Dulu Onderdil Motor, Kini Gedek Selter

Dulu dedengkot bikers ini keliling kota untuk jalan-jalan. Sekarang ia berburu gedek sampai keluar kota.

DI antara relawan Merapi Yogyakarta, nama Eko Sugeng Rohadi termasuk dikenal luas. Apalagi bagi mereka yang menangani selter atau hunian sementara.

Ketika terjadi letusan Gunung Merapi pertama kali pada 26 Oktober 2010, Eko menyulap rumahnya menjadi dapur umum. Ia dan relawan lainnya menyediakan bahan makanan ekstra bagi pengungsi Merapi. “Karena waktu itu sudah banyak yang menyediakan nasi dan lauk pauk, kami menyediakan makanan ekstra, seperti sukun, singkong, kacang hijau, dan kolang-kaling,” ceritanya beberapa waktu lalu.

Akhirnya, sosok lelaki yang sudah puluhan tahun berjibaku dengan dunia motor dan aktif di beberapa klub, seperti Persatuan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI), Motor Antik Club (MAC), dan Harley Davidson, ini sekarang dipercaya Media Group untuk menjadi penanggung jawab pembangunan selter bagi korban merapi.

Baginya, tanggung jawab tersebut merupakan amanat dan kerja yang mulia sehingga ia selalu menjalaninya dengan enjoy. Ketika dijumpai di rumahnya, di Jalan Kaliurang Km 7, sosok lelaki yang sudah berusia 57 tahun ini kelihatan masih kokoh dan tegap.

Suaranya masih kencang, sekencang ketika ia menaiki motor Harley Davidson. Sugeng, panggilan karib Eko Sugeng Rohandi, mengaku tidak ada beban sama sekali karena menurutnya, meskipun kelihatannya berprofesi beda, kerjanya tetap sama-sama di lapangan. “Kalau di kantor, mungkin saya sudah tidak betah,” kata lelaki yang memang hobi wara-wiri ini.

Sugeng yang juga pernah menjadi Ketua MAC ini mengaku kendala yang paling dominan dalam menangani pembangunan hunian sementara adalah gedek, bahan baku bangunan yang terbuat dari anyaman bambu.

“Karena gedek itu kan kerajinan, dan produksinya biasa dilakukan secara manual, jadi tidak bisa ambil sekaligus banyak,” ucap Sugeng.

 

Berburu gedek

Meski begitu, Sugeng tidak  kekurangan akal. Ia yang telah puluhan tahun berjibaku di dunia bikers dan terbiasa di lapangan memanfaatkan jaringannya. Ia mencoba menghubungi teman-temannya dan minta tolong untuk dicarikan informasi tentang gedek.

“Saya hubungi teman. Saya tanya ada gedek enggak, tolong dikirimi contoh,” kata Sugeng. Setelah itu, lanjut Sugeng, mulailah perburuan gedek.

Saat berburu gedek, ayah 3 anak ini mengaku harus pergi sampai ke luar kota. “Kami berburu gedek sampai ke Ciamis  dan Tasikmalaya,” ucap Sugeng. Selain di dua tempat itu, Sugeng mengambil gedek produksi Tulung Agung, Ponorogo, Purwodadi, Ngawi, Seyegan, Cilacap, dan Banjarnegara.

Di daerah tempat produksi gedek juga tidak semudah yang dibayangkan. Dia tidak lantas datang, bayar, dan pulang. Misalnya di Tasikmalaya. Meski di sana gedek sudah diproduksi dengan menggunakan mesin dan berjumlah banyak, tetap saja permintaan jauh lebih tinggi. Akibatnya, harga gedek jadi mahal. Yang tadinya Rp 60 ribu bisa naik sampai Rp 75 ribu. Bahkan ada juga yang menjual sampai Rp 80 ribu.

“Tapi saya patok harga maksimal Rp75 ribu. Lebih daripada itu, kita tidak mau,” kata Sugeng yang mengaku hafal harga gedek beserta ukuran dan jenisnya.

“Kalau dulu saya hafal harga onderdil motor, sekarang jadi hafal harga gedek serta jenisjenisnya,” ucap Sugeng.

Meskipun mengaku tak punya pengalaman menukang atau membangun rumah, Sugeng percaya pengalaman bongkar pasang onderdil membuatnya mengerti betul tentang kualitas. Dengan begitu, dia sangat hati-hati dalam memilih gedek. Sugeng tidak mau kompromi dengan pedagang.

Lelaki alumnus sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini hanya mau  menggunakan kulit bambu sebagai bahan baku gedek, bukan aten atau isi bambu karena  akan mengurangi kualitas.

“Kami tidak mau pakai aten, seperti lainnya. Pokoknya kami pakai kulit. Tapi kalau pas kosong dan sangat mendesak, maka kami campur,” ujar Sugeng tentang kualitas gedek hunian sementara garapan Media Group.

Menurut Sugeng, kualitas gedek paling bagus diproduksi di daerah Sayegan, Yogyakarta. Di samping tebal, yang dipakai juga kulit bambu, bukan aten. Di Sayegan, ada satu kampung yang semua warganya memproduksi gedek.

“Namun karena masih manual, jadi setiap minggu cuma 50 biji,” terang Sugeng.

 

Trik Sugeng

Meski Sugeng tak mau membeli gedek lebih dari Rp75 ribu, para pedagang rupanya lebih suka menjual produknya kepada Sugeng. “Untuk suplai bahan-bahan, kita langsung bayar tunai. Makanya banyak penjual atau petani yang suka kita. Beda dengan yang lain  kalau bayar seminggu sampai dua minggu,” jelas Sugeng.

Untuk mendapatkan harga murah, Sugeng punya siasat. Dia dan timnya mencopot kaus seragam Dompet Kemanusiaan dan memarkir mobil agak jauh. “Masalahnya kalau pakai baju Dompet Kemanusiaan, dan naik mobil Media Group, harganya mahal,” jelas Sugeng.

Setelah menjadi penanggung jawab pembangunan hunian sementara di Desa Glagaharjo, sudah dua bulan lebih ia vakum menjadi bikers. Meskipun demikian, ia merasa senang karena telah merampungkan lebih dari 500 hunian sementara. Pun ia jadi tahu ternyata budaya Indonesia banyak sekali. “Jenis gedek saja banyak banget. Ukurannya juga bermacam-macam,” imbuh Sugeng, lalu tersenyum. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.