Kisah Djaduk Ferianto dan Suara Pujian di Masjid

Oleh: Efulya Himawan

 

 

GANGSIPUT.COM – RATUSAN pelayat berdatangan dan mendoakan jenazah seniman RM. Gregorius Djaduk Ferianto yang telah mengembuskan nafas terakhir pada Rabu (13/11), dini hari, pukul 02.30 di kediamannya, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mereka yang hadir tak hanya seniman, Lukman Hakim Saifuddin, mantan Menteri Agama periode (2014-2019), pun ikut hadir dan memberikan pidato ucapan selamat jalan sebelum jenazah Djaduk diantarkan menuju pemakaman.

“Sore ini kita berkumpul dalam rangka ikut mengantar kepulangan saudara kita, kakak kita, guru kita, Mas Djaduk Ferianto. Untuk kita berduka dan merasa kehilangan dengan kepergiannya,” kata Lukman dalam pidato selamat jalannya selama kurang lebih 4 menit.

Lukman mengaku sangat kehilangan. Baginya, Djaduk tidak hanya seorang teman atau seorang saudara, Djaduk adalah seorang guru toleransi yang telah mengajarkannya makna keberagaman dalam menjalani kehidupan.

“Meskipun beliau dari sisi usia lebih muda dari saya, tapi saya belajar dan berguru padanya. Saya belajar makna toleransi dari cara dia menjalani kehidupan,” imbuhnya.

Lukman teringat pada kejadian beberapa tahun silam. Saat itu ada acara seni pertunjukan penggalangan dana di Batu, Malang, untuk almarhum Munir. Kua Etnika, grup musik bentukan Djaduk ikut ambil bagian dalam acara itu.

Siang hari, sebelum Zuhur, Kua Etnika mendapat jatah manggung memainkan musik. Di tengah-tengah permainan, terdengar alunan puji-pujian dari masjid alun-alun tempat pagelaran berlangsung.

“Ada suara pujian menjelang azan Zuhur,” kata Lukman.

Meski bukan suara azan, lanjut Lukman, namun Djaduk menghentikan pertunjukan. Dia tidak mau melanjutkan permainan. Padahal, lanjut Lukman, itu suara pujian, bukan azan.

Melihat kejadian itu, Wali Kota Batu meminta Djaduk untuk terus melanjutkan permianan. Lukman pun melakukan hal yang sama, meminta untuk tetap lanjut main. Tetap saja Djaduk tidak mau.

“Mas Djaduk tidak mau dan mengatakan atiku ora tekan,” ingat Lukman.

BACA: Kisah Semangkuk Toleransi

“Saya ingat betul, Mas Djaduk merasa tidak sampai hati kalau dia tetap melanjutkan pertunjukannya. Seakan-akan itu menyaingi suara pujian-pujian dari masjid meskipun bukan azan,” imbuh Lukman.

Dalam ingatan Lukman, kejadian itu sudah tahun alias pada 2012. Namun peristiwa itu masih sangat membekas di ingatan Lukman. Baginya, peristiwa itu adalah salah satu pelajaran berharga tentang toleransi dari Djaduk.

Di hadapan ratusan pelayat yang hadir sore itu, Lukman berharap ajaran toleransi dari Djaduk bisa terus terjaga dan lestari.

“Semoga kita yang ditinggalkan tetap diberikan kekuatan agar kita mampu menjalankan apa yang selama ini beliau lakukan yakni bagaimana kedamaian senantiasa mewujud di tengah-tengah masyarakat kita yang beragam,” ujar Lukman.

Sebelum mengakhiri kata-katanya, Lukman meminta kepada semua yang hadir untuk ikut mengantarkan jenazah Djaduk Ferianto ke tempat peristirahatan terakhir.

“Dan marilah kita antar kepulangannya, mudah-mudahan Mas Djaduk bisa istirahat dengan tenang dan tenteram di surgaNya,” imbuh Lukman mengakhiri pitadonya.

 

Sosok Demokratis

Jenazah Djaduk Ferianto di makamkan di pemakaman keluarga, Sembungan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Djaduk meninggalkan seorang isteri, Bernadette Ratna Ika Sari, dan lima anak, yakni Gusti Arirang, Ratu Hening, Gallus Presiden Dewagana, Kandida Rani Nyaribunyi, dan Rajane Tetabuhan.

Para pelayat antre mendoakan jenazah Djaduk Ferianto. FOTO: Yaya Marjan

 

Bernadette Ratna Ika Sari, istri Djaduk, melalui rilis Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, mengisahkan sepuluh menit sebelum suaminya itu meninggal. Pada Rabu dini hari, katanya, Djaduk bangun tidur karena mengalami kesemutan dan sesak di dada.

Setelah itu, sekira sepuluh menit kemudian, Djaduk mengembuskan nafas terakhirnya. Dia meninggal dengan damai di samping isterinya. Di rilis tertulis, Djaduk meninggal seperti yang diinginkannya, yakni meninggal dengan mudah.

Djaduk merupakan anak bungsu dari 7 bersaudara. Tak berlebihan jika menyebut darah seni yang mengalir dalam dirinya menurun dari ayahnya, seorang seniman tari legendaris Bagong Kussudiarja. Saudara Djaduk lainnya, yakni Ida Manutranggana, Elia Gupita, Rondang Ciptasari, Otok Bima Sidharta, Butet Kartrajasa, dan Purbaya Ayuwangi, juga ada yang bergelut di dunia seni.

“Mbak Ida seniman tari, Butet seniman monolog, dan saya di karawitan,” kata Otok Bima Sidharta, kakak Djaduk Ferianto.

Otok mengenal Djaduk sebagai sosok yang baik dan suka bercanda. “Dan saya sagat kehilangan dengan kepergiannya,” ujar Otok.

Putera bungsu Bagong Kussudiarja ini dikenal sebagai seorang komposer, koreografer, sutradara, produser dan fotografer. Ia menjadi pendiri sekaligus pemimpin kelompok musik Kua Etnika dan Sinten Remen.

Djaduk tumbuh dalam atmosfer kesenian dan budaya Yogyakarta. Ia banyak berperan di berbagai kelompok kesenian dan menjadi salah satu inisiator festival Ngayogjazz dan Pasar Keroncong Kotagede.

Meski Djaduk bergelut di dunia seni dan darah seniman mengalir di diri Djaduk, namun dia tidak pernah mewajibkan anak-anaknya untuk menjadi seorang seniman atau belajar seni.

“Djaduk membebaskan anak-anaknya, dia tak pernah mewajibkan anak-anaknya menjadi seniman.” ujar Otok. []

 

Oleh: Efulya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.