Mereka yang Sukses Menjalani Terapi Menulis

Oleh: Efulya Himawan

Ketika banyak orang abai mengabadikan aktivitasnya di buku catatan harian, sebagian orang yang menekuninya malah sukses menjadikannya sebagai terapi. Hasilnya, mereka meraskan hidupnya lebih efektif, tenang, bahagia dan terhindar dari depresi.


GANGSIPUT.COM – MENULIS adalah terapi. Begitulah kata yang pas untuk ungkapan kisah orang-orang yang melakoni aktifitas menulis di buku atau catatan harian. Mereka menjadikan menulis sebagai terapi yang ampuh untuk menenangkan jiwa dari perasaan-perasaan negatif sekaligus obat trauma.

Mungkin bagi sebagian orang, tak masuk akal. Tapi tidak bagi mereka yang telah melakoninya, seperti seorang perempuan asal Solo, Jawa Tengah, Fitri Nganti Wani.

Fitri adalah putri seorang aktivis dan seniman asal Solo, Widji Thukul. Fitri telah menjalani terapi menulis dan merasakan sendiri manfaatnya. Selain terbebas dari trauma, pun terapi yang Fitri lakoni telah membuahkan sebuah buku buku berjudul Kau Berhasil Jadi Peluru.

“Menulis apa saja,” kata Fitri Nganti Wani saat peluncuran bukunya, di Yogyakarta pada 8 Juni Juni 2018.

Benar, Fitri mengatakan hal itu setahun lalu. Namun bukan lantas apa yang Fitri katakan menjadi kisah usang. Justru sebaliknya, apa yang Fitri lakukan harus menjadi tren agar tradisi literasi masyarakat meningkat dan terbebas dari stres.

Fitri tak sendirian, banyak orang lain di berbagai penjuru dunia yang melakoni terapi seperti Fitri dan mendapatkan manfaatnya. Seperti Morris Villarroel, seorang lelaki paruh baya yang berprofesi sebagai pengajar di Polytechnic University of Madrid, Spanyol.

Suatu hari, jauh dari tempat tinggal Fitri di Solo dengan jarak sekitar 16.230 kilometer, Virralrol sedang membolak-balik buku catatan hariannya. Matanya yang biru secara seksama menyapu kata demi kata. Dia mencari catatan diskusinya dengan mahasiswanya.

Sudah menjadi kebiasaan, setiap hendak mengajar, terlebih dahulu Virralrol membuka catatan hariannya untuk mengecek percakapan serta apa saja yang telah dia lakukan, dan apa saja yang harus disiapkannya agar diskusi lebih efektif.

Yah… benar. Virralrol memiliki buku catatan harian. Di buku itu Virralrol mencatat kegiatan saban harinya secara detail. Hasilnya, Virralrol merasakan hidupnya jauh lebih baik. Virralrol mengaku lebih santai dalam menghadapi segala persoalan dan tidak reaktif meski dalam situasi yang penuh tekanan.

“Secara perlahan, hal-hal baik mengambil alih hal-hal yang lebih negatif.”

Morris Villarroel

Virralrol menceritakan pengalamannya itu kepada jurnalis BBC Worklive, David Robson dan telah tayang dalam artikel berjudul One man’s 10-year experiment to record every moment.

Dalam artikel bertanggal 7 Desember 2019, itu, Robson menguraikan kisah Virralrol dengan detail dan apik. Tak hanya kisah Virralrol, Robson juga mengulas sejumlah penlitian dan pengalaman lain yang sekufu.

Virralrol memulai aktivitasnya itu pada Februari 2010. Kala itu Villarroel ingin melakukan satu eksperimen selama 10 tahun. Dia berpikir, membuat catatan harian yang bisa membantunya mengingat masa lalunya sekaligus membantunya dalam menjalani sisa hidupnya secara lebih efektif.

Dan sejak itulah Virralrol menulis secara rinci aktivitasnya di buku harian. Saban hari, Virralrol menghabiskan waktu antara 15-30 menit menulis aktivitasnya, mulai dari perjalannya menggunakan angkutan publik; aktfitasnya di kampus; dan pertemuannya dengan sejumlah orang.

Sekarang, Virralrol sudah memasuki tahun ke sembilan lebih beberapa bulan. Sudah ada 307 buku catatan. Catatan-catatannya itu Virralrol susun di Microsoft Excel untuk memudahkannya ketika hendak mengecek dan membaca apa saja yang telah dia lakukan di tahun-tahun sebelumnya.

“Saya dapat melihat dan benar-benar memperhatikan detail-detail setiap hari dan hampir setiap jam setiap hari selama 10 tahun ini,” ujar Virralrol.


Sadar Penuh, Hadir Utuh

Manajemen waktu, itulah tujuan utama yang melatarbelakangi Virralrol mengerjakan eksperimennya. Virralrol ingin mengetahui bagaimana dia menghabiskan waktu sekaligus dampak eksperimennya terhadap kesehatan dan kebahagiaan.

Fitri Nganti Wani saat peluncuran bukunya yang berjudul Kau Berhasl Jadi Peluru. FOTO: Yayaka

Misalnya ketika Virralrol membawa mobil saat berangkat ke kantor. Virralrol menyadari ternyata dia cepat marah hanya karena insiden kecil, yakni ketika ada seseorang yang memotong jalur di depannya atau karena kemacetan lalu lintas. Dari situlah Virralrol melakukan perubahan dengan tidak naik mobil namun kendaraan umum dan berjalan kaki.

Jika dilihat memang perubahannya tidak begitu revolusioner tapi Virralrol mengaku perubahan itu bisa meningkatkan kepuasan hidupnya secara keseluruhan. Perlahan tapi pasti, catatannya membantu Virralrol menjadi lebih baik saat memberi kuliah dan berdikusi di kampusnya.

“Secara perlahan, hal-hal baik mengambil alih hal-hal yang lebih negatif,” ujarnya.

Saking banyaknya catatan, Virralrol merasa seolah waktu melambat dan dia hidup dalam jangka waktu yang lebih lama. Begitulah perubahan yang Virralrol alami dan rasakan. Seperti katanya, memang tidak begitu revolusioner tapi yang pasti bisa membuatnya lebih baik dan bahagia.

Apa yang Virralrol rasakan persis seperti yang dialami James Norris, lelaki berusia 36 tahun, seorang pendiri bisnis konsultan Upgradeable yang kini berbasis di Bali, Indonesia.

Norris mencatat aktivitas hidupnya sejak usia 16 tahun. Semua catatannya Norris simpan dalam basis data computer. “Setiap kali saya ingin kembali dan mengingat sesuatu, saya bisa pergi dan mencari tahun atau kata kunci tertentu, dan kemudian saya bisa mengingat dan merasakannya.”

Sama dengan Villarroel, Norris yakin kebiasaan mencatat aktivitas di buku harian bisa membantu dan membimbingnya menemukan cara terbaik mengisi waktu. Tak hanya itu, aktivitasnya juga membantunya meningkatkan rasa percaya diri dan lebih berani keluar dari zona nyaman.

“Ini merupakan cara yang mudah dan murah untuk mendapatkan nilai lebih dari kehidupan,” ujar Norris.

Pengalaman Villarroel dan Norris adalah dua contoh selain Fitri. Mereka menjadi lebih baik, mampu mengatur emosi dan lebih bahagia dalam menjalani kehiudpan. Berbeda dengan sebelum mereka mencatat aktivitas harian di buku catatan harian.


Mudah dan Murah Berhasil Jadi Peluru

Kembali lagi ke Solo di mana Fitri tinggal. Buku berjudul Fitri Kau Berhasil Jadi Peluruadalah bukti nyata keberhasilan Fitri menerapkan terapi menulis. Sekufu dengan Villarroel dan Norris, bagi Fitri menulis adalahsebuah terapi yang ampuh dan bisa menyembuhkan trauma dan perasaannya yang negatif melebihi obat-obatan.

Betul kata Norris, menulis aktivitas di buku catatan harian adalah resep terapi yang mudah dan mudah. Fitri telah melakoninya. Mudah karena bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Murah karena tak memerlukan banyak biaya, cukup kertas dan pena.

Saat peluncuran buku Kau Berhasil Jadi Peluru, Fitri membagikan resepnya agar bisa menjalani terapi dengan mudah dan murah. Tapi sebelumnya, Fitri ingin berbagi rasa trauma yang dia alami.

Buku kumpulan puisi Fitri Nganti Wani berjudul Kau Berhasil Jadi Peluru. FOTO: Yayaka

Dulu, Fitri mengaku memiliki rasa trauma dan perasaan-perasaan negatif yang sering muncul dalam dirinya. Pemicu utama adalah kepergian ayahnya, Wiji Thukul. Dari situ, merembet ke persoalan lain.

“Paling besar penyebabnya itu, kepergian bapak. Dari situ mengekor ke masalah lain,” katanya.

Untuk menenangkan pikiran dan menghilangkan rasa takut, Fitri pergi ke psikiater, konsultasi dan mencari obat. Fitri mendapatkan obat-obatan dari psikiater untuk menghilangkan rasa depresi. Tapi, alih-alih ketenangan dan kebahagiaan yang dia dapatkan, Fitri mengaku malah tidak sanggup lagi untuk bercerita kepada siapapun.

“Tidak bisa, karena kebahagiaan dan ketenangan itu dalam diri kita.” Katanya. “Akhirnya saya lakukan dengan cara menulis.” Imbuhnya.

Fitri menulis semua yang dialami. Semua perasaan yang dirasakannya dia ungkapkan dalam bentuk tulisan. Dengan menulis Fitri menemukan jalan hidup berbeda ketika dia mengungkapkan rasa takut dan traumanya dengan marah atau menangis.

“Kalau seperti itu malah seperti orang gila,” ujarnya pelan.

Model terapi yang diterapkannya berhasil dan berbuah manis. Pun terapi yang Fitri lakukan menjadikan hidupnya lega, tidak trauma, dan bisa bersahabat dengan masa lalunya. Efek paling nyata, Fitri mengaku bisa tidur nyenyak dan merasa hidup jadi lebih baik.

“Teruslah menulis karena suatu saat menulis akan menolongmu. Dan teruslah menulis biar tidak gila,”

Fitri nganti wani

“Teruslah menulis karena suatu saat menulis akan menolongmu. Dan teruslah menulis biar tidak gila,” katanya memastikan.

Kau Berhasil Jadi Peluruadalah buku puisi berisi 50 puisi pilihan yang menceritakan kehiduapan sekelilingnya. Judul yang dipilih menjadi judul buku bercerita tentang ayahnya, Wiji Thukul.

Baginya, Wiji Thukul sudah berhasil peluru. Seperti pemaknaan orang yang menyatakan Wiji Thukul sebagai peluru. “Kan emang sudah berhasil. Semua orang memaknai dia (Wiji Thukul) sebagai peluru,” kata Fitri.

“Itu semua seolah menjawab kumpulan puisi Wiji Thukul yang berjudul Aku Ingin Menjadi Peluru,” urainya kemudian.

Harapan Fitri, dengan terbitnya buku Kau Berhasil Jadi Peluru, semua orang dapat bersyukur dan menyayangi keluarga, terutama ibu. Dan yang palign penting, lanjut Fitri, dia mengajak kepada siapa saja untuk ikut menjalani terapi menulis.

“Menulislah biar tidak gila,” ujarnya sekali lagi tentang pentingnya terapi menulis baginya. “Dan hasilnya membuat kita bahagia,” imbuhnya.

Nah, kisah Fitri, Villarroel dan Norris adalah contoh keberhasilan terapi menulis untuk kesehatan, dan ketenanagan jiwa. Bagi mereka, menulis apapun di catatan atau buku harian layak menjali sebuah terapi di era disrupsi agar menjadi manusia yang tenang, dan tidak grusa-grusu. Jadi, menulislah sekarang. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.