Belajar Berkomunikasi lewat Musik

Anak-anak dengan kebutuhan khusus itu bisa berkomunikasi lewat menari dan bermain musik. Cara itu cukup ampuh untuk menumbuhkan rasa percaya diri.

 

DI sebuah ruangan Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Bantul terdengar suara  musik yang cukup nyaring. Bila mendengarnya dari luar gedung, mungkin kita menyangka ada sebuah pertunjukan musik.

Namun, saat ditengok, ternyata anak-anak dengan kondisi tidak sempurna, seperti anak-anak tunagrahita, tunawicara, dan tunadaksa, yang memainkan musiknya.

Mereka secara spontan bernyanyi, menari, menggerakkan badan ke kanan dan ke kiri, sambil memainkan alat-alat musik yang ada.

‘’Mereka spontan memainkan alat musik dan menari,’’ kata Shin Nakagawa, profesor dari Universitas Osaka, Jepang, yang sudah setahun ini melakukan pendampingan anak-anak SLB Negeri 1 Bantul.

Nakagawa mengajari anakanak istimewa itu dengan menggali potensi yang mereka miliki. Biarpun tidak sempurna, anak-anak tetap memiliki keahlian atau bakat seperti anak lainnya.

Shin Nakagawa mengungkapkan musik yang dimainkan anak-anak merupakan bagian dari pengembangan kreativitas anak-anak. Apalagi dengan ketidaksempurnaan yang mereka miliki.

‘’Gerakan-gerakan spontan ini untuk mencairkan suasana dan mencari solusi secara kreatif bagi kehidupan mereka,’’ ucap Nakagawa.

Saat Nakagawa menggerakkan tangan dan badannya seperti menari, Della, penyandang tunagrahita murid kelas 4 SLB Negeri 1 Bantul, tampak gembira mengikutinya. Bersama teman-temannya ia mulai mengikuti gerakan Nakagawa.

‘’Naik tangga, turun tangga secara perlahan, tidur, menggerakkan tangan seperti penari. Semuanya spontan,’’ kata Nakagawa sambil mempraktikkan gerakan tari.

Semua gerakan itu memiliki makna untuk menjalin hubungan dengan teman lainnya. Seperti dikatakan Nakagawa, apabila anak-anak sudah memiliki jalinan hubungan cukup baik, kerja sama di antara mereka akan terbangun dengan sendirinya.

Nakagawa pun mencarikan musik baru yang istimewa buat anak-anak. ‘’Kita mencari musik yang luar biasa dan istimewa. Musik yang belum ditemukan di mana saja. Itu namanya musik khusus,’’ ujarnya.

Musik yang dimainkan sangatlah sederhana. Ada alat musik terbangan, kendang, seruling, dan gitar. Semua alat musik itu dimainkan secara bersamaan, mengikuti gerakan tubuh.

Anak-anak tidak berhenti memainkan alat-alat musik tersebut. Seolah tidak kenal capek.

‘’Mereka malah senang bermain seperti itu, karena akan terbentuk interaksi baru yang belum pernah mereka alami,’’ kata Clara Mayasni, guru SLB Negeri 1 Bantul, yang ikut mendampingi anak didiknya bermain musik.

 

Terapi improvisasi

Kedatangan Shin Nakagawa dari ‘Negeri Sakura’ ke Bantul memang membawa niat membantu anak-anak dengan keterbatasan.

Dia bersama enam orang lainnya, yang terdiri dari dosen dan pekerja seni pertunjukkan, membantu anak-anak penyandang cacat untuk bisa berkomunikasi lewat gerak seni dan berimprovisasi.

‘’Kita harus mencari potensi anak-anak itu dengan berimprovisasi, dengan membuat musik baru,’’ ujar Nakagawa, yang berbicara dalam bahasa Indonesia.

Dia bersama enam temannya sudah mendampingi 20 anak SLB Negeri 1 Bantul lebih dari satu tahun. Namun, ada beberapa pendampingan yang dilakukan dengan jarak jauh. ‘’Tahun kemarin kami hanya bisa datang ke sini sekali. Makanya, ada pendampingan jarak jauh.’’

Ro’fah, Direktur Pusat Studi dan Layanan Difabel Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, DI Yogyakarta, mendukung langkah Shin Nakagawa dan teman-temannya itu. Dia melihat improvisasi yang dilakukan Shin bisa dikembangkan anak-anak dengan kebutuhan khusus.

“Anak-anak istimewa itu memang harus memiliki teman intim dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Potensi mereka bisa muncul dan mampu mewarnai kehidupannya,’’ lanjut Ro’fah.

Diakuinya, metode yang dikembangkan Nakagawa itu sangat jarang dilakukan di Indonesia. Di dunia internasional, terapi buat anak kebutuhan khusus sudah sangat umum.

Terapi yang dilakukan Na kagawa memang sudah berdampak pada anak-anak tersebut. Mereka mulai berani bertatapan dan menyapa orang lain yang baru dikenal. Walau dengan bahasa atau gerakan khusus, anak-anak tidak ketakutan lagi berkomunikasi dengan orang asing.

Seperti yang dilakukan Della. Saat Nakagawa dan rombongannya datang, dia langsung menyambut dengan kata-kata sederhana. “Terima kasih atas kedatangan Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu,” ujar Della sambil tersenyum. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.