Satu Buku Dua Kritik

Sebuah ide lahir dari kekecewaan musikus dan pengamat musik atas ulasan musik di media mainstream.

SENIN (30/5) malam itu, ruangan lantai atas Kedai Kebun Forum, yang terletak di Jalan Tirtodipuran, Yogyakarta, penuh. Sampai-sampai  tak ada satu pun tempat duduk yang tersisa. Semua terisi oleh pengunjung yang kebanyakan kawula muda. Mereka yang datang terlambat pun harus rela duduk di lantai, alias lesehan.

Di ruangan yang berukuran kurang lebih 6 x 10 meter itu, berlangsung sebuah diskusi buku berjudul Like This, dan mengambil tema, Jurnalisme Musik dan Relevansinya sebagai Media Kritik Sosial. Buku setebal xii + 440 halaman itu dibedah langsung oleh penerbitnya, Jakartabeat.net.

M Taufiqurrahman, pembicara pertama dari Jakartabeat.net mengaku lahirnya buku Like This merupakan ketidakpuasan terhadap media mainstream yang hanya menulis tentang musik sebagai formalitas sehingga terjebak dalam pusaran tren, gaya, bahkan teknik bermusik saja.

“Padahal, musik tidak sekadar hiburan, tapi banyak hal di luar musik yang memberi hidup kepada musik,” ulasnya. Yah, itulah pengakuan Taufiq, yang pernah belajar di Chicago, AS, sehingga ia mengerti jenis-jenis musik karena menurutnya, Chicago tempat subur bagi munculnya banyak musik.

Taufiq, yang juga jurnalis di harian The Jakarta Post, mengakui sampai sekarang, di media-media mainstream, liputan tentang musik tidak mendapatkan ruang komprehensif dan malah sangat bias sehingga Taufiq ingin keluar dari lingkaran itu.

Keberadaan musik, ulas Taufiq, sebagai produk budaya, tidak bisa lepas dari situasi sosial yang melingkupinya. Menulis tentang musik pun sekaligus harus memahami bahwa musik tidak lahir dari ruang hampa kehidupan manusia. “Dengan begitulah, musik akan menemukan ruang sebagai media kritik sosial.”

Dalam diskusi buku itu, juga hadir Wisnu Martha, dosen komunikasi UGM, sebagai pembicara. Wisnu juga sependapat  dengan Taufiq bahwa musik adalah media kritik sosial, seperti lagu karya Franky Sahilatua, yang mengkritik urbanisasi yang marak kala itu.

Namun, kata Wisnu, sekarang memang tidak semua media mainstream menyajikan ulasan musik dengan baik dan benar, bahkan komprehensif. Itu disebabkan jurnalisme di Indonesia saat ini sedang dalam kondisi kebangkrutan. “Jurnalisme musik yang tidak bagus muncul karena jurnalisme kita bangkrut,” ucap Wisnu Martha.

Hal itu ditambah jurnalis yang menulis tentang musik tidak menguasai atau tidak suka dengan musik yang sedangditulisnya. Jadi, kata Wisnu, ulasan tentang musik akan muncul bagus dan lengkap kalau jurnalisnya suka akan musik yang sedang ditulisnya itu. “Itu akan bagus,” tandasnya.

Tak hanya mereka berdua, Riski Summerbee, selaku musikus yang menjadi pembicara ketiga, pun menungkapkan kekecewaannya atas ulasan-ulasan musik di berbagai media massa. Sebagai seorang musikus dan manusia biasa, Riski me ngaku suka ketika dipuji di media massa.

“Tapi, tunjukkan, dong, yang bagus itu apanya dan yang jelek apanya,” ucapnya. Itu membuatnya bertanya-tanya, apakah media hanya seperti itu?

 

Sunyi dan bunyi

Diskusi buku yang mulanya ingin membedah isi buku Like This ternyata malah tidak banyak mengulas isi buku yang tebalnya ratusan itu. Ketiga pembicara semuanya mengkritik habis-habisan media mainstream yang mengulas musik. Bagi mereka, tidak ada media yang menulis musik dengan baik dan benar ataupun komprehensif.

Padahal, isi buku yang terbagi dua bagian itu tidak banyak mengulas jurnalisme musik. Hanya ada satu bagian yang mengulas musik. Bagian lainnya sekadar artikel dari arsip Jakartabeat.net.

Benar, kata Taufiq, isi buku Like This merupakan kumpulan tulisan yang dipilih Jakartabeat.net dan tidak semuanya membicarakan musik. Menurut Taufiq, situs tersebut memang menggagas ulasan musik yang alternatif. “Tidak sangat serius, dengan pisau analisisnya yang sulit, dan tidak pula murahan,” katanya.

Semua pembicara juga sepakat bahwa pemain musik dan jurnalis sama-sama melakukan perubahan dan kritik terhadap kondisi sosial. Jakartabeat.net pun sengaja menulis musik yang tidak dikenal. “Banyak hal baik justru tidak ditemukan di mainstream, musik-musik pinggiran, karena mereka cinta terhadap musik, bukan lantaran ingin menjadi pop star atau rock star,” ucapnya.

Sambil minum teh dan makanan ringan ala Yogyakarta, pengunjung semakin terpuaskan oleh suguhan lagu dari Answer Sheet, grup band asal Yogyakarta, yang membawakan beberapa lagu. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.