Taman Baca Bersama, Sebuah Alternatif

Di pedalaman Kudus, jauh dari perkotaan, sebuah taman baca dibuka untuk memfasilitasi minat warga akan pustaka.

 

JAJARAN jati yang rindang di Dukuh Kepangen, Rejosari, Dawe Kudus, Jawa Tengah, menyejukkan hawa sekitar rumah Cindy Rizka Amalia. Pagar rumah tertutup separuh dan suasana tampak sepi dari luar.

Begitu masuk sampai ke ruang dalam, barulah kita tahu bahwa rumah yang berada dalam radius 6 kilometer dari Gunung Muria itu penuh sesak dengan anak-anak.

Mereka menyebar; ada yang asyik bermain, ada yang tekun belajar. “Ini dulunya memang rumah keluarga, tetapi fungsinya diubah menjadi Taman Baca Bersama dan keluarga pindah ke belakang,” kata Cindy.

Taman Baca Bersama adalah sebuah tempat yang dibuka Cindy di rumahnya, khusus untuk memberikan ruang membaca, belajar kelompok, berdiskusi, bermain, dan masak bareng bagi warga sekitar.

Ruang tengah rumah itu kini dipakai untuk menampung anak yang ingin bermain. Ruang utama seluas 6×8 meter menjadi tempat membaca. Masih di ruangan yang sama, diletakkan lima meja panjang berwarna-warni dan meja bundar dengan kursi yang memutarinya. Biasanya digunakan untuk makan bareng.

“Terus yang di belakang sana itu untuk masak bareng,” kata Cindy, menunjuk dapur.

Sementara dua rak kayu besar dan satu rak kecil menampung aneka buku cerita anak, buku pelajaran umum maupun agama, ensiklopedia, kamus bahasa asing, dan sastra. “Pokoknya semua koleksi buku yang saya punyai saya pajang semua,” ujar Cindy.

Pada awal beroperasi, koleksi di taman baca ini sebatas buku umum. Seiring perjalanan waktu, beberapa orang datang menyumbangkan tujuh dus buku yang terdiri atas komik dan dongeng klasik yang mengisahkan si kancil yang cerdik, yang selalu lolos dari terkaman singa, si raja hutan.

Pembaca setia taman baca menyukainya. Anak-anak perdesaan sekitar rumah Cindy kerap datang berkunjung untuk menuntaskan bacaan mereka yang umumnya dongeng, kartun, dan ensi klopedia.

Selesai membaca, mereka mulai memilih permainan tradisional yang juga tersedia di tempat itu.

Umpamanya Achda, siswi kelas 6 SD 2 Rejosari. Ia tampak lebur dengan teman sebayanya bermain congkak dan lompat tali seusai membaca buku Ensiklopedi

Jamur. Buku tentang jamur memang buku yang ia butuhkan untuk mengetahui jenis-jenis jamur.

“Karena saya ingin mengembangbiakkan jamur,” kata Achda, terkekeh.

Di desa yang jauh dari akses perpustakaan, memang mustahil mencari buku ensiklopedia jamur. Cuma di Taman Baca ia bisa menemukan buku itu.

Sementara Anjas, yang mengaku selama ini tidak biasa membaca karena belum menemukan buku yang ia anggap menarik, sepulang sekolah mulai suka ke rumah Cindy.

Anak-anak bermain dan belajar bersama di rumah Cindy yang disulap jadi Taman Baca Bersama. Foto: Efulya

Siswa kelas 3 di SD 2 Rejosari itu mulanya datang untuk bermain puzzle atau balok susun dengan teman-teman desanya. Belakang hari ia mulai melahap bacaan dari Taman Baca Bersama, khususnya dongeng. Adapun Fatimah, siswi kelas 2 MA Gringging Kudus, memanfaatkan Taman Baca Bersama untuk mencari buku referensi.

“Mau ke kota jauh, angkot juga jarang. Jadi ngerjain tukas jadi sekadarnya. Tapi, begitu ada Taman Baca Bersama, setiap mengerjakan tugas bisa cari referensi dengan mudah,” kata dia.

Cindy, sang pengelola, mengatakan bahwa tidak cuma pelajar yang mampir ke tempat ini. Kelompok ibu rumahtangga juga rajin datang untuk meminjam buku resep masakan atau buku untuk anak-anak mereka yang ada di rumah.

 

Sebuah alternatif

Akses yang jauh, sekitar 17 kilometer ke kota terdekat, serta minimnya sarana transportasi untuk keluar dari desa yang jalannya masih setapak ini membuat keberadaan Taman Baca Bersama menjadi sebuah tempat alternatif.

Itu sebabnya langkah Cindy membuka ruang di rumahnya mendapat pujian dari Perpustakaan Daerah Kudus, karena dianggap bisa membantu warga terutama pelajar dalam mengakses buku-buku pelajaran.

“Terlebih Taman Baca Bersama berada di desa pedalaman lereng Muria, yang memang aksesnya jauh dari kota,” ujar Kepala Seksi Perpustakaan Daerah Agus Sulistyono.

Ke depan, taman bacaan jenis ini akan didukung dalam hal pengadaan koleksi buku. “Asalkan memang dikelola serius oleh warga secara mandiri,” kata Agus.

Adapun pengelolaan Taman Baca Bersama sengaja melibatkan anak-anak yang berkunjung. Sebab, pengelolanya ingin  agar mereka ikut merasa memiliki dan merawat. Tidak ada kata bayar dalam meminjam buku, alias gratis.

Pun, tidak ada model kartu keangotaannya. Karena kalau dibuatkan kartu anggota, dikhawatirkan nantinya malah tidak ada anak-anak yang datang, karena terlalu ribet. Juga, menurut pengelola, orangorang desa tidak suka dengan ribetnya birokrasi.

Saat pengunjung ingin meminjam buku, mereka mencatatnya sendiri. Juga saat harus mengembalikan. Sesekali catatan itu diperiksa sebab ada aturan, yang sudah meminjamtidak boleh meminjam lagi sebelum mengembalikan buku yang telah dipinjam. Lama peminjaman juga diatur hanya seminggu. Jika lebih, harus diperpanjang atau kena dendaRp500 per hari.

Uang dendanya masuk ke celengan yang ada di ruangan Taman Baca Bersama. Pada nantinya uang itu akan dibuka bersama, lalu bareng-barengpengelola dan komunitas buku dari pedalaman Kudus ini pergi ke pameran buku untuk memborong buku. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.