Mitos Kopi Organik: Menggenjot Pasar atau Memperbaiki Lingkungan

Oleh: Mega Dwi Anggraeni

GANGSIPUT.COM – TUBUH Sapri masih bersandar di bilik depan rumah panggung milik Ambu Apinah, salah satu warga Baduy Luar, di Kampung Balingbing, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Seketika bibirnya menyunggingkan, senyum kala rintik gerimis mulai turun. Tangannya menengadah ke langit, memastikan. Senyumnya langsung merekah saat tangannya basah.

Siang itu, minggu kedua Desember 2020, Sapri, salah satu warga Adat Baduy Dalam, senang karena hujan telah turun. Katanya, tanaman padinya di huma, bisa mendapat asupan air dan akan tumbuh hingga panen datang.

Bagi Sapri dan warga Baduy lainnya, menanam dan memanen padi adalah sebentuk ibadah sesuai kepercayaan Sunda Wiwitan yang mereka anut. Biasanya, mereka menanam pada awal musim penghujan atau bulan Oktober. Lalu pada bulan Maret, mereka mulai panen.

Tapi belakangan, musim tidak menentu. Kadang kemarau berlangsung terlalu lama. Akibatnya, padi terlambat tumbuh. Padahal, Sapri masih mempertahankan pengolahan ladang secara alami, seperti kebiasaan nenek moyangnya.

Ngaleuweungkeun, begitu warga Baduy menyebutnya. Adalah tradisi bercocok tanam secara alami yang mereka lakoni secara turun-temurun. Ngaleuweungkeun berarti menghutankan kembali. Prosesnya membutuhkan lima sampai tujuh tahun. Tujuannya, mengembalikan unsur hara pada tanah. Sembari menunggu, mereka bercocok tanam di lahan baru.

“Tapi ya, kalau kemarau panjang, padi akan terlambat tumbuh,” ujar Supri.

Sapri dan beberapa kerabatnya dari Baduy Dalam, berjalan keluar dari huma atau ladang di Kampung Adat Baduy. FOTO: Mega Dwi Anggraeni

Jika sudah begitu, tak banyak yang bisa Sapri lakukan. Salah satu ikhtiarnya, Sapri memberi pupuk alami agar padinya tetap tumbuh baik.

Pupuk alami, begitulah warga Baduy dalam bercocok tanam. Bahannya dari cuka aren. Proses pembuatannya dari nira. Beberapa orang di Baduy Dalam, biasanya menyimpan nira dalam bambu untuk diminum. Nira yang terlalu lama di simpan dalam bambu, akan menjadi cuka dengan sendirinya. Dan ketika rasanya sudah menjadi asam, fungsinya pun berubah menjadi pupuk.

Sebelum air nira yang telah menjadi cuka disiramkan ke huma, mereka mencampurnya terlebih dahulu dengan daun mengkudu, atau kulit jeruk yang telah halus. “Selain berfungsi sebagai pupuk, larutan itu juga untuk menangkal hama,” ujap Sapri.

Naiknya Suhu Bumi

Sapri adalah satu dari jutaan petani yang merasakan dampak meningkatnya suhu bumi. Perubahan iklim yang menurut penelitian panjang Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, sudah terjadi sejak tahun 1880.

Para ilmuwan NASA yang tergabung di Goddard Institute for Space Studies (GISS) juga mencatat, suhu global di bumi terus meningkat sekitar 0.8° celcius sejak 1880. Dengan laju pemanasan kira-kira 0.15° hingga 0.20° celcius per dekade. Dan pada Maret 2016 lalu, dinyatakan sebagai bulan terpanas sepanjang 137 tahun terakhir.

Sementara Lembaga Pemerintah Amerika Serikat lainnya, The National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), juga mencatat, angka kenaikan suhu global mencapai 1.2° celsius lebih tinggi daripada rata-rata suhu bumi sepanjang abad ke-20.

Menurut lembaga yang mengamati kondisi laut dan atmosfer ini, perubahan iklim akan berdampak pada sumber air dan pangan karena kekeringan dan musim yang tidak menentu. Selain itu, gelombang panas di daratan Eropa dan Amerika semakin sering terjadi. Dan penyakit infeksi tropis akan meluas hingga daerah subtropis.

Naiknya suhu panas bumi tak hanya dirasakan orang-orang di daratan Eropa dan Amerika, tapi global. Semua merasakan. Seperti Sapri dan masyarakat Indonesia lainnya.

Badan Meteorologi, Klimatologi, Dan Geofisika (BMKG), di laman Perubahan Iklim menyebut, Anomali Suhu Udara Rata-rata Tahunan, pada 2016 merupakan tahun terpanas di wilayah Indonesia secara keseluruhan.

Sumber laman BMKG.

Nilai anomalinya sebesar 0.8 °C sepanjang periode pengamatan 1981 hingga 2020. Dan pada 2021, menempati urutan ke-8 tahun terpanas dengan nilai anomali sebesar 0.4 °C, sementara tahun 2020 dan 2019 berada di peringkat kedua dan ketiga dengan nilai anomali sebesar 0.7 °C dan 0.6 °C.

Bergantung pada Alam

Selain Sapri, dampak naiknya suhu panas bumi juga dirasakan petani kopi. Paling tidak itu yang Erwin, seorang petani kopi dari Kampung Palintang, Desa Panjalu, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, alami.

Erwin merupakan satu dari sekian banyak petani kopi yang mengalami gagal panen massal pada 2017 lalu. Ini terjadi lantaran cuaca ekstrem pada 2016. Katanya, ribuan bakal buah kopinya berguguran karena hujan deras yang turun berhari-hari. Alih alih bisa menjual dan mendapat untung banyak dari hasil panen 1.400 batang pohon kopinya seperti biasanya, Erwin hanya bisa menikmati hasil panen untuk kebutuhan kafeinnya sendiri.

“Dari 1.400 pohon, waktu itu hanya dapat 80 kg cherry merah,” ujarnya getir.

Itu pun tak semua berhasil dia olah menjadi kopi siap seduh. Jika dikurangi penyusutan selama proses pengeringan hingga proses roasting atau sangrai, Erwin hanya mendapat sekitar 5 kg kopi. Padahal, jika kondisi cuaca bagus, Erwin bisa mendapatkan lebih dari 1 ton cherry merah.

Dalam perawatan, Erwin memilih cara yang sederhana. Dia memanfaatkan pupuk kandang dari peternakan kerabat dan saudaranya. Tak jemu, dia rutin membersihkan kebunnya dari daun pinus yang menutupi tanah. Dan sisanya, bapak satu anak ini, bergantung pada kebaikan alam.

“Menggantungkan harapan pada kebaikan alam,” ujar Erwin yang sudah memulai menggarap kebun kopi sejak 2014.

Setiap panen, Erwin mendapatkan hasil panen yang jumlahnya tak pernah sama. Tak menentu, selalu berubah-ubah. Tapi dia tak berniat mengubah pola perawatannya, demi meningkatkan dan menstabilkan hasil kebunnya. Apalagi kalau dia harus mengikuti trend pasar kopi.

Sebagai petani sekaligus roastery, Erwin tahu tren pasar kopi mulai melirik kehadiran kopi organik. Menurutnya, jika mengikuti standar pengelolaan kebun secara organik 100 persen, bisa dipastikan sebagian besar waktunya habis di kebun. Padahal, dia masih harus mengurus usaha jasa roastingnya, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bagi Erwin, hasil berkebunnya sudah cukup. Meski tidak dalam jumlah besar, tapi dia sudah memiliki pasar sendiri. Biasanya, Erwin menjual kopi dalam bentuk green beans dengan berbagai proses pengeringan. Sebagian lagi, dia jual dalam bentuk roasted beans dengan kemasan dan labelnya sendiri, Palintang Enjolseng.

Harga jualnya bervariasi, tergantung proses pengeringan. Untuk green been proses honey, dibanderol Rp.120ribu per kg. Sementara yang sudah disangrai dihargai Rp.70ribu per 200 gram.

“Yang saya peroleh dari kebun sudah cukup,” ujar Erwin dan Erwin berharap, kopinya bisa terus dipanen setiap tahun.

Program Pertanian Organik

Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI), pada 2017 mengeluarkan data yang menyebut, hingga 10 tahun mendatang, produksi kopi di Indonesia ditargetkan mencapai 900 ribu ton hingga 1.2 juta ton per tahun. Dan ini sejalan dengan meningkatnya permintaan pasar kopi di dalam dan luar negeri.

Untuk mendukung kondisi tersebut, Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI, pada 2015, mencanangkan Program Pengembangan 1.000 Desa Pertanian Organik. Salah satu targetnya, mengorganikan tanaman perkebunan kopi di beberapa provinsi, termasuk Jawa Barat. Harapannya, mampu meningkatkan mutu kopi, memperbaiki lahan kritis, serta meningkatkan kesejahteraan petani.

Koordinator Fungsional Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan Pendamping Desa Organik, UPTD-Balai Perlindungan Perkebunan, Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, Maria Wulan Purwiji Putri, mengatakan, ada delapan kelompok tani dari delapan desa di enam kabupaten yang tercatat sebagai peserta program.

Selama empat tahun sejak 2016 lalu, para peserta mendapat beragam pelatihan. Mulai dari membuat dokumen sistimutu, hingga pendampingan sertifikasi organik. Menurut Wulan, hasil pelatihan sudah berbuah manis. Dia mengklaim pohon kopi dari desa organik bisa lebih tahan terhadap perubahan iklim; buahnya sehat; jumlahnya lebih banyak; dan bertambah setiap tahun.

“Sekarang satu pohon bisa menghasilkan 5 kg kopi, lho,” kata Wulan.

Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat, 2019 lalu, jumlah produksi kopi organik dari delapan kabupaten di Jawa Barat, lebih dari 47 ton, meningkat berlipat ganda di banding 2017.  Wulan memprediksi jumlah itu akan meningkat lagi di tahun berikutnya, lantaran para peserta berencana memperluas perawatan secara organik. Apalagi, lanjutnya, pemerintah juga berencana menambah jumlah peserta program pada 2020.

Dengan adanya peningkatan jumlah, ditambah sertifikasi organik SNI dan EU dari Lembaga Sertifikasi Organik (LSO) PT I-skol Agridaya Internasional, Wulan mengaku, pembeli mulai berdatangan. Terutama dari pasar Eropa dan Asia, salah satunya Korea. Dan pada 2019, pembeli dari negeri Ginseng itu memborong tiga ton kopi Gunung Halu dari salah satu peserta di Kabupaten Bandung Barat, yaitu Kelompok Tani KSM Preanger Specialty. Hanya saja, belum semuanya kopi organik karena masih terbatasnya lahan.

Salah satu syarat yang ditentukan Direktorat Jenderal Perkebunan, untuk pengembangan desa organik berbasis komoditas perkebunan, peserta harus memiliki hamparan pohon kopi di lahan seluas 15 hektar. Tapi sebagai langkah awal pengembangan dilakukan di lahan seluas dua hektar atau sekitar 2.000 pohon kopi.

“Mereka, 2020, tidak bisa memenuhi pasar lokal. Karena 10 ton kopi organik sudah dipesan dan akan dikirim ke Eropa,” kata Wulan.

Harga kopi organik dari desa dampingannya ini, dibandrol  sesuai proses pengeringan. Misalkan untuk proses honey, dihargai Rp.120ribu hingga Rp.125ribu per kg. Tapi menurut Wulan, para petani lebih antusias untuk mengeksport kopi, karena lebih menguntungkan.

“Karena harga jual pasar lokal lebih mahal, siapa yang mau beli? Lagi pula yang menyukai organik-organik ini kan orang Eropa,” imbuhnya.

Pupuk Alami

Jauh sebelum Program Pengembangan 1.000 Desa Organik, lahir, seorang petani mandiri dari Desa Sukajaya, Lembang, Jawa Barat, Yoseph Kusniyanto, sudah berupaya menjaga kestabilan lingkungan kebun kopi garapannya, menggunakan pupuk cair hasil fermentasi kotoran sapi dan darah ayam.

“Keseimbangan itu harus kita jaga baik-baik, karena kita selalu mengambil massa yang banyak dari hutan,” ujarnya.

Lelaki yang kerap dipanggil Abah Yoseph itu, bercerita, ikhtiarnya bermula sejak dia mulai tertarik belajar menanam kopi pada 2006. Kebetulan dia mendapatkan beberapa bibit kopi dari temannya. Bibit itu lalu dia tanam di rumah karena dia ingin mempelajarinya.

Tiga tahun kemudian, Abah Yoseph membagikan bibit dari pohon kopi di rumahnya ke teman sesama petani. Waktu itu, ada 50 ribu bibit kopi yang dia bagikan, tapi hanya sekitar 30 ribu yang tertanam dan tumbuh. Sementara untuk kebutuhannya sendiri, Abah Yoseph mengaku hanya menanam 20 ribu bibit di tiga lokasi, Jayagiri, Komando, dan Sukajaya.

Abah Yoseph sedang memeriksa salah satu pupuk fermentasinya yang terbuat dari kotoran sapi, di rumahnya. FOTO: Mega Dwi Anggraeni.

“Waktu itu, saya memilih dua varietas kopi, Typica dan Caturra. Dua varietas ini jarang dikembangkan oleh petani,” ujarnya.

Typica dan Caturra, menurut Abah Yoseph, memiliki kelebihan dan kekurangan. Caturra, merupakan varietas yang tidak tahan karat daun tetapi tahan nematoda. Sementara Typica, sebaliknya. Dia tahan karat daun, tetapi tidak tahan nematoda.

Abah Yoseph sadar, tanah kebun kopinya banyak mengandung belerang, karena lokasinya dekatan kawah Gunung Tangkuban Parahu. Dia dan beberapa temannya lalu bereksperimen, dan menemukan cara ampuh untuk memberikan nutrisi sesuai kondisi tanah dan kebutuhan pohon kopinya.

“Caranya dengan meramu cairan hasil fermentasi kotoran sapi dengan beberapa jenis tumbuhan dan rempah,” ujar Abah Yoseph.

Cairan pupuk kemudian diperbanyak. Abah Yoseph menyimpan lebih dari lima drum plastik di rumahnya. Satu drum berisi cairan fermentasi kotoran sapi sebagai bibit utama. Sementara sisanya berisi fermentasi yang sudah dicampur berbagai tumbuhan dan rempah, sesuai kebutuhan. Misalnya untuk pengisian buah, Abah Yoseph menggunakan pupuk berkalium tinggi hasil fermentasi kotoran sapi dengan gedebog pisang.

Sementara untuk menambahkan fosfor pada pohon kopi, Abah Yoseph memanfaatkan campuran darah ayam dengan kotoran dari usus ayam. Katanya, selain memiliki kandungan fosfor, larutan itu juga memiliki mikroba pengurai yang baik untuk tanah. Jadi, selain drum yang berisi fermentasi kotoran sapi, Abah Yoseph juga menyimpan puluhan jerigen berisi darah ayam di halaman belakang rumahnya.

“Apapun pupuknya, akan bekerja dengan baik jika ada pengurainya. Dan darah ayam ini merupakan mikroba pengurai yang paling baik. Apapun yang masuk ke darah ayam ini akan diuraikan ke bentuk hayatinya,” terang Abah Yoseph sambil menunjuk ke sejumlah jerigen di halaman belakang rumahnya.

cairan-cairan ajaibnya itu, selain untuk merawat pohon kopinya, juga kerap Abah Yoseph siramkan di hutan tempat pohon kopinya tumbuh, serta di lingkungan tempat tinggalnya. Jika ada yang meminta, Abah Yoseph pun memberikannya dengan senang hati.

Meski cara merawat kebun tanpa zat kimia, Abah Yoseph tidak pernah mengakui pola perawatannya merupakan organik. Baginya, organik hanya istilah untuk menaikkan pasar. Lantaran saat ini, apapun yang berlabel organik bisa laku di pasaran.

“Yang saya lakukan hanya untuk menjaga keseimbangan alam dan lingkungan. Dan berharap alam akan membalas upayanya dengan memberikan hasil yang lebih baik,” ujarnya.

Alhasil, banyak yang suka dengan kopi Abah Yoseph. Sejumlah negara seperti, Jepang, Abu Dhabi, dan Amerika Serikat, adalah pembeli tetap kopinya. Sementara pasar lokal, ABah Yoseph hanya menerima pesanan dari Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya.

Abah Yoseph pun tak mau mengambil risiko dengan menambah jumlah pasar. Dia khawatir, bertambahnya jumlah pembeli membuat kualitas kopinya tidak terjaga. “Untuk memenuhi permintaan mereka pun saya sudah kewalahan,” akunya yang hanya dibantu 10 orang untuk merawat kebun, memproses kopi, hingga memilah kopi sebelum dilempar ke pasar.

Soal harga, kopi milik Abah Yoseph pun lebih mahal ketimbang kopi lainnya. $11.5 per kg untuk pembeli luar. Dan Rp.135ribu per kg hingga Rp.190ribu per kg untuk pasar lokal.  

Haru Prianka, Co-Founder Satu Pintu Coffee, di Bandung merupakan salah satu pelanggan Abah Yoseph. Sejak satu tahun lalu, dia menjadikan Typica dan Caturra Lembang sebagai prodak tetap di coffeeshopnya.

“Abah Yoseph berbisnis tidak hanya sekadar mengejar materi,” kata Haru.

Organik Vs Kimia

Adi Taroepratjeka, Pengamat Kopi, mengatakan, pada umumnya mayoritas petani kopi di Indonesia menggunakan pupuk alami untuk kebun kopinya. Hal itu dilakukan karena mereka tidak memiliki akses untuk mendapat pupuk di pasaran. Harganya terlalu tinggi.

Sebenarnya penggunaan pupuk kimia tidak akan banyak berpengaruh pada pohon kopi. Apalagi, perlu rutin memupuk agar pohon tetap berbuah. Baik dengan pupuk alami atau pupuk kimia. Menurutnya yang perlu diperhatikan adalah takaran.

“Apa sih sebenarnya definisi organik? Kalau tanpa kimia, semua yang ada di dunia ini kimia. Kalau mengacu pada pupuk buatan dan alami, kan kotoran ternak sebelum jadi pupuk pun dibuat, diolah juga untuk jadi pupuk,” katanya.

Meski memanfaatkan bahan alami, namun sampai sekarang petani kopi tidak bisa menyebutkan kopinya organik atau tidak. Karena menurut Adi, organik sebenarnya hanya sebuah proses sertifikasi dengan biaya tinggi. Apalagi, lanjut Adi, sertifikasi harus diperbaharui setiap tahun.

“Jangankan melakukan sertifikasi, membeli pupuk aja masih sulit,” imbuhnya.

Menurutnya, warga negara maju memang sangat memperhatikan barang yang akan mereka makan dan minum. Seperti apa, seberapa bagus, seberapa sehat, seberapa layak produknya, seberapa besar dampaknya pada kerusakan alam, dan lain sebagainya. Namun di Indonesia, hanya segelintir saja yang memperhatikan hal tersebut.

Pun Adi menilai, tidak ada yang salah dengan kopi organik meski peluang pasarnya di Indonesia masih kecil.  Dia juga tidak bisa menjamin rasa kopi oranik akan lebih enak ketimbang kopi unorganik. Tapi hal penting yang harus adalah validasi label organik dan harga kopi berlabel organik.

“Kalau harganya sama dengan harga kopi lain, ngapain harus sertifikasi organik?” ucapnya.

Peneliti Budidaya Kopi dari Institut Perkebunan (INSTIPER) DIY Yogyakarta, Tri Nugraha, mengungkapkan hal yang senada. Menurutnya, penggunaan pupuk kimia tidak akan merusak lingkungan dengan catatan harus diselingi dengan pupuk alami supaya tanah tetap gembur.

“Toh, akar itu kan sebenarnya tidak bisa memilih mana pupuk alami dan mana pupuk kimia. Yang diserap akar kan ion hasil pupuk organik maupun inorganik,” katanya.

Merawat kopi dengan cara organik pun, menurutnya bukan solusi menghadapi perubahan iklim. Apalagi, sampai saat ini Tri mengaku belum pernah menemukan literatur yang menyebutkan kopi organik lebih tahan terhadap perubahan iklim ketimbang kopi unorganik.

Dampak perubahan iklim pada budidaya kopi adalah perubahan musim panen buah, yang terjadi karena tak menentunya musim penghujan dan kemarau. Dalam prosesnya, pohon kopi akan menghasilkan kuncup bunga, atau bakal bunga kopi akan muncul pada akhir musim penghujan. Setelah bertahan sekitar satu hingga dua bulan, bakal bunga tersebut, mekar pada musim kemarau. Dan ketika mendapat kiriman hujan, baru muncul buah.

“Jika musim penghujan masih datang pada bulan Oktober hingga Maret dan musim kemarau datang pada April hingga September, panen buah kopi akan tetap terjadi pada musim kemarau. Tapi kemungkinannya, panen akan ikut berubah jika musim penghujan dan kemarau berubah,” jelasnya.

Meski begitu, Nugraha mengatakan, situasi itu tidak akan berpengaruh pada kondisi buah. Menurutnya, baik dan buruknya kualitas kopi tergantung pada kultur teknik petani. Mulai dari rajin memupuk, memangkas dan membersihkan kebun untuk menghindari hama dan penyakit yang bisa menyerang tanaman.

Pun yang perlu diprhatikan dalam perubahan iklim, ada beberapa hama dan penyakit yang bisa berkembang biak dengan pesat ketika suhu bumi menghangat di daerah yang memiliki kelembapan tinggi. Salah satunya, jamur Hemileia vastatrix, penyebab penyakit karat daun.

Pengerek buah, salah satu hama buah kopi. FOTO: Mega Dwi Anggraeni.

“Bisa mengganggu produksi fotosintesis, hingga pohon tidak bisa berbuah. Seperti yang terjadi ketika awal Belanda menanam kopi Arabika di Indonesia,” katanya.

Dalam sejarahnya, karat daun pernah membunuh pohon kopi arabika yang ditanam Belanda di dataran rendah di Indonesia. Ketika itu, hanya pohon kopi arabika di ketinggian lebih dari 1.000 mdpl yang masih dapat bertahan. Akhirnya, Belanda mengganti kopi di dataran rendah dengan menanam Robusta karena yang lebih tahan.

Namun kata Tri, kondisi tersebut sebenarnya dapat diminimalisir dengan rutin memangkas daun dan ranting pohon, sebagai antisipasi penyebaran penyakit. Daun yang sudah terdeteksi terkena penyakit, harus dipangkas dan dibakar untuk mematikan sporanya.

“Atau petani juga bisa menanam kopi yang varietasnya bisa bertahan terhadap hama dan penyakit sekaligus suhu dan kelembapan udara,” ucapnya.

Menanam varietas kopi yang bisa bertahan terhadap hama, penyakit, suhu, dan kelembapan udara bisa menjadi solusi untuk para petani kopi baru. Sementara petani kopi yang sudah bertahun-tahun menggarap kebun seperti Erwin, bisa mengikuti pola yang sudah dilakukan Abah Yoseph.

Terlepas organik dan unorganik hanyalah bungkus, menjaga alam agar tetap lestari adalah kewajiban bersama. Karena alam akan membalas apa yang manusia lakukan. Seperti yang Abah Yosep lakukan, menjaga keseimbangan alam dan lingkungan dan berharap alam akan membalas upayanya dengan memberikan hasil yang lebih baik. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.