Butet Kartaredjasa. FOTO: Efulya Himawan.

Butet Kartaredjasa Bicara Gus Dur dan Pluralisme

Oleh: Efulya Himawan

DI penghujung 2017, tepatnya pada 30 November sampai 12 Desember 2017, Butet Kartaredjasa mengadakan pameran tunggal. Pameran Seni Visual bertajuk Goro-Goro Bhinneka Keramik. Banyak karya yang Butet pamerkan. Di antaranya karya berjudul Wong Suci. Dialah KH Abdurrahman Wahid, Presiden Republik Indonesia keempat atau yang karib dengan sebutan Gus Dur.


Mengapa Butet menyebut Gus Dur sebagai Wong Suci? Berikut petikan wawancara dengan Butet pada 15 Agustus 2018. Selain menceritakan sosok Wong Suci, Butet juga bercerita soal keberagaman di Indonesia.


Mas Butet memaknai Gus Dur sebagai Wong Suci, apa maksudnya?

(Butet diam sesaat, lalu berkata dengan nada pelan) Gus Dur orang baik. Orang lempeng, Orang tegas. Orang yang teguh dan jenaka. Gus Dur orang yang bisa menyikapi hidup dengan rileks tapi sangat spiritualis. Saya bukan Muslim. Tapi saya merasa keimanan saya ada di spirit Gus Dur.

Mas Butet mengagumi Gus Dur?

Saya sangat mengagumi. Gus Dur adalah contoh orang yang hidupnya sumeleh. Yang bersandar pada kebenaran. Saya menemukan spirit itu. Dalam lukisan itu (yang saya pamerkan) ada puluhan tafsir.

Judulnya ada wong suci sedang ngapain, wong suci ngapain dan seterusnya. Seperti doa saya. Doa kepada sosok yang saya kagumi.

Bagaimana awalnya?

Jadi begini, sebelumnya saya meminta Sigid Santosa, pelukis, untuk membuat Gus Dur dalam posisi Kristus Raja. Seperti Yesus terbang naik ke surga. Dan dalam posisi luksian itu saya gunakan sebagai metafora untuk memaknai Gus Dur. Macam-macam judulnya, macam-macan gambarnya, semua dalam media keramik.

Saya bukan Muslim. Tapi saya merasa keimanan saya ada di spirit Gus Dur.

Butet Kartaredjasa

Rindu Gus Dur?

Iya, saat seperti ini saya atau mungkin banyak masyarakat yang merindukan sosok Gus Dur. Untung hari ini kita masih punya Gus Mus. Meski tidak sama persis. Tapi kita harus selalu punya harapan akan lahirnya orang-orang baik. Hari ini kita bisa berharap dengan orang baik seperti Pak Mahfud (Mahfud MD). Masih banyak orang baik. Jangan berhenti berharap. 

Bhinneka, terkait keberagaman di Indonesia atau apa?

Itu multi tafsir, bisa jadi keberagaman konteks negara kita sebagai bangsa. Bisa jadi keberagaman jenis karya yang saya tampilkan. Karena waktu itu saya reborn dan tidak mau dibatasi dengan apapun.

Saya melukis apa yang ingin saya lukis. Temanya macam-macam. Semuanya ekplorasi media keramik.

Goro-goro itu bisa diartikan sebagai peristwa chaos, tapi bisa juga diartikan sebagai oase, seperti dalam perwayangan. Di mana tempat kesatria bisa bercanda dengan panakawan.

Nah saya bermonolog itu juga goro-goro, tempat orang bisa melihat persoalan dari perspektif panakawan. Sentilan-sentilun juga goro-goro. Saya memposisikan diri sebagai jongos. Panakawan kan jongos.

Terkait kebinekaan, sebagai seniman bagaimana Mas Butet melihat Indonesia saat ini. banyak aksi intoleran, diskrimiantif. Dan sebagainya. Mas Butet juga pernah mengatakan, lebih baik tidak beragama, tapi prilakunya baik dan benar. Apa maskusdnya?

Itu saking jengkelnya saya. Jengkel terhadap orang-orang yang mempolitisasi agama. Agama hanya jadi hiasan. Topeng, kedok. Orang-orang mencitrakan sebagai orang yang agamis ketika mengenakan rompi oranye. Mendadak di ruang sidang pakai hijab. Mencitrakan diri sebagai orang soleh.

Saya itu gemas dengan mereka. Saya pikir, daripada mencitrakan diri beragama, tapi praktiknya bajingan, mending kan nggak beragama, tapi prilakunya benar.

Pilih mana: menjadi orang benar dan baik, tapi terkesan tidak beragama. Atau terkesan agamis sekali tapi faktanya bajingan.

Pilih mana: menjadi orang benar dan baik, tapi terkesan tidak beragama. Atau terkesan agamis sekali tapi faktanya bajingan.

Butet Kartaredjasa

Idealnya?

Idealnya ya orang itu spiritualis. Spiritualis itu kan nggak harus beragama formal. Tapi prilakunya benar. Jadi orang baik. Nggak nyusahin orang, solider, tolong menolong, membawa kemanfaatan bagi banyak orang. Bermanfaat bagi kehidupan dan tidak merusak alam semesta.

Itu orang-orang baik. Mending jadi orang seperti itu. Daripada mengaku orang beragama tapi seluruh tindakannya bertolak belakang dari nilai-nilai agama.

Politisasi Agama, seberapa besar bahayanya?

Itu sangat membahayakan keutuhan bangsa ini. Makanaya kita harus bersama-sama menjaga dengan caranya masing-masing. Itu potensi konflik yang sangat besar dan berbahaya.

Saya sebagai anak bangsa, tidak ingin menghianati cita-cita luhur Pendiri Bangsa yang mempertemukan kita menjadi satu bangsa.

Jelas sekali sejak awal bangsa ini didirikan, dipersatukan dengan keberagaman itu. Tidak hanya keberagaman etnik tapi juga keragaman agama. Semua mempunyai kontribsui besar untuk bangsa Indonesia.

Kita harus menghormati dong, leluhur bangsa ini. Tanpa mereka tidak ada kita. Kita generasi lanjutan harus meneruskan, mewujudkan mimpi besar para Pendiri Bangsa dan leluhur bangsa kita.

Indonesia itu sebuah proses yang tidak akan pernah selesai. Hidup kita ini dalam rangka berproses mewujudkan Indonesia yang diimpikan, yang dibayangkan para Pendiri Bangsa: keragaman.

Jadi, pluralisme dan toleransi itu mutlak!

Ada ungkapan Gus Dur soal agama: Tidak penting apapun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang, orang tidak pernah bertanya apa agamamu. Bagaimana menurut Mas Butet?

Itu! Itu benar. Dan itu saya kagumi.

Mas Butet dan Isteri beda kepercayaan, bagaimana praktik ungkapan Gus Dur, itu, dan bagaimana Mas Butet menghormati perbedaan. Atau katakanlah bagaimana Mas Butet membangun keberagaman di lingkup paling kecil, keluarga?

Saya itu memaknai proses spiritual orang perorang adalah ruang privat. Orang punya agama itu tidak bisa mengelak karena diwariskan orangtuanya masing-masing. Maka agak susah untuk saya misalnya, didorong untuk mengganti keimanan saya yang terlanjur saya yakini sejak dilahrikan itu.

Kalau saya paksakan, berarti saya menipu diri saya. Begitu juga dengan istri saya. Kalau dia mengiktui saya, berarti dia menipu dirinya.

Bayangkan, orang hidup dalam sebuah penipuan sepanjang jaman. Berarti dia tidak jujur. Saya tidak bisa menafikan keimanan yang terlanjur ada di dalam diri saya. Saya cuma ingin menjadi orang yang jujur saja.

Tolong beri saya kesempatan jujur dengan mempercayai keimanan yang ada di dalam diri saya. Dan saya pun tidak memaksa dan mengganggu orang lain. Kalau anak saya mau mengiktui istri saya, silahkan. Itu hak dia. Bahkan kelak kalau mau pindah agama itu urusan anak saya, bukan saya.

Yang penting, kita boleh memiliki iman yang berbeada, kita boleh mempercayai kebenaran sesuai keimanannya masing-masing, selama itu hidup untuk menjadi orang yang baik, membuat kehidupan ini menjadi lebih baik. Itu sudah benar. Bagi saya itu jauh lebih penting, daripada klaim yang sifatnya formal.

Jadilah orang baik, beragama dan berkepercayaan apa saja, silahkan. Itu sifatnya privat. Kalau perlu, tidak ada kolom agama di KTP, saya malah senang. Jadi ketika saya ditanyai fungsi agama, saya jawab untuk mengisi kolom KTP.

BACA: Kisah Djaduk Ferianto dan Suara Pujian di Masjid

BACA: Kisah Semangkuk Toleransi

BACA: Mereka yang Sukses Menjalani Terapi Menulis

Oke. Mas Butet pernah mengatakan: kalau agama ingin menjadi yang diharapkan, maka dia harus berjumbuh pada kebudayaan, karena kebudayaan punya kekuatan yang luar biasa. Apa maksudnya, Mas?

Saya pernah bilang begitu… di mana yah… Tapi begini, kalau kita melihat Islam di Indonesa yang diajarkan Sunan Kalijaga, terlihat bagaimana agama itu lebur. Ajur-ajer dalam kebudayaan.

Bentuknya melalui tembang-tembang, melalui ritual-ritual di desa-desa seperti bersih desa, merti desa, meruwat desa, dan lainnya. Dan itu di dalamnya ada nilai-nilai ajaran agama, tapi tindakan masyarakat itu kan kebudayaan.

Kebaktian di Gereja Pugeran pakai gamelan, Gereja di Ganjuran pakai patung ala Hindu. Itu kebudayaan, proses kultural dan orang bisa menerima.

Adaptasi di dalam kehidupan kultural masyarakatnya. Kebaktian Kristen pakai tembang Jawa, lagu Liturgi Gereja bahasa Jawa, tidak harus dengan orkes seperti di Eropa. Ini kan satu agama yang kultral.

Sunan Kalijaga itu jelas sekali menggunakan itu, kongkrit dan masih sangat relevan.

Seperti cerita seorang Kiai yang dimintai nasihat ketika warga desanya pada ribut mempersoalkan, membangun masjid terlebih dahulu atau membeli gamelan. Sang Kiai memberikan saran untuk membeli gamelan, bukan membangun masjid.

Dengan gamelan, warga desa bisa latihan karawitan barengan, bisa main wayang, ketoprak, rukun. Dan karena masyarakatnya rukun, pertanian produktif, lalu panen dan bisa menabung lagi. Dan akhirnya bisa membangun masjid.

Artinya proses kultural tadi punya nilai prodktif, itu sorang Kiai loh. Itu kan sangat kultural, makanya saya bilang jumbuh kepada kebudayaan tadi, konkritnya seperti itu.

Pluralisme dan toleransi itu mutlak!

Butet Kartaredjasa

Kembali ke pameran Goro-Goro Bhinneka Keramik. Kok pameran, Mas. Apa sekarang beralih dari dunia seni teater (peran) ke seni lukis?

Ora beralih, justru saya kembali, karena dasar kesenian saya itu seni rupa. Sejak remaja, umur 17 tahun sekolah SMA saya seni rupa, perguruan tinggi saya jurusan seni rupa, di ASRI yang sekarang jadi Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta. Sampai akhirnya saya gaklulus, DO.

Jadi aslinya aku orang seni rupa yang tersesat menjadi pemain teater. Pada saat usia remaja, bersamaan belajar seni rupa saya juga belajar teater. Pada saat itu saya mendapat penghargaan, aktor terbaik festival teater SLTA se-DIY pada 1979. Dan pada saat yang sama saya juga jadi penulis.

Jadi kalau saya melukis kembali, itu karena panggilan masa lalu, setelah saya melakukan proses cuci otak dengan Digital Subtraction Angiography (DSA) oleh dr Terawan. Itu salah satu pemicunya.

Terapi dr. Terawan?

Jadi ceritanya begini. Pada waktu itu saya sering mengalami hang. Memori saya sering kehilangan data. Ketika saya sedang ngomong, tiba-tiba ada satu kata yang hilang dan saya hang tidak bisa mengingatnya.

Pernah suatu ketika, saya mau menyebut masker, tapi susahnya minta ampun. Sampai saya bertanya pada istri saya. “Apa sih itu yang ditaruh di mulut ketika Merepi meletus,” isteri saya menjawab, masker. Nah mau nyebut masker saja susahnya minta ampun.

Saya lalu terhenyak. Saya berpikir pasti ada yang tidak beres di otak saya. Sering saya itu ingat betul apa namanya tapi otak saya gak sampai. Seperti makjegagik plas hilang. Lalu saya cek, setelah otak saya discan pakai magnetic resonance imaging(MRI), ketahuan ada noktah-noktah di bagian otak yang urusan memori. Lalu saya minta tologn dr Terawan dengan menggunakan terapi DSA. Akhirnya ada satu perubahan.

Butet Kartaredjasa. FOTO: Efulya Himawan.
Butet Kartaredjasa. FOTO: Efulya Himawan.

Apa yang terjadi setelah DSA?

Setelah DSA, saya hayati betul proses otak saya itu, yang muncul itu bangkitnya kembali memori masa lalu. Di antaranya, ada keingingan dan dorongan melukis yang sangat besar. Termasuk saya memilih media keramik itu dulu saya temukan tempatnya pada awal 2000an. Itu saya kunjungi lagi. Saya mencoba melukis lagi tapi melalui media keramik, tidak di atas kanvas.

Dulu saya pernah bereksperimen meluksi di permukaan yang licin. Di atas tegel keramik, kalau sekarang saya elaborasi lagi. Saya menemukan keunikan baru momentum artistik yang tidak terduga. Ada keasikan sendiri dan selalu memberikan kejutan berulang kali.

Selama 3 tahun, tahu-tahu hasil lukisannya kok banyak. Saya berpikir, ya sudah saya jadikan medium kreatifitas kesenian saya. Medium baru. Lahirlah sejumlah lukisan dan saya pamerkan.

Berarti berhenti jadi pemain teater?

Bukan berhenti, tapi sebuah proses. Bukan sudah tidak bisa, sekarang seni pertunjukan masih saya lakukan. Masih mengurus dengan kawan-kawan di Teater Gandrik, program Indonesia Kita, saya masih melakukan itu. Tapi saya harus tahu diri, menyadari, usia semakin tua. Tubuh semakin rapuh. Moblitas pada saatnya pasti menurun.

Saya tidak mau memaksakan diri seperti 20 tahun yang lalu. Latihannya adalah dengan melukis, menulis, itu pilihan personal. Proses tahu diri sangat penting. Supaya tidak post power syndrome.

Banyak orang di bidang apapun itu sering mengalami gejala psikis itu. Justru karena saya menyadari itu, maka saya harus menyiapkan hari depan saya sedemkian rupa. Jangan sampai jadi orang baperan, karena baperan adalah penyakit orang yang tidak mau menyadari masa lalunya.

Senang dengan aktifitas barunya itu?

Saya puas, saya senang karena diterima kembali oleh dunia seni rupa. Dan itu membuat saya semakin semangat.

Begini, usia semakin tambah, mobilitas saya semakin berkurang. Selama ini bekerja kolektif banyak kepala. Kalau melukis lebih pada personal. Maka saya berpikir hari depan saya dengan seluruh kerapuhan tubuh saya, ya saya harus bekerja yang personal dalam mewadahi kreatifitas saya itu.

Apa harapan Mas Butet di dunia seni?

Kejujuran. Kejujuran untuk menyikapi seni. Artinya seluruh yang dimunculkan dari produk seni itu adalah hasil jujur dari pikiran dari seluruh proses pencarian estetikanya yang murni dan jujur.

Yang menjadi tantangan manusia hari ini dan kapanpun itu adalah kemampuan membahasakan seluruh citarasa artistik supaya bisa dinikmati masyarakat hari ini.

Saya hidup di masa lalu. Cara saya membahasakan pikiran kesenian saya sesuai konteks waktu itu yang belum ada medsos, belum ada kebudayaan digital yang massiv yang sekarang kebudayaan itu (digital) mengubah prilaku manusia.

Jadi bahasa era mileneal berbeda dengan generasi saya. Artinya saya berhadapan dengan audiens yang berbeda generasi dengan saya. Jadi saya harus belajar cara bahasa mereka agar satu frekuensi. Kalau tidak maka saya ditolak.

Tantangan membahasakan bahasa hari ini adalah probelm kita termasuk dalam kesenian. Itu tantangan. Kalau masih sama dengan masa lalu maka ditinggal.

Mas Butet kalau melihat orang-orang yang sok agamis kan geregetan, mengapa tidak berjuang dalam Senayan. Kan banyak tuh yang begitu. Nggak tertarik?

Pertama harus disadari, dunia poltiik dan seni itu ilmu dasarnay berbeda, bakatnya juga berbeda. Kecerdasan yang didimiliki seniman, tidak secara otomatis punya kecerdasan yang sama ketika diimplementasikan di tempat yang berbeda. Kan ilmunya berbeda.

Nah, karena saya merasa tidak punya ilmu dan bakat di sana (politik), hanya konyol belaka kalau saya ke situ (politik). Sia-sia.

Saya mencoba tahu diri. Jadi orang populer itu tidak otomatis menjadi orang pinter. Biso rumongso itu susah, saya belajar itu. Makanay saya gak pernah mau diundang ke ILC. Lah ngapain saya bukan ahli hukum kok diundang ke ILC. Dunia saya itu dunia aktor, dunia teater atau metode artistik di seni rupa, saya ngerti.

Kecakapan saya sebagai aktor kok, bukan kecakapan yang isuk dele sore tempe. Itu bukan kecakapan saya. Di sana (DPR) kerjaanya cuma rapat, urip kok ming rapat.

Lah aku wis penyakitan, diabet dan bawaanya ngantuk, turu. Gak cocok sama sekali. Jadi tangeh lamun, hil yang mustahal saya memaksakan diri di sana. Mending ning omah penak gambar.

Tidak ada orang mati sebab tongseng, tidak ada orang mati sebab rokok!

Butet Kartaredjasa

Mas Butet bilang penyakitan, tapi tadi kok habis makan tongseng kambing. Gak ada pantangan makanan toh, Mas?

Pantangan saya sebenarnya banyak, nggak boleh kambing, gak boleh babi, banyak. Penyakit saya juga banyak, ada diabet, ada jantung, tapi itu semua saya nikmati saja sebagai karunia-Nya.

Tapi saya percaya satu hal: tidak ada orang mati sebab tongseng, tidak ada orang mati sebab rokok, tapi orang mati sebab kersane Gusti Allah. Santai kok saya. Yang tidak merokok, tidak makan tongseng, mati muda juga banyak. Percaya saja sama Gusti Allah.

Uripku tak gawe sumeleh, anytime Tuhan memanggil saya, saya siap.

Doa saya sederhana, Tuhan, kalau Tuhan masih menganggap saya penting untuk dunia ini, maka kasih saya umur panjang. Tapi kalau situ sudah menganggap saya di dunia ini gak ono gunanecepet-cepet selesaikanlah.

Gampang kok. Itu yang saya bilang berserah, sumeleh. Jadi gak ada takutnya. Wong aku niate ming ngamal apik marang liyan.

Orang itu berada di dalam rahasia hidup yang tidak terdeteksi. Lagi ngomong seperti sekarang ini, tiba-tiba juga bisa mati.

Kalau ditanya, cita-citamu opo Tet. Saya jawab, mati ora ngerpotin banyak orang. Sederhana kok.” (Butet bermonolog sendiri)

Semoga Mas Butet selalu sehat dan bisa terus ikut merawat keberagaman lewat monolognya.

Amin. Semoga kita dalam hiudp ini bermanfaat dan benar. []

BACA: Mereka yang Sukses Menjalani Terapi Menulis

BACA: Kisah Semangkuk Toleransi

BACA: Kisah Djaduk Ferianto dan Suara Pujian di Masjid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.