kegiatan berguna, Komunitas Origami Jogja juga kerap melakukan aksi sosial. Di antaranya menghibur korban Gunung Merapi. Johati, yang juga anggota komunitas Kaori, mengaku merasa senang dapat membantu korban Merapi. “Senang banget dapat membantu korban. Itu pengalaman yang tidak terlupakan,” kata dia, diikuti anggukan sepakat dari Endang, anggota lainnya.

“Ini merupakan aksi sosial kami terhadap korban Merapi, khususnya anak-anak,” jelas Ema. Ia menambahkan, origami juga dapat membantu menyembuhkan keadaan psikologi seseorang. “Jadi, kami bantu mereka dengan apa yang kami bisa, karena temyata origami bisa menjadi alat terapi untuk mengajarkan ketenangan dan ketelitian bagi anak yang sedang mengalami trauma,” tambahnya.

Masyarakat Jepang, dituturkan Maya Hirai saat melakukan trauma healing di Stadion Maguwoharjo, Yogyakarta, beberapa waktu lalu, meyakini bahwa origami memiliki kekuatan untuk menyembuhkan. Maya sendiri, yang dijuluki Ibu Origami Indonesia, mempelajari origami secara khusus di Jepang pada 2003-2005, dan mendapatkansertifikat sebagai instruktur origami berkualifikasi dari Nippon Origami Association.

Bagi beberapa anggota, origami tidak hanya bermanfaat memperluas pengalaman dan menambah kreativitas. Origami juga dirasakan berdampak pada kebersihan lingkungan, seperti yang diutarakan Aksha. “Enggak cuma sebagai media terapi atau kreativitas, tapi seni origami juga dapat mengurangi limbah kertas,” kata dia.

Anggota lain, Ayu, justru menilai origami sangat unik. “Awalnya penasaran, karena bagiku itu unik. Dan setelah masuk, ternyata banyak manfaatnya, salah satunya saya bisa memanfaatkan kertas apa saja untuk origami, tidak langsung membuangnya.”

Sementara itu Geri, anggota komunitas yang juga tengah berlatih siang itu, berpendapat origami bermanfaat untuk menyeimbangkan otak kanan dan kiri. “Bisa menyeimbangkan otak kanan dan kiri, dan bisa ngilangin stres,” sahutnya diikuti tawa anggota yang lain.

Jadi, bagi para anggota komunitasnya, origami bukanlah sekadar lipat-melipat kertas. “Awas loh, origami itu juga bikin ketagihan,” celetuk Aksha, yang diiyakan teman-teman lainnya. “Mengutip kata-katanya Ibu Maya, origami bisa membuat kita teliti dan kreatif,” pungkas Ema sambil memberikan contoh hasil origami berbentuk bangau yang baru selesai dibuatnya. []

 

One Reply to “Dari Melipat Hingga Trauma Healing”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.