Home / STORIA / Bineka / Menyemai Generasi yang Bertoleransi

Menyemai Generasi yang Bertoleransi

Beragam cara yang dilakukan, tujuannya tetap satu: menghormati keberagaman, dan terciptanya generasi yang selalu merawat Bhineka Tunggal Ika di Indonesia

Deklarasi Pelajar Toleransi di Yogyakarta yang diselenggarakan sejumlah perwakilan sekolah di seluruh DIY, Senin (28/08). Foto: Yayaka

Oleh: Lintang Pandu Pratiwi dan Yaya Ulya

GANGSIPUT.COM – GERAKAN kampanye pentingnya keberagaman akhir-akhir ini selalu mengemuka di masyarakat, ini lantaran semakin terkikisnya sikap toleransi. Setara Institute mencatat, sepanjang 2016 terjadi 208 peristiwa pelanggaran Kebebasan Beragama, Berkeyakinan (KBB) dengan 270 bentuk tindakan yang tersebar di seluruh Indonesia. Angka ini menunjukkan kenaikan yang signifikan dibanding 2015, yakni 196 peristiwa, dan 236 tindakan.

Di Jakarta, pada minggu ketiga Agustus kemarin, Presiden Joko Widodo memberikan penghargaan kepada generasi bangsa yang ikut mengisi kemerdekaan dengan karya-karya yang menginspirasi tegaknya pacansila dan keberagaman di Indonesia. Penghargaan itu diberikan melalui Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila dengan tema Festival Prestasi Indonesia.

Ada 72 orang dari seluruh penjuru negeri yang dipilih, jumlah itu sama dengan usia kemerdekaan RI. Mereka yang terpilih sekaligus menjadi ikon yang berprestasi dalam bidannya masing-masing.

Sejumlah nama seperti isteri almarhum Gus Dur, Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid mendapat penghargaan di bidang Pegiat sosial. Dan nama lain yang tersemat adalah: Suraiya Kamaruzzaman, Nisya Saadah Wargadipura dan Kiai Ibang Lukman Nurdin, Farha Ciciek dan Suporahardjo, Lia Putrinda Anggana Mukti, Handi Mulyana, A’ak Abdullah al Kudus, Ahmad Arif, Tiara Savitri, Muhammad Gunawan/Ogun, Ahmad Bachruddin, Masril Koto, Suryono, M.Hum, Romo Carolus, Bambang Ismawan, Herwin Hamid, S.Pd, M.Pd, Romo Kirjito, Baihajar Tualeka, Lynna Chandra, TGH Hasanain Narmada, Brigadir Muhammad Saleh, Dr Lie Dharmawan, Ir H Bambang Irianto, Bonifasius Mau Taek, Hj. Suraidah S.KM, M.NSc, dan Dr Chandra Sembiring.

Kategori seni budaya: Lintang Pandu Pratiwi, Muhammad Winesqi Nibras, Zaenal Beta, Franky Raden, Eko Supriyanto, I Gusti Kompyang Raka, Garin Nugroho, Eka Kurniawan, Muammar ZA, Heri Dono, Wregas Banutedja, Nyoman Nuarte, Putu Wijaya, Nano Riantiarno, Oka Rusmini, Profesor Dr Rahayu Supanggah, S.Kar, Joy Alexander, dan Bayu Santosa.

Sejumlah nama juga tersemat mendapat penghargaan kategori sains dan inovator, mereka adalah: Yogi Ahmad Erlangga, Michael Gilbert, Syahrozad Zalfa Nadia/Ocha, Luthfi Boima Putra, Tim Universitas Muhammadyah Malang (UMM) cq Profesor Syamsul Arifin dan Profesor H Fauzan M.Pd, Tim PENS (Politeknik Eletronika Negeri Surabaya), Profesor Dr Khairol Anwar, Dr Ir Yudi Utomo Imardjoko, Profesor Dr Eng Eniya Listiani Dewi, Dr. Herawati Supolo Sudoyo, MS, Ph.D, Profesor Dr Taruna Ikrar, M.Pharm, MD, Ph.D, Profesor Dr Riri Fitri Sari, Mm, MSc, DTM, IPM, Wuri Wuryani, Audrey Yu Jia Hui, dan Septianus George Saa.

Sementara kategori olahraga, ada Susi Susanti, Alan Budi Kusuma, Rudi Hartono, Liem Swie King, Taufik Hidayat, Lilyana Natsir dan Tantowi Ahmad, Woli Hamsah, Sabar Gorky, Sri Wahyuni, Eko Yuli Irawan, Lisa Rumbewas, Tim Paralayang cp Wahyu Yuda, dan Komang Sastrawana (Lolak).

“72 orang tersebut telah lolos seleksi dari 1500 kandidat terpilih, mereka berasal dari berbagai latar belakang, profesi, keahlian, dan usia yang beragam,” ujar Nia Sjarifudin selaku panitia UKP Pancasila dan tim seleksi, Senin (21/08).

Festival Prestasi Indonesia: para tokoh yang terpilih sebagai 72 ikon berprestasi berfoto bareng di Jakarta, Senin (28/08). Foto: Lintang Pandu Pratiwi

Sementara itu, di tempat yang jauh dari keramaian Ibu Kota, sejak Senin pagi (28/08), satu-peratu pelajar dari sejumlah sekolah negeri di seluruh Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sudah mulai berkumpul di Taman Pancasila Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dan tak perlu menunggu lama, jumlah peserta yang hadir pun sudah bertambah banyak.

Kehadiran mereka ke situ atas sebuah undangan bertemakan Toleransi itu Pancasila yang diselenggarakan Laboratorim PKn FIS UNY, AMAN Indonesia, Pusat Studi Pancasila dan Konstitusi (PSPK) UNY, SETARA Institute, dan aliansi masyarakat sipil DIY untuk keberagaman.

“Kami mendiskusikan persolan intoleransi dan kekerasan antarpelajar yang terajdi di DIY,” kata Maskur Hasan dari AMAN Indonesia.

Yogyakarta memang terkenal dengan sebutan kota pelajar, sebutan kota tolerans pun tersemat untuk Yogyakarta, namun sebutan toleransi itu kian memudar di kota pelajar. Beberapa kejadian intoleran marak terjadi dalam 5 tahun terakhir. Sampai-sampai Setara Institute memberikan catatan khusus bagi Yogyakarta, karena Yogyakarta masuk dalam 5 besar provinsi dengan pelanggaran tertinggi.

Tindakan kekerasan juga terjadi di tingkat pelajar, seperti aksi klitih atau kekerasan di jalan yang dilakukan sekelompok remaja. Berdasarkan data akhir tahun Polda DIY, selama 2016 terjadi 43 kasus klitih yang sebagian besar pelaku maupun korbannya adalah pelajar.

Berbagai kejadian itulah yang mendorong Maskur Hasan dan penyelenggara lainnya untuk segera menyemai toloransi dan perdamaian di Yogyakarta. “Kampanye perdamaian dan toleransi ini sangat perlu dilakukan dan melibatkan berbagai pelajar sekaligus membuat Deklarasi Pelajar Toleran,” imbuhnya.

Belum lagi jika ditambah hasil survei Setara Institute tentang Toleransi Pelajar di Jakarta dan Bandung Raya yang mengejutkan. Karena dari 760 pelajar yang disurvei, ada yang menganggap hanya yang satu agama dengan dirinya yang pantas menjadi ketua Osis. Meski jumlahnya cuma 30.8% namun itu mengkhawatirkan, sementara yang beranggapan tidak harus satu agama ada 62.2%.

Tak kalah mengejutkan lagi adalah ketika para siswa menjawab pertanyaan terkait sistem pemerintahan apa yang paling baik untuk diterapkan di Indonesia saat ini. Ada 85 responden atau 11.3% menjawab Khilafah. Sebanyak 647 responden atau 85.8% menjawab Demokrasi, 16 responden atau 2.1% Tidak Tahu/Tidak Menjawab, dan 6 responden atau 0.8% menjawab Monarki.

“Namun Yogyakarta masih lebih baik dibanding Jakarta dan Bandung Raya,” kata Halili peneliti Setara Institut yang ikut dalam acara Toleransi itu Pancasila.

Halili melanjutkan pernyataannya sendiri, meski Yogyakarta lebih baik dibandingkan Jakarta dan Bandung Raya, belakangan gejala intoleransi semakin menguat di kalangan pelajar DIY. “Intoleransi itu semakin menguat,” imbuhnya.

Dalam 5 tahun terakhir ini, Halili menemukan adanya penguatan identitas primordial termasuk keagamaan. Dia mencontohkan ada beberapa sekolah negeri yang menjadikan agama tertentu sebagai referensi pengambilan kebijakan.

“Bahkan ada sekolah negeri yang menolak kegiatan ini (Diskusi dan Deklarasi Pelajar Toleran) saat kami kirimkan undangan,” kata Halili.

Sekolah negeri itu, lanjut Halili, keberatan berpartispiasi karena temanya tentang toleransi dan pancasila. “Ini fakta, ada sekolah negeri yang menolak mengikuti acara dengan tema toleransi dan pacnasila,” imbuhnya.

Deklrasi Pelajar Toleran

Acara di ruang terbuka yang terjaga dari terik mentari karena rimbunnya pepohonan, itu, berjalan ramai. Di antara ratusan pelajar yang hadir adalah Vensky G. Putri Permana salah satu pelajar SMA 9 Yogyakarta.

Deklarasi Pelajar Tolerans di Yogyakarta yang diselenggarakan sejumlah perwakilan sekolah di seluruh DIY, Senin (28/08). Foto: Yayaka

Baginya, acara kampanye toleransi perlu digalakkan di DIY, khususnya di kalangan pelajar, mengingat aksi kekerasan antarpelajar dan sikap intoleransi yang belakangan semakin menguat. Pelajar kelas 11, ini, percaya, kampanye toleran dan cinta pancasila dapat mencegah tindakan kekerasan dan mencegah terjadinya konflik.

“Jadi kampanye semacam ini perlu sekali diadakan di kalangan pelajar,” ucapnya dengan penuh semangat.

Pendapat senada juga dilontarkan Kathlin Willyana Handoko, peserta lainnya dari SMA Negeri 8 Yogyakarta. Sebagai generasi muda, pelajar yang masih duduku di kelas 11, ini, merasa terpangggil untuk ikut aksi deklarasi pelajar toleran.

“Sebagai generasi muda kita sudah seharusnya ikut mengampanyekan sikap toleran.”

Selama ini, Kathlin menilai sikap toleransi di kalangan pelajar masih kurang terjalin dengan baik. Tak sedikit pelajar yang suka mementingkan diri sendiri daripada orang lain dan malah mengembangkan perbedaan. Kathlin juga masih sering mendegar perbedaan antara minoritas dan mayoritas.

“Di sekolah juga ada yang membedakan ras dan suku,” ujar Kathlin. Dia menrsukan, bahwa membeda-bedakan itu tidak baik dan harus segera dihilangkan. “Ini semua harus dihilangkan, kita semua sama, Indonesia itu Bhineka Tunggal Ika,” sambungnya.

Di akhir acara, ratusan pelajar yang sudah berkumpul sejak pagi hari, itu, semua berdiri. Mereka bersama-sama mendeklarasikan sebagai Pelajar Toleran. Begini isi deklarasinya:

Kami Pelajar di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan sungguh-sungguh menyatakan untuk:

  1. Senantiasa menghormati dan menjunjung tinggi keberagaman sebagai fakta alamiah dan konsensus sosial politik Bangsa dan Negara yang berdasarkan Pancasila dan bersemboyankan Bhineka Tunggal Ika
  2. Senantiasa menaatai tata masyarakat beradab dengan mengarusutamakan prespektif kedamaian dan antikekerasan serta mengedepankan dialog dalam menyelesaikan permasalahan;
  3. Senantiasa memajukan toleransi dalam pergaualan antar sesama pelajar dan interaksi sosial kemasyarakatan;
  4. Senantiasa ikut meningkatkan, menjaga, dan merawat Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Daerah Toleransi dan Daerah Keberagaman.

Yah, berbagai apresiasi dan gerakan keberagaman terus digalakkan, baik oleh masayarakat seperti Deklarasi Pelajar Toleran, dan pemerintah seperti Festival Prestasi Indonesia. Semua tujuannya sama, semangat persatuan dan tegaknya Bhineka Tunggal Ika di Indonesia.

BACA : Upacara Bendera dan Doa Keberagaman

Semoga, gerakan konkrit dari semua generasi di seluruh penjuru nusantara dapat menginspirasi generasi muda untuk berperan aktif memberikan karya positif untuk negara. Indonesia dibangun atas keberagaman warna kulit, ras, etnis, suku bangsa, agama. Jadi sudah semestinya kita semua bisa menghayati dan mengamalkan nilai-nilai keberagaman dan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kami akan terus mengampanyekan toleransi dan perdamaian di kalangan pelajar,” tegas Maskur Hasan. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *