Sekolah tanpa Papan Tulis

 

Tidak ada sekolah normal di lereng Merapi. Sekolah darurat di rumah warga, duduk di lantai beralas tikar, dan perjalanan belasan kilometer adalah lelakon anak-anak korban bencana.

 

WAJAH Vita, 10, terlihat lelah. Baru 10 menit lalu, siswi kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Gungan, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu tiba di sekolah.

Peluh masih membasahi lehernya. Di sampingnya, Harsono, ayah Vita, juga sedang mengatur napas.

Pagi itu, keduanya baru saja menempuh perjalanan sejauh 7 kilometer, berjalan kaki. Siang nanti, perjalanan dengan jarak yang sama harus mereka lakoni untuk pulang.

Harsono terus menunggu anaknya hingga pulang sekolah. Ia bisa melakukannya karena saat ini tidak ada pekerjaan tetap yang harus ia jalani.

Latifah, 12, siswi kelas 6, juga mengalami nasib sama. Bedanya, orang tua gadis cilik itu tidak menunggui selama ia belajar. Ayahnya harus bekerja setelah mengantar dan kembali lagi untuk menjemput.

“Kadang saya harus menunggu sampai 1 jam, sebelum ayah datang,” tandas Latifah.

Vita dan Latifah bukan anak manja, yang biasa diantar jemput oleh orang tua saat bersekolah. Dulu, keduanya juga anak-anak yang mandiri, berangkat dan pulang sekolah sendiri.

Namun, sejak ambrolnya Jembatan Geblok, di Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, jalan ke sekolah yang sebelumnya hanya berjarak sekitar 2 kilometer kini menjadi 15 kilometer pulang pergi karena harus memutar. Jembatan itu tak kuat menahan beban luncuran lahar dingin Gunung Merapi.

Para orang tua murid juga tidak rela melepas anak-anak mereka menempuh jarak sejauh itu dengan berjalan seorang diri. Bagi orang tua yang masih memiliki sepeda motor, tugas mereka memang lebih ringan. Tapi, kebanyakan menjalaninya dengan berjalan kaki.

Jembatan Geblok adalah penghubung antara Kecamatan Pakem dan Kecamatan Cangkringan. Setelah putus, perjalanan di antara dua wilayah itu harus memutar melewati wilayah Desa Banjarharjo, Kecamatan Ngemplak.

Perjalanan memutar itu, jika ditempuh dengan mengendarai sepeda motor, membutuhkan waktu 1 jam lebih lama daripada biasanya.

“Biasanya, untuk ke sekolah saya menempuh jarak sekitar 4 kilomter. Tapi, sekarang jadi 15 kilometer,” kata Y Tukul Ju-mardi, Kepala SDN Gungan.

Sampai di sekolah, guru dan murid tidak lantas bisa melepas lelah. Kegiatan belajar-mengajar pun tidak bisa dilakukan dengan cara biasa, layaknya di sekolah normal.

Jangan bayangkan SDN Gu-ngan adalah sebuah sekolah megah. Kini, di lokasi sekolah itu tidak ada lagi tembok yang tersisa. Itu sudah rata dengan tanah, setelah dihajar awan panas atau wedus gembel Merapi, beberapa waktu lalu.

SDN Gungan yang sekarang adalah sekolah darurat yang berada di Dusun Geblok,-Desa Wukirsari, Cangkringan. Seorang warga, Farkhan, merelakan rumahnya yang tidak hancur disapu wedus gembel digunakan untuk anak-anakbersekolah.

“Kami masih beruntung karena ada warga yang berbaik hati, memberikan rumahnya untuk sekolah darurat,” kenang Tukul sambil memperlihatkan foto SDN Gungan lama, yang sudah hancur terkena awan panas.

Dulu, total jumlah siswa di sekolah ini ada 86 orang. Tapi, setelah jembatan putus, angkanya susut menjadi 75 siswa. Jarak yang tambah jauh membuat sejumlah orang tua murid menarik keluar anak mereka dari sekolah itu, pindah ke sekolah yang lebih dekat.

 

Beralas tikar

Kegiatan belajar-mengajar, kini, dijalani di satu ruangan berukuran 10 meter x 6 meter, yang digunakan untuk lima kelas, kelas 2 sampai kelas 6. Siswa kelas 1 belajar di luar atau di samping rumah.

“Terpaksa, di satu ruangan ini, mereka dicampur karena tidak ada ruangan lagi,” tambah Tukul.

Suara riuh rendah pun menjadi suguhan dari menit ke menit. Siswa bisa tenang beberapa menit, ketika guru mereka menegur. Riuh lagi karena duduk berdempetan membuat anak-anak terus iseng bercanda dengan teman mereka.

Siang itu, siswa kelas dua dan tiga sudah pulang. Yang tinggal siswa dari tiga kelas, 4, 5, dan 6.

Mereka duduk dalam tiga baris. Baris paling pojok adalah siswa kelas 6, di tengah siswa kelas 5, dan baris terakhir anak-anak kelas 4. Pada setiap baris ada seorang guru yang membimbing mereka.

Tanpa sekat, pun tidak ada papan tulis. Tidak ada bangku dan kursi untuk duduk dan menulis. Semua duduk di lantai, beralaskan tikar.

Hanya guru yang duduk di kursi. Guru hanya menjelaskan dan murid menulis. Sesekali ada pelajar yang mengacungkan jari untuk bertanya. Belajar-mengajar dalam keprihatinan.

Murid-murid SDN Gungan kebanyakan berasal dari Cang-kringan dan Pakem. Mereka adalah korban bencana erupsi Merapi, disusul lahar dingin yang masih mengancam hingga sekarang.

“Saat ini, kami butuh alat-alat tulis dan meja. Rumah ini masih layak untuk dijadikan sekolah sementara karena kondisinya masih baik,” ujar Tini, guru di sekolah itu.

Keinginannya sangat sederhana. Tukul pun, ketika ditanya harapannya, juga tidak banyak bersuara.

“Kasihan anak-anak ini. Orang tuanya sudah tidak mempunyai pekerjaan tetap. Pulang pergi sekolah harus muter sampai 15 kilometer.” []

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.