Malin Kundang Itu Bernama Indrian Koto

Oleh: Khumaid Akhyat Sulkhan

GANGSIPUT.COM – LELAKI gondrong berkulit sawo itu sudah menyukai dunia sastra sejak belia. Dulu, sewaktu masih tinggal di tanah kelahirannya, Kenagarian Taratak, Pesisir Selatan, Sumatra Barat, dia memoles keterampilan menulisnya di buku catatan. Entah milik teman sekolah atau miliknya sendiri.

Sekarang, masih sama. Dia tetap menulis. Tapi tak lagi di buku catatan atau sobekan kertas. Bait sastra puisi-puisi dan cerita pendeknya telah bertebaran di berbagai media massa. Kini, dia telah menjelma menjadi salah satu tokoh sastrawan muda Minangkabau yang cukup diperhitungkan.

Adalah Indrian Koto (36). Dia kini jauh dari kampung halamannya. Dia telah menambatkan kapal hidupnya di Yogyakarta, menjadi seorang penyair sekaligus menekuni industri perbukuan.

Bersama istrinya yang juga penyair, Mutia Sukma (31), serta dua anaknya Rinai Yasmin dan Nyala Cahaya, mereka menempati sebuah rumah di Jalan Wijilan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta. Di rumah itu, Indrian mengelola penerbitan dan toko buku bernama Jual Buku Sastra atau yang biasa dikenal JBS.

Pada suatu sore, saya berkesempatan mampir ke rumah sepasang penyair itu. Tepatnya pada Rabu sore (18/12/2019). Pertemuan saya dengan Indrian bisa dibilang sebuah keberuntungan. Diajak teman.

Begini, sore itu teman saya akan bertemu Mutia, istri Indrian. Mereka sudah membuat janji beberapa hari sebelumnya. Karena saya sendiri sudah sejak lama ingin ngobroldengan Indrian –setidaknya sejak saya membaca puisinya yang berjudul Yogyakarta Kelahiran Kedua– maka menolak ajakan teman saya adalah kerugian.

Indrian dan Mutia adalah pasangan penyair yang telah membuktikan kemampuannya masing-masing sebagai penyair yang patut diperhitungkan. Keduanya pernah sama-sama masuk 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa yang sebelumnya dikenal dengan nama Khatulistiwa Literary Award(KLA).

Jadi fisik maupun pengetahuan saya telah menjadi Malin Kundang

Indrian koto

Waktu itu, kumpulan puisi Mutia Sukma yang terhimpun dalam Pertanyaan-Pertanyaan Tentang Dunia dan Pledoi Malin Kundang milik Indrian Koto berhasil masuk 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa 2017.

Ada cerita menarik yang terselip dalam puisi Indrian berjudul Pleidoi Malin Kundang, yang itu berkaitan erat dengan kisah Malin Kundang dan perantauan ayahnya Nyala. “Itu (Pleidoi Malin Kundang) bahan refleksi saya sebagai perantau,” katanya.

Pengakuan Indrian itu membuat saya tergelitik bertanya lebih jauh tentang Malin Kundag. Mengapa Indrian memakai perumpamaan Malin Kundang? Bukankah Malin Kundang dinarasikan sebagai sosok yang durhaka, melupakan kampung halaman juga ibunya?

“Pertama ya karena identitas (Sumatra Barat),” begitu jawabnya, singkat.

“Kalau kita bicara dalam psikologi modern, tafsir Malin Kundang akan berbeda. Merantau itu, kan persoalannya selalu tentang melupakan atau kembali. Nah, kalau saya sendiri, pada akhirnya memandang kampung dengan sudut pandang yang berbeda hari ini.” Imbuhnya.

“Dalam mitologi ini kan ibarat Malin Kundang. Saya tidak lagi harus sepaham dengan apa yang saya yakini dulu. Jadi fisik maupun pengetahuan saya telah menjadi Malin Kundang.” Susulnya kemudian.

Saat obrolan mengenai Malin Kundang dan perantauan, ini, beberapa kali Indrian menyinggung soal perubahan yang dia alami dan dapatkan setelah jauh dari kampung halamannya. Misalnya, akses terhadap buku sastra.

Indrian mengajak saya masuk ke sekedikmasa lalunya. Sewaktu sekolah, Indrian mengaku kesulitan mendapati literatur sastra. Dia lebih banyak mendapati buku-buku komik seperti karya Tatang Suhenra, ketimbang buku-buku puisi atau novel.

Pun rujukan bacaan sastra hanya dari majalah Horison dan buku antologi yang disusun dari hasil-hasil lomba. Sangat minim memang. Maklum, Indrian muda saat itu tinggal di kampung yang untuk mengakses buku-buku sastra sangat susah.

Itu pun Indrian kudu melegakan waktu pergi ke kota. Meski terkadang Indrian sampai harus bolos sekolah hanya untuk membaca komik atau majalah.

Saya lalu iseng menanyakan apakah awal mula Indrian menulis puisi atau cerpen adalah untuk nyepik cewek. Sebab, di zaman saya sekolah atau yang sekarang dikenal dengan istilah Gen Z, banyak anak muda yang mulai suka puisi karena alasan itu.

Indrian menggeleng. “Memang saya sering menulis puisi-puisi cinta, tetapi saya sudah menyukai dunia sastra jauh sebelum saya jatuh cinta,” jawabnya.

Indrian Koto – sosok sastrawan muda dari Minangkabau. FOTO: Jantan Putra Bangsa.

Kritik Sosial

Ketika berkesempatan kuliah di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Indrian menulis kembali puisi-puisi yang pernah ia tulis semasa remaja. Kala menulis ulang itulah Indrian merasakan sesuatu yang berbeda.

“Perspektif saya sudah lebih luas, jadi puisi-puisi yang mungkin dulu sekadar puisi cinta, sekarang bisa saya tulis ulang dengan tema yang lebih universal,” ujarnya.

Bagi Indrian, puisi adalah hasil kerja yang mengandalkan kepekaan sosial dan kultural. Misalnya, pada puisi Yogyakarta: Kelahiran Kedua, Indrian menulis Yogyakarta dalam konteks ruang dengan segala kompleksitas persoalannya. 


dari apa sebuah kota dibangun? rumah susun, pinggir kali, kecemasan para penganggur/kota dikepung minimarket 24 jam/kedai malam impor, kriuk ayam goreng diantar ke depan pintu/di kota ini aku merasa dilahirkan kembali/berebut tempat dengan kecemasan


Sejumlah pertanyaan yang Indrian lontarkan lewat puisi itu, adalah sebuah kegelisahan. Kegelisahan atas persoalan struktural yang masih saja terasa hingga hari ini.

Yah… Melihat maraknya pembangunan saat ini, Indrian cemas. Baginya, pembangunan telah bergeser dari tujuan sesungguhnya, tidak memberikan kenyamanan dan memanusiakan manusia.

“Pembangunan mall malah membuat macet, pemerintah tidak memiliki solusi dan malah tunduk pada pemodal,” urai Indrian.

Dalam menyuarakan kritik, Indrian memang lebih sering menuangkannya dalam bentuk puisi ketimbang cerpen. Misalnya dalam bait-bait puisinya yang mengkritisi soal pembangunan itu.

Bagi ayah Rinai, puisi jauh lebih lentur dalam merefleksikan perasaan penulisnya. Berbeda dengan cerpen yang penuh beban intrinsik karena harus ada tokoh, latar, dan tetek bengeknya.

Tapi, tak ada kewajiban menjadikan puisi sebagai kritik sosial. “Itu tidak wajib. Itu hak setiap orang. Tapi setiap penyair, saya kira punya kepekaan pada kejadian di sekitarnya,” katanya.

Sore itu, Indrian tak hanya melewatinya dengan saya. Serampung dengan saya, Indrian menyempatkan menemani putrinya menggambar. Dan saya juga melihatnya masih sempat melanjutkan kerjaannya di JBS.

Yah… Di Kota Yogyakarta, Indrian Koto —sebagaimana dalam penggalan puisi Pledoi Malin Kundangyang ia tulis— telah memetakan nasib dan mengaitkan masa depannya, tanpa sisa. []


Khumaid Akhyat Sulkhan adalah pemuda kelahiran Batang yang suka menulis essai dan cerita pendek

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.