Jenang yang Melejitkan Jeneng

Satu abad lamanya mereka menjadi produsen jenang. Berkat konsistensi yang tinggi, mereka sanggup mengangkat ‘status’ penganan hajatan menjadi oleh-oleh tradisi bagi siapa pun yang melancong ke kota di pesisir utara Jawa Tengah tersebut.

DATANG ke Kota San tri Kudus, belum komplet kalau belum membawa oleh-oleh jenang. Makanan jenang adalah makanan tradisional Kudus terbuat dari tepung ketan, santan, gula, dan wijen.

Kalau dulu makanan ini menjadi suguhan saat hajatan dan hari besar, sekarang jenang menjadi kenikmatan segala musim. Semua berkat bisnis berumur panjang satu keluarga di Kudus.

Satu abad lamanya mereka menjadi produsen jenang dan berkat konsistensinya itu sanggup mengangkat ‘status’ penganan hajatan menjadi oleh-oleh tradisi bagi siapa pun yang melancong ke kota di pesisir utara Jawa Tengah tersebut. Akhirnya, juga mengubah status sosial jeneng atau nama keluarga produsen itu sendiri.

Pernah dengar Jenang Mubarok? Nah, inilah kisah suksesnya seperti dituturkan Muhammad Hilmy, generasi ketiga dari pemilik jenang Sinar 33, Kudus.

Ia mengisahkan pada 1910 keluarganya yang asli Kudus mulanya mencetus pembuatan jenang untuk melayani pesanan lokal. Bisnis ini dimulai Haji Mabruri dan Hajjah Alawiyah dengan modal pas-pasan.

Dengan dibantu seorang pekerja, mereka mulai merambah penjualan ke Pasar Bubar di dekat Masjid Menara Kudus yang terkenal itu.

“Ketika itu, mereka hanya bisa menghasilkan sekitar 35 jenang setiap kali produksi,” kenang Hilmy, saat ditemui di kantornya, PT Mubarokfood Cipta Delicia, Jalan Sunan Muria Nomor 33, Kudus.

Namun produksi yang kecil itu lekas menjadi buah bibir. Sebab, rasanya cocok di lidah banyak orang. “Namun sayang, begitu bisnis mulai berkembang, Mbah Mabruri meninggal,” kata Hilmy.

Sepeninggal Haji Mabruri, bisnis jenang itu tidak ikut mati, namun diteruskan oleh anaknya, Ahmad Sohib yang adalah ayah Hilmi. Generasi kedua pembuat jenang ini memberi angin segar bagi bisnis tersebut. Sebab Sohib mulai memberi sedikit sentuhan pengorganisasian dan perbaikan manajemen usaha. Bahkan, sudah terpikir juga untuk menegaskan legali- tas hukum produk.

Tepatnya 1946, generasi kedua mulai memilih merek dagang apa yang mau didaftarkan. Pilihan pertama yakni HMR, singkatan dari nama generasi pertama yang sekaligus pendiri, Haji Mabruri. Namun pilihan itu gugur sampai diperolehlah merek Sinar 33. Ini diambil dari nomor rumah yang sekaligus menjadi tempat produksi jenang.

 

Kompetisi

Memasuki 1975, kompetisi usaha semakin ketat. Bisnis jenang lain yang serupa dengan bisnis tersebut mulai menjamur. Dengan bermodal karyawan yang jumlahnya puluhan, Sohib pun mencari terobosan sendiri. Antara lain dengan melakukan diversifikasi merek dan menciptakan varian rasa baru bagi jenang.

Taktik ini membuahkan hasil, jenang produksi Sinar 33 akhirnya mengambil alih pasar oleh-oleh di wilayah Jawa Tengah dengan menggunakan berbagai merek dagang. Sebut saja Mubarok, Viva, dan Mabrur.

Sembari menatap foto almarhum ayahnya yang tergantung di tembok kantor, Hilmy mengakui bahwa Sohib memang sosok yang visioner. Jangankan soal legalitas merek dagang, soal penerus bisnis ini pun sejak jauh hari Sohib sudah memikirkannya.

Di bulan Juli 1992, sebuah musyawarah keluarga untuk memilih penerus perusahaan jenang pun digelar. Dari situ terpilihlah Hilmy sebagai generasi ketiga bisnis ini, sekaligus pengganti Sohib.

Jurus baru yang ia lakukan ialah menggencarkan ekspansi pasar. Dengan mengusung misi menjadikan jenang Mubarokfood menjadi makanan khas Indonesia berkelas dunia, dia pun menggalang perbaikan produksi, kualitas karyawan, dan strategi pemasaran.

Karena ingin mendahulukan kepuasan pelanggan maka pengembangan yang dilakukannya pun ialah mengembangkan jaringan pemasaran dengan pelayanan prima.

 

Omzet meningkat

Sejak awal didirikan, grafik dari bisnis jenang Keluarga Haji Mabruri terus naik. Hilmy enggan menyebutkan berapa angkanya, yang jelas rantai penjualan semakin luas.

“Kini sudah ada kerja sama dengan beberapa maskapai penerbangan dan jika di awal generasi ketiga karyawan kita jumlahnya 70, sekarang sudah 162 orang,” kata dia.

Laiknya industri maju, peralatan mesin di rumah produksi jenang keluarga ini pun sudah mulai digunakan untuk menggantikan pekerjaan yang semula dikerjakan dengan tangan.

Satu-satunya pekerjaan yang masih menggunakan tangan adalah mengiris jenang dalam potongan-potongan kecil. Sebab, menurut Hilmy, walaupun sudah didinginkan selama 12 jam, bila diiris dengan mesin, tetap saja jenang akan lengket.

Adapun Dada, yang ditemui menjaga gerai Jenang Mubarok menuturkan, bisnis jenang tidak ada sepinya. Lelaki yang 14 tahun menjadi penjual ini mengatakan gerai tersebut ramai khususnya di hari Sabtu dan Minggu.

Beberapa kali juga ia menghadapi pembeli yang fanatik, yakni yang menolak membeli apa pun ketika rasa jenang yang diinginkan kosong. Bahkan, katanya, ada pula yang datang ke gerai memborong jenang Mubarok bukan untuk oleh-oleh. Melainkan bingkisan melamar anak orang. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.